Bioetanol G2 Dibuat dari Limbah Pertanian dan Perkebunan

TrubusNews
Diah Fauziah
04 Okt 2018   14:35 WIB

Komentar
Bioetanol G2 Dibuat dari Limbah Pertanian dan Perkebunan

Tongkol jagung, limbah pertanian yang merupakan bahan baku bioetanol generasi kedua. (Foto : Istimewa)

Trubus.id -- Ada banyak limbah pertanian dan perkebunan seperti tandan kosong dan pelepah sawit yang bisa dibuat sebagai bahan baku bioetanol generasi kedua (G2).

"Kita mempunyai bahan baku melimpah dari biomassa sawit, berbagai macam bahan baku yang tidak ada manfaatmya. Peluang yang cukup besar buat dikembangkan," kata Agus Haryono, Kepala Pusat Penelitian Kimia Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) di Jakarta, Rabu (3/10).

Dikatakan Agus, pengembangan bioetanol sangat stategis karena di Indonesia, bahan baku biomassa melimpah dan harganya murah. Apalagi bersifat berkelanjutan karena dapat diperbarui, di mana teknologi produksi bioetanol dapat diadopsi industri kecil.

Baca Lainnya : Dorong Pertambahan Devisa, Pemerintah Pacu Hilirisasi Industri Minyak Kelapa Sawit

Selain itu, bioetanol dapat digunakan sebagai campuran bahan bakar dengan premium dan pengganti gas LPG.

"Bahan baku bioetanol generasi kedua tidak bersinggungan dengan bahan pangan dalam negeri. Inilah perbedaannya dengan dengan bioetanol generasi pertama," jelasnya.

Agus menuturkan, bahan baku bioetanol generasi pertama bersinggungan dengan bahan pangan seperti tetes tebu, singkong dan pati jagung. Padahal, tebu dan jagung merupakan bahan pangan yang masih diperlukan di Indonesia.

Oleh karena itu, bioetanol generasi kedua dikembangkan dengan memanfaatkan bahan baku dari limbah pertanian dan perkebunan seperti tandan kosong kelapa sawit, tongkol jagung dan pelepah sawit.

Baca Lainnya : Indonesia Dukung Pengembangan Kelapa Sawit Berkelanjutan di Uganda

"Saat ini, harga bahan baku limbah pertanian dan perkebunan masih nol. Mungkin, kalau sudah jadi pabrik, limbah pertanian akan ada harganya. Tapi, bisa lebih murah dibandingkan dengan tetes tebu," jelasnya.

Pada tahun 2017 lalu, sebanyak 38,2 juta ton minyak sawit mentah diproduksi, yang mana terdapat 41 juta ton tandan kosong kelapa sawit. Dari 1.000 tandan kosong kelapa sawit, LIPI menghasilkan 150 liter bioetanol.

"Di Indonesia, limbah kelapa sawit paling banyak jumlahnya," kata Yanni Sudiyani, peneliti utama bioetanol Pusat Penelitian Kimia LIPI. [DF]

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: