Guru dan Murid Masih Trauma, KBM di Palu Belum Optimal

TrubusNews
Astri Sofyanti
09 Okt 2018   18:45 WIB

Komentar
Guru dan Murid Masih Trauma, KBM di Palu Belum Optimal

Willem Rampangilei, kepala BNPB (kedua dari kiri). (Foto : Trubus.id/ Astri Sofyanti)

Trubus.id -- Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Willem Rampangilei mengungkapkan, pascagempa dan tsunami yang melanda Sulawesi Tengah (Sulteng) membuat Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) di hampir seluruh sekolah di wilayah di Sulteng terhenti.

Namun kini Willem mengatakan, di hari ke-11 pascabencana, aktivitas belajar mengajar sudah mulai berjalan meski diakui belum maksimal. Kondisi ini terjadi lantaran masih banyak guru dan murid yang masih mengalami trauma atas peristiwa bencana yang baru saja mereka alami.

Baca Lainnya : Pemulihan Trauma Pascagempa Penting untuk Cegah Kepribadian Buruk

"Guru-guru sebagian terdampak bencana. Jadi masih trauma akibat gempa, termasuk murid muridnya. Selain itu, para orangtua tidak mengizinkan anak-anak kembali ke sekolah dulu," kata Willem di Graha BNPB, Pramuka, Jakarta Timur, Senin (9/10).

Lebih lanjut dikatakan Willem, jika dilihat dari aspek fasilitas, banyak sekolah yang mengalami kerusakan sehingga KBM harus dialihkan sementara ke tenda darurat. Pihaknya menyatakan, demi menunjang KBM, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sudah mendirikan 240 tenda darurat sesuai standar Badan Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNICEF).

Baca Lainnya : Jerman Siap Bantu Penanganan Bencana Gempa di Sulteng

"100 tenda sudah terpasang dan 140 tenda Insyallah hari ini bisa terpasang semua," lanjutnya lagi.

Terkait jumlah korban bencana, Willem menyampaikan, berdasarkan data per Senin (8/10), sebanyak 22 siswa meninggal dunia, 33 siswa masih hilang, dan 1 siswa lainnya mengalami luka berat. Sementara untuk korban guru, sebanyak 22 orang meninggal, 14 orang masih hilang, dan 2 orang masih menjalani rawat inap. [RN]

 

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan: