Senja Kelabu di Kota Palu, Gempa - Tsunami Menyisakan Pilu

TrubusNews
Syahroni | Followers 2
03 Okt 2018   15:45

Komentar
Senja Kelabu di Kota Palu, Gempa - Tsunami Menyisakan Pilu

Tsunami menghantam Kota Palu, Jumat (28/9) petang lalu. (Foto : Istimewa)

Trubus.id -- Jumat (28/9) siang, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah beberapa kali diguncang gempa. Puncaknya, gempa magnitudo 7,4 Skala Ritcher terjadi hingga Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini tsunami.

Benar saja, bencana menakutkan itu terjadi. Tsunami yang diprediksi, datang menghampiri. Meluluhlantahkan Kota Palu sekitar pukul 17.22 WIB. Gelombang tsunami setinggi 6 meter menghantam pesisir Palu dan Donggala, Sulteng. Gelombang tsunami berkecepatan 800 km/jam menyapu apapun yang ada di hadapannya. 

Anak terpisah dari orangtuanya. Bangunan rata dengan tanah. Penjarahan pun terjadi di tengah kepanikan warga yang menanti akan datangnya bantuan. Ribuan nyawa melayang dan diprediksi terus bertambah. Korban luka terus berdatangan. Laporan orang hilang pun masih terus mengisi daftar pencarian.  

Tragisnya, selain tsunami, gempa Donggala juga mengakibatkan ribuan rumah di Kelurahan Petobo, dan Perumnas Balaroa, hilang bak ditelan bumi. Kawasan itu seketika tenggelam dalam lumpur, sekitar pukul 18.07 Wita atau bertepatan dengan waktu salat maghrib. 

Kelurahan Petobo dan Perumnas Balaroa memang merupakan 2 kawasan yang paling parah terdampak bencana ini. Ribuan korban diperkirakan masih tertimbun tanah bersama bangunan di dua lokasi itu.

Menurut sejumlah saksi, beberapa detik setelah gempa mengguncang Palu, wilayah kelurahan itu terlihat semburan air yang cukup tinggi, lalu tiba-tiba permukaan tanah menurun sehingga ikut menarik seluruh benda di atasnya. Bahkan, beberapa bangunan seperti masjid bergeser jauh sekitar 50 meter dari posisi semula. 

Fenomena Likuifaksi

Belakangan diketahui, peristiwa tenggelamnya ribuan rumah di Petobo dan Balaroa terjadi karena fenomena likuifaksi. Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) menjelaskan, fenomena likuifaksi di Palu terjadi akibat tanah yang strukturnya pasir dan jenuh air.

Ketua IAGI, Sukmandaru Prihamoko menjelaskan, likuifaksi terjadi di daerah yang meski permukaan tanahnya bebatuan dan keras tetapi dasarnya pasir. Seperti misalnya pasir pantai dan jenuh atau air penuh. Kondisi seperti itu yang membuat banyak masyarakat yang mendirikan rumah atau membangun jalan di tanah yang terlihat keras.

"Padahal tanah seperti itu bisa memungkinkan terjadinya likuifaksi," katanya pada wartawan beberapa waktu lalu.

Sebenarnya, dia menjelaskan, lapisan tanah dengan kondisi seperti itu aman jika terjadi di daerah yang tidak terjadi gempa seperti di Pulau Kalimantan. Tetapi hal itu berbeda ketika kondisi geologi tanah itu terjadi di Palu yang dialui sesar Palu-Koro yang aktif bergerak dan menyebabkan gempa.

"Bahkan dari pemetaan geologi, daerah yang rawan likuifaksi lebih dari 50 persen wilayah di Palu. Makanya kita bisa lihat rumah bisa tenggelam, atau hanyut di atas tanah akibat likuifaksi," ujarnya.

Sementara itu, akibat rangkaian bencana ini, menurut data yang dikeluarkan BNPB, sudah seribu lebih korban jiwa melayang. Ratusan ribu rumah rusak parah, bahkan hilang ditelan bumi. Sementara ribuan warga lainnya terluka dan sebagian masih belum diketahui keberadaannya.

Kota Palu, Lautan yang Terangkat jadi Daratan 

Kota Palu, sebagai salah satu kota yang paling terdampak sendiri bisa dibilang sudah sangat akrab dengan bencana. Dari namanya saja, Kota Palu berarti tanah yang terangkat.

Kota Palu  adalah Ibukota Provinsi Sulawesi Tengah. Kota ini berbatasan dengan Kabupaten Donggala di sebelah barat dan Utara, Kabupaten Sigi di sebelah selatan, dan Kabupaten Parigi Moutong di sebelah timur. Kota Palu merupakan kota lima dimensi yang terdiri atas lembah, lautan, sungai, pegunungan, dan teluk. 

Asal usul nama kota Palu sendiri berasal dari kata Topalu'e yang artinya Tanah yang terangkat. Bukan tanpa alasan kata ini dipercaya menjadi dasar nama Kota Palu. Pasalnya daerah ini awalnya adalah lautan. Karena terjadi gempa dan pergeseran lempeng sesar palu koro. daerah yang tadinya lautan tersebut terangkat dan membentuk daratan lembah yang sekarang menjadi Kota Palu.

Kepala Pudatin Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho menerangkan, gempa di Donggala yang kemudian memicu tsunami yang menghantam Kota Palu terjadi karena longsoran sedimen di dasar laut. Sedimen itu dibawa dari sungai yang bermuara di Teluk Palu. Sutopo mengatakan sedimen tersebut belum terkonsolidasi dengan kuat sehingga saat diguncang gempa terjadi longsor.

"Kenapa terjadi tsunami cukup besar, kami telah melakukan koordinasi dengan beberapa ahli tsunami ada 2 penyebab. Pertama, di Teluk Palu, yang kalau berdasarkan video tsunami menerjang cukup tinggi, ini disebabkan ada longsoran sedimen dasar laut kedalaman 200-300 meter," jelasnya. 

"Ketika diguncang gempa 7,4 SR tadi akhirnya runtuh, longsor, dan membangkitkan tsunami. Kalau dilihat video di Pantai Talise, tsunami awal itu airnya jernih, tetapi kemudian datang dari laut bergelombang dan naik-turun airnya kondisinya keruh. Menurut analisis ahli, itu kemungkinan dipicu longsoran di dasar laut," jelas Sutopo.

Sejarah Bencana di Sulawesi Tengah

Provinsi Sulawesi Tengah, khususnya Kabupaten Donggala dan Kota Palu adalah daerah rawan bencana. Bahkan menurut catatan, gempa dan tsunami yang terjadi Jumat (28/9) petang lalu, bukan yang pertama kalinya terjadi di wilayah itu.

Berikut data 11 bencana gempa yang pernah terjadi di Sulawesi Tengah.

  • 1 Desember 1927

Gempa kekuatan 6,5 magnitudo mengguncang Palu dan sekitarnya. Gempa berasal dari aktivitas tektonik watusampo yang berpusat di Teluk Palu yang menyebabkan 14 jiwa meninggal dunia dan 50 orang luka-luka.

  • 30 Januari 1930 

Gempa terjadi di pantai barat Kabupaten Donggala menyebabkan tsunami setinggi dua meter dan berlangsung selama dua menit. Tidak ada catatan korban jiwa akiba kejadian ini.

  • 14 Agustus 1938

Gempa Magnitudo 6 SR mengguncang Sulawesi Tengah yang berpusat di Teluk Tambu, Kecamatan Balaesang, Kabupaten Donggala. Gempa ini menyebabkan tsunami setinggi 8-10 meter di pantai barat Kabupaten Donggala. Dampaknya, 200 orang kehilangan nyawa. 790 rumah rusak serta seluruh desa di pesisir pantai barat Donggala hampir tenggelam.

  • Tahun 1994 

Gempa mengguncang Kecamatan Sausu, Kabupaten Donggala. Tidak diketahui berapa korban jiwa serta kekuatan gempa yang terjadi kala itu.

  • 1 Januari 1996

Gempa dengan kekuatan 7,4 magnitudo berpusat di selat Makassar mengakibatkan tsunami yang menyapu pantai barat Kabupaten Donggala dan Toli-Toli.

  • Tahun 1996 

Gempa Tonggolobibi terjadi di Desa Bankir, Tonggolobibi dan Donggala mengakibatkan 9 orang tewas dan bangunan rusak parah. Gempa juga menyebabkan tsunami setinggi 3,4 meter yang membawa air laut sejauh 300 meter ke daratan.

  • 11 Oktober 1998 

Kabupaten Donggala diguncang gempa berkekuatan 5,5 magnitudo. Ratusan bangunan rusak parah akibat gempa kala itu.

  • 24 Januari 2005

Sulawesi Tengah diguncang gempa 6,2 magnitudo. Pusat gempa 16 km arah tenggara kota Palu. Akibat gempa ini 100 rumah rusak, satu orang meninggal dan empat orang luka-luka.

  • 7 November 2008

Gempa dengan kekuatan 7,7 magnitudo berpusat di Laut Sulawesi mengguncang Kabupaten Buol, Sulawesi Tengah. Akibatnya empat orang meninggal dunia.

  • 18 Agustus 2012 

Gempa dengan kekuatan 6,2 magnitudo terjadi ketika masyarakat sedang berbuka puasa. Delapan orang tewas dan tiga Kecamatan terisolir.

Akankah Tsunami Melanda Lagi?

Berada di zona ring of fire, para ilmuwan internasional memperkirakan jika Indonesia akan dilanda tsunami lagi, walaupun tidak bisa memastikan kapan dan di mana akan terjadi. Hal itu disampaikan Ahli Geofisika di Humboldt State University, California, Amerika Serikat, Jason Patton.

"Ketika terjadi gempa di Donggala dan Palu, Indonesia, kami tidak menduga jika gempa tersebut bisa mengakibatkan tsunami yang besar dan merusak," kata Jason belum lama ini.

Ia melanjutkan, letika gempa dan tsunami seperti ini terjadi, peneliti banyak menemukan beberapa hal yang sebelumnya tidak pernah diamati. Menurut New York Times, patahan yang terjadi di Sulawesi Tengah berbeda dengan patahan di Aceh pada tahun 2004 lalu.

"Patahan di Sulawesi hanya strike slip, di mana sebagian besar gerakannya horizontal, mendatar. Umumnya, gerakan seperti ini tidak akan menciptakan tsunami. Namun, dalam keadaan tertentu, patahan strike slip bisa menyebabkan tsunami," jelas Jason.

Jason menduga, ada tiga alasan kenapa patahan strike slip seperti yang terjadi Palu dan Donggala bisa menyebabkan tsunami. Pertama, sesar strike slip mungkin memiliki sejumlah gerakan vertikal yang dapat menyedot air laut.

"Kedua, zona patahan sesar yang diperkirakan sepanjang 112 kilometer, melewati area di mana dasar laut naik atau turun. Ketika patahan bergerak selama gempa, mendorong air laut di depannya. Yang terakhir, tsunami tercipta secara tidak langsung. Mungkin, guncangan keras selama gempa mungkin telah menyebabkan longsor bawah laut dan menciptakan gelombang tinggi," bebernya.

Kejadian seperti ini pernah terjadi di Alaska pada tahun 1964. Saat itu, Alaska dilanda gempa bumi bermagnitudo 9,64.

"Berbagai faktor telah berkontribusi pada tsunami. Studi tentang dasar laut akan membantu untuk memahami peristiwa ini. Kami tidak akan tahu apa yang menyebabkannya sampai semua ini selesai," ungkap Jason.

Louise Comfort, profesor di University of Pittsburgh yang terlibat dalam proyek sensor tsunami baru di Indonesia mengungkapkan jika saat ini, Indonesia memiliki keterbatasan efektivitas seperti seismograf, sistem perangkat penentuan posisi global dan alat pengukur pasang untuk mendeteksi tsunami.

Mengantisipasi Bencana di Indonesia

Indonesia menjadi pertemuan dari empat lempeng tektonik yang meliputi lempeng Benua Asia, Benua Australia, lempeng Samudra Hindia dan Pasifik. Selain itu, Indonesia terletak di kawasan sabuk vulkanik atau volcanic arc yang memanjang dari Pulau Sumatera, Jawa, Nusa Tenggara, hingga Sulawesi yang sisinya berupa pegunungan vulkanik tua dan dataran rendah, sebagian didominasi oleh rawa-rawa.

Dengan berbekal fakta tadi, harusnya masyarakat Indonesia selalu siap menghadapi segala kemungkinan bencana. Hal itu sendiri diungkpakan Kepala LIPI, Laksana Tri Handoko saat Media Briefing Analisis LIPI untuk Gempa dan Tsunami Indonesia di Kantor LIPI, Jakarta, Selasa (2/10) kemarin.

Menurut Laksana, yang paling utama dilakukan adalah membangun kesadaran masyarakat tentang betapa pentingnya edukasi terkait mitigasi bencana, salah satunya melalui publikasi temuan ilmiah tentang kebencanaan.

Sementara itu, Kepala Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI, Eko Yulianto mengakui, hingga saat ini, belum ada satu pun teknologi di dunia yang mampu secara akurat dan presisi memprediksi kapan datangnya bencana, khususnya gempa bumi.

“Jika ada pendapat yang menyatakan mampu memprediksi kapan terjadi gempa bumi beserta kekuatan magnitudonya, bisa dipastikan itu adalah hoax,” jelas Eko.

Terkait gempa dan tsunami yang melanda Palu dan Donggala, Eko menjelaskan bahwa letak Palu berada di atas sesar Palu Koro. Sesar Palu Koro adalah patahan yang membelah Sulawesi menjadi dua bagian, barat dan timur. Sesar ini mempunyai pergerakan aktif dan jadi perhatian para peneliti geologi.

Seharusnya, fakta ini dijadikan kesiapsiagaan dan kewaspadaan bencana bagi seluruh masyarakat Indonesia, terutama penduduk di Sulawesi Tengah agar dampak buruk dapat diminimalisir dengan baik.

Di lain pihak, pakar kegempaan LIPI, Danny Hilman Natawidaja, mengungkapkan ada beberap detail fenomena alam yang membuat gempa bumi dan tsunami yang terjadi di Palu patut mendapat perhatian.

“Ada tsunami yang justru terjadi di mekanisme pergerakan struktur sesar mendatar juga likuifaksi tanah,” papar Danny.

Menurutnya, ada kondisi tertentu di Palu yang membuat hal itu terjadi.

“Meskipun bukan kejadian pertama, hal ini perlu mendapat perhatian serius,” ujarnya.

Untuk itu, Danny meminta agar sumber-sumber pengetahuan mengenai kegempaan harus ditingkatkan. Selain itu, pengetahuan mitigasi bencana harus diperhatikan secara serius.

Peneliti bidang geofisika kelautan dari Pusat Penelitian Oseanografi, Nugroho Dwi Hananto, menambahkan, kemungkinan bahwa sesar mendatar Palu Koro yang memiliki komponen deformasi vertikal di dasar laut, memicu terjadinya tsunami di Palu.

Pihaknya juga mencatat kemungkinan longsor bawah laut akibat tebing bawah laut runtuh akibat guncangan gempa. 

“Gempa dan tsunami yang terjadi di Palu menjadi pelajaran penting perlunya data geo sains yang lebih lengkap dan detail untuk bisa mengkaji potensi terjadinya gempa yang sumbernya berasal dari bawah laut,” jelas Nugroho. [RN]

  0


Anda belum login, masuk atau mendaftar disini


Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: