Kementan Ingin Peternak Ayam Pindah ke Sentra Produksi Jagung di Sulawesi

TrubusNews
Syahroni
02 Okt 2018   09:00 WIB

Komentar
Kementan Ingin Peternak Ayam Pindah ke Sentra Produksi Jagung di Sulawesi

Ilustrasi (Foto : Istimewa)

Trubus.id -- Pulau Sulawesi merupakan salah satu sentra produksi jagung yang cukup besar di Indonesia. Untuk itu Kementerian Pertanian (Kementan) berharap, dalam kondisi tingginya harga jagung seperti saat ini, harusnya menjadi opsi para peternak untuk pindah ke pulau tersebut.

Jika hal itu terealisasi, maka akan terjadi kesinambungan harga dua komoditas tersebut. Selama ini, sentra peternakan ayam berskala besar memang banyak terletak di pulau Jawa. Keberadaan sentra peternakan ayam di pulau ini kemudian hanya menggerek harga jagung dari sentra produksi di pulau itu saja yang notabene skalanya lebih kecil dari Sulawesi.

Baca Lainnya : Kenaikan Harga Jagung Himpit Peternak

Karena itu, Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian, Sumardjo Gatot Irianto mengatakan, harga jagung memang mengalami kenaikan di tingkat petani di Jawa yakni dari Rp 3.350/kg (Juni dan Juli) menjadi hampir Rp 3.800-Rp 4.144/kg (September). Namun, kata dia, harga tersebut naik tidak merata di mana harga jagung di Sulawesi masih berada di bawah Rp 3.500/kg.

"Jagung produksinya kan tidak menumpuk di Jawa, sementara ternak menumpuk di Jawa, khususnya di Blitar. Harga jagung di Jawa karena permintaan tinggi memang harganya naik. Ini kan mekanisme pasar," kata Gatot dalam konferensi pers di kantornya, Senin (1/20).

"Sementara hamparan sentra produksi jagung yang besar seperti di Tojo Una-Una, Sulawesi Tengah masuk ke data produksi kami tapi infrastrukturnya belum memadai untuk dikirim ke Jawa sehingga harga jual petani rendah. Begitu juga di Sulawesi Tenggara," imbuhnya.

Baca Lainnya : Peneliti Sebut, Target Produksi Jagung Nasional 30 Juta Ton Tidak Realistis

Gatot berpendapat, dengan dipindahkannya sentra peternakan ayam ke daerah yang dekat dengan sentra produksi jagung, disparitas harga ini bisa semakin kecil.

"Investasi peternakan harus bergerak ke wilayah yang lebih stabil (suplai pakannya). Sambil menunggu itu, perbaiki infrastruktur supaya biaya logistik lebih murah. Pilihan lain ya intensifkan penanaman di lahan yang belum terpakai. Misalnya lahan kelapa, karet, sawit di bawahnya tanam jagung. Ini sudah umum di Sulawesi Utara, tapi belum umum di Jawa dan Lampung," jelasnya.

Produksi jagung nasional pada tahun ini berdasarkan Angka Ramalan I (ARAM I) Kementerian Pertanian mencapai 30 juta ton dengan luas panen 5,73 juta hektar. [RN]

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: