Gempa dan Tsunami Mengakibatkan Muncul Fenomena Likuifaksi, Ini Penjelasannya

TrubusNews
Thomas Aquinus
30 Sep 2018   15:00 WIB

Komentar
Gempa dan Tsunami Mengakibatkan Muncul Fenomena Likuifaksi, Ini Penjelasannya

Ilustrasi (Foto : Istimewa)

Trubus.id -- Gempa yang melanda Sulawesi Tengah mengakibatkan munculnya lumpur dari permukaan tanah. Bahkan lumpur yang muncul tersebut menyeret bangunan dan pohon hingga amblas. Fenomena tersebut dikenal sebagai likuifaksi.

Kepala Bagian Humas BMKG, Harry Tirto Djatmiko mengungkapkan fenomena likuifaksi merupakan hilangnya kekuatan tanah sehingga tanah tersebut tidak memiliki daya ikat. Getaran yang dihasilkan dari gempa membuat tekanan air meningkat dan membuat sifat tanah berubah dari padat (solid) menjadi cair (liquid).

"Likuifaksi (adalah) tanah yang kehilangan kekuatan akibat diguncang oleh gempa, yang mengakibatkan tanah tidak memiliki daya ikat. Guncangan gempa meningkatkan tekanan air sementara daya ikat tanah melemah, hal ini menyebabkan sifat tanah berubah dari padat menjadi cair," jelas Harry saat dikonfirmasi, Minggu (30/9).

Baca Lainnya : Ingin Bantu Korban Gempa Donggala dan Tsunami Palu? Ini Kebutuhan Mendesak Mereka

Seed dan Idriss (1971) dalam studinya juga menyatakan, likuifaksi terjadi di daerah yang rawan gempa bumi yang tersusun oleh endapan pasir dengan kepadatan rendah. Potensi likuifaksi sendiri dapat dipelajari dengan menggunakan uji penetrasi standard, uji penetrasi konus dan pengukuran kecepatan geser.

Sebelumnya diberitakan, fenomena likuifaksi terjadi di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, Sabtu (29/9). BNPB menerangkan, usai gempa di Sigi, terjadi fenomena penggemburan tanah. Akibatnya pondasi bangunan roboh yang menyebabkan amblas.

"Itu karena adanya likuifaksi. Saat gempa terjadi fenomena penggemburan tanah dimana tanah menjadi seperti lumpur atau cairan sehingga kehilangan kekuatan dan tegangan tanah. Hal ini yang menyebabkan sering pondasi rumah roboh," jelas Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho. [NN]

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: