Asosiasi Petani Desak Pembekuan Perusahaan Gula Rafinasi

TrubusNews
Binsar Marulitua
28 Sep 2018   07:00 WIB

Komentar
Asosiasi Petani Desak Pembekuan Perusahaan Gula Rafinasi

Gula Rafinasi (Foto : Istimewa)

Trubus.id -- Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional Andalan Petani Tebu Rakyat Indonesia (DPN APTRI), Soemitro Samadikoen mendesak Kementerian Perdagangan segera membekukan izin usaha perusahaan gula rafinasi, menyusul pengungkapan kasus perembesan gula kristal rafinasi (GKR) di Cilegon, dan sejumlah daerah di Jawa.

"Pernyataan Direktur Tertib Niaga Kemendag di media jelas, akan membekukan atau mencabut izin usaha perusahaan pelaku perembesan," kata Soemitro Samadikoen dalam siaran pers di Jakarta, Kamis (28/9).

Untuk itu, ujar dia, pihaknya akan menagih janji tersebut untuk dapat segera merealisasikan karena jika tidak, maka dicemaskan pelaku dapat melakukan perembesan dan tidak ada efek jera.

Baca Lainnya: Rugikan Petani, APTRI Laporkan Peredaran Gula Rafinasi ke Bareskrim Polri

Ia menyatakan sikap tegas Kemendag ditunggu para petani tebu yang sangat terpukul oleh praktik curang pihak-pihak yang menyebabkan gula rafinasi banjir di pasar konsumsi.

"Terus-terang, hingga saat ini belum pernah ada perusahaan gula rafinasi yang dicabut izinnya, padahal hampir setiap tahun kami laporkan disertai barang bukti," keluh Soemitro.

Lebih lanjut, Soemitro juga mempertanyakan perkembangan laporan yang disampaikan APTRI 30 Agustus 2018 lalu ke Bareskrim Mabes Polri.

Dalam laporan tersebut, APTRI menyampaikan temuan perembesan di Pontianak, Banjarmasin, Tangerang juga Cianjur. Perembesan diduga dilakukan oleh PT Duta Sugar Internasional, PT Berkah Manis Makmur, dan PT Jawa Manis Rafinasi. Selain itu, tujuh pedagang juga turut dilaporkan karena menjual GKR secara bebas.

APTRI juga menyampaikan laporan serupa ke KPK, Kemendag dan Ombudsman, dan APTRI juga telah menyatakan tidak main-main dengan laporannya.

Menurut Soemitro, kondisi saat ini sudah sangat memprihatinkan karena gula petani menumpuk di gudang karena tidak laku.

Baca Lainnya: Impor Gula, APTRI: Pemerintah Mau Bunuh Petani dan Industri Dalam Negeri?

Sebagaimana diwartakan, Direktur Tertib Niaga Kementerian Perdagangan Republik Indonesia Wahyu Hidayat menyebutkan temuan beredar gula rafinasi secara ilegal di pasar akhir-akhir ini membuat petani tebu dan produsen gula lokal mengalami kerugian.

"Jelas merugikan karena dengan beredar gula rafinasi yang ditujukan untuk industri di pasar, membuat gula lokal tersingkir dari pasar," kata Wahyu, di Cilegon, Kamis (20/9).

Ditjen Perlindungan Konsumen dan Tertib Niaga Kementerian Perdagangan bersama Direktorat Tindak Pidana Ekonomi Khusus Badan Reserse Kriminal Polri berhasil mengungkap tindak pidana penyalahgunaan distribusi gula rafinasi di wilayah Pulau Jawa.

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          

Bina Swadaya Kritisi UU Kontroversial Cipta Kerja

Peristiwa   24 Nov 2020 - 18:26 WIB
Bagikan:          
Bagikan: