Menebak Lokasi Baru Tempat Tinggal Warga yang Terdampak Likuifaksi

TrubusNews
Astri Sofyanti
08 Okt 2018   16:45 WIB

Komentar
Menebak Lokasi Baru Tempat Tinggal Warga yang Terdampak Likuifaksi

Perumahan Balaroa, Kota Palu yang terkena dampak paling parah fenomena likuifaksi. (Foto : Trubus.id/ Thomas Aquinus)

Trubus.id -- Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, sebanyak 65.733 rumah rusak akibat gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah. Sebagian besar kerusakan bangunan akibat terkubur bersama lumpur akibat fenomena likuifaksi. Kawasan yang terkena dampak paling parah karena fenomena ini adalah wilayah Petobo dan Balaroa yang saat ini kondisinya rata dengan tanah.

Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, di Kelurahan Petobo ditemui ribuan rumah yang rusak akibat fenomena likuifaksi. Wilayah tersebut tertutup lumpur seluas 180 hektar.

"Perkiraan bangunan terdampak sebanyak 2.050 unit," terang Sutopo, Senin (8/10).

Baca Lainnya : Tiga Fakta Kenapa Kampung Petobo di Palu Tak Lagi Layak Huni

Selain Petobo, Sutopo mencatat kerusakan parah juga terjadi di Perumnas Balaroa, Kota Palu. Jumlah perkiraan bangunan rusak di wilayah ini mencapai 1.045 unit dengan luas area terdampak 47,8 hektare.

Dua kawasan ini nantinya tidak akan jadi hunian lagi. Untuk itu, warga yang bermukim di sana akan direlokasi guna mencegah petaka yang sama terulang lagi.

"Relokasi sudah pasti. Tidak mungkin membangun kembali bangunan yang terkena likuifaksi baik di Petobo dan Balaroa. Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) dan Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) akan mengkaji serta membuat tata ruang (master plan) untuk membuat kembali," kata Laksamana Muda, Achmad Jamaludin sekaligus Ketua Sub Satgas Pendampingan Pusat Bencana Gempa Sulteng, saat ditemui di Gedung Graha BNPB, Pramuka, Jakarta Timur, Senin (8/10).

Lebih lanjut, Jamaludin mengatakan bahwa Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) akan merancang gambar bangunan guna menyiapkan lahan untuk membangun kembali rumah warga yang hancur akibat fenomena likuifaksi.

"Kami masih membicarakan ini, tapi sampai saat ini lokasi untuk dibangun kembali belum ditentukan," terangnya lagi.

Baca Lainnya : Ada di Jalur Sesar Palu Koro, Kerusakan di Perumahan Balaroa Paling Parah

Selain itu, pihaknya mengatakan bahwa pembangunan hunian sementara masih terus dibahas dalam rapat. Diproyeksikan, pembangunan hunian sementara akan berlangsung selama dua bulan.

Sedangkan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Willem Rampangilei mengatakan, kawasan yang terkena dampak likuifaksi, yakni di Kelurahan Petobo dan di Balaroa tidak akan dijadikan kuburan massal. Namun keputusan untuk menjadikan wilayah itu sebagai monumen peringatan, diserahkan ke Pemerintah Daerah.

"Ada wacana wilayah yang terdampak likuifaksi akan dijadikan monumen, tapi semua itu keputusan Pemerintah Daerah (Pemda) nanti, ini masih dibicarakan," ungkap Willem dikesempatan yang sama. [RN/SN]

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: