Tiga Fakta Kenapa Kampung Petobo di Palu Tak Lagi Layak Huni

TrubusNews
Astri Sofyanti | Followers 1
08 Okt 2018   12:00

Komentar
Tiga Fakta Kenapa Kampung Petobo di Palu Tak Lagi Layak Huni

Kawasan Petobo yang rata dengan tanah akibat likuifaksi. (Foto : Trubus.id/ Thomas)

Trubus.id -- Usai diguncang gempa bumi bermagnitudo 7,4 pada Jumat (28/9) lalu, kawasan Petobo di Sulawesi Tengah menjadi wilayah terdampak paling parah. Lumpur yang keluar dari dalam tanah atau likuifaksi membuat permukiman di Petobo hancur bak ditelan bumi.

Karena likuifaksi, tak ada rumah atau bangunan tersisa di wilayah tersebut. Warga yang selamat hanya bisa pasrah harus kehilangan tempat tinggal serta sanak saudara. Akibat bencana tersebut, Petobo tak bisa lagi dihuni masyarakat. Ini fakta kenapa Petobo tak bisa dijadikan permukiman lagi.

1. Tak bisa didirikan bangunan lagi

Kehancuran Petobo membuat wilayah ini tak bisa lagi dihuni sehingga warga harus direlokasi. Penyebabnya adalah, wilayah di Petobo tidak bisa dipakai lagi.

"Petobo itu sudah enggak bisa dipakai lagi. Harus relokasi karena memang medannya, fondasi dan geologinya sudah tidak bisa dipakai lagi," ungkap Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono, di Rumah Sakit Wirabuana, Palu, beberapa waktu lalu.

Baca Lainnya : Dugaan Peneliti, Likuifaksi di Petobo karena Endapan Lumpur dan Pasir

2. Terjadi penggemburan lapisan tanah pasir

Semua bangunan di Petobo tersapu bersih akibat gempa dan hantaman lumpur hitam. Lebih dari 2.050 unit bangunan di Petobo rusak parah, mengakibatkan ribuan warga tak lagi memiliki tempat tinggal.

Wilayah Petobo memang mengalami likuifaksi atau penggemburan lapisan tanah pasir akibat guncangan gempa berkekuatan lebih dari 6 magnitudo. Kondisi permukaan air tanah yang dangkal membuat kekuatan lapisan tanah pasir hilang, seolah mencair.

Baca Lainnya : LIPI: Likuifaksi Terjadi karena Lapisan Tanah Pasir

3. Lahan hancur banyak 180 hektare

Sebelumnya, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengungkapkan jika lahan yang hancur di Petobo mencapai 180 hektare dari luas keseluruhan sekitar 1.040 hektare. Akibatnya, seluruh bangunan rata dengan tanah. Akses jalan rusak parah, terlebih lagi aspal-aspal retak dan hancur tak bersisa. Hanya sebagian warga yang berhasil menyelamatkan diri saat peristiwa tersebut terjadi.

"Dalam proses evakuasinya, kita mengerahkan juga alat berat karena medan memang cukup sulit. Semua bangunannya terseret lumpur kemudian ditenggelamkan dalam area luas 180 hektare, di permukaan sudah tidak kelihatan," terang Kepala Pusat Data, Informasi, dan Hubungan Masyarakat BNPB Sutopo Purwo Nugroho, di Jakarta, beberapa waktu lalu. [DF]
 
 
 
 

  0


Anda belum login, masuk atau mendaftar disini


Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: