Peneliti Sebut, Target Produksi Jagung Nasional 30 Juta Ton Tidak Realistis

TrubusNews
Syahroni
25 Sep 2018   23:00 WIB

Komentar
Peneliti Sebut, Target Produksi Jagung Nasional 30 Juta Ton Tidak Realistis

Ilustrasi (Foto : Istimewa)

Trubus.id -- Pemerintah dalam hal ini Kementerian Pertanian menargetkan produksi jagung nasional hingga sebesar 30 juta ton. Namun demikian, target ini dinilai tidak realistis karena ada beberapa hal yang tidak diperhitungkan dengan cermat oleh pemerintah.

Peneliti Center for Indonesia Policy Studies (CIPS), Imelda Freddy mengatakan, salah satu hal yang membuat target tersebut tidak realistis adalah cara pemerintah menghitung proyeksi yang hanya didasarkan pada potensi benih jagung dikalikan luas lahan. Ia menyebut, pemerintah tidak mengikutsertakan variabel lain seperti produksi panen yang tercecer saat proses distribusi atau pengangkutan dan produksi panen yang tidak memenuhi standar.

"Untuk menghitung target produksi ada beberapa variabel yang harus diikutsertakan, seperti jagung yang busuk, jagung yang tercecer saat distribusi, variabel eksternal seperti cuaca, sistem irigasi dan juga serangan hama," ujar Imelda.

Sementara itu terkait standar, Imelda menyebut, hal yang dilewatkan pemerintah adalah keberadaan mesin pengering di desa-desa sentra penghasil jagung.

Baca Lainnya : CIPS: Benih Jagung Program UPSUS Tidak Seoptimal yang Diklaim Kementan

"Angka ini akan sulit dicapai karena mesin pengering masih jarang ditemui di desa-desa penghasil jagung. Dengan adanya mesin pengering, petani tidak perlu mengeringkan jagung di bawah terik matahari. Mesin pengering juga akan sangat membantu petani saat musim hujan," jelasnya kepada wartawan, Selasa (25/9).

Dia menambahkan, mesin pengering akan membantu mengurangi kadar air pada jagung sehingga cukup mempengaruhi harga jagung itu sendiri. Semakin kecil kadar air maka akan semakin tinggi harga yang diberikan sekaligus memperpanjang daya tahan jagung saat disimpan. 

Khusus untuk jagung yang akan dijadikan bahan baku pakan ternak, jagung yang dikeringkan dengan mesin pengering akan berkualitas lebih baik daripada yang tidak dikeringkan dengan mesin pengering. Tanpa mesin pengering kadar airnya bisa lebih dari 17 KA, dengan adanya mesin pengering bisa mecapai 14 KA.

Selain itu, Imelda juga menyoroti dampak dari kurangnya suplai jagung. Kekurangan suplai yang tercermin dari tingginya harga jagung akan membuat para pengusaha pakan ternak beralih dari jagung sebagai komponen utama pakan ternak. 
Mereka beralih menggunakan bahan baku lain seperti gandum. Hal itu berakibat buruk pada para petani jagung karena hasil produksi tidak diserap oleh pasar. Perubahan minat pasar seperti ini harus diantisipasi dengan suplai jagung yang memadai.

"Lebih dari 45 persen pakan ayam berasal dari jagung sehingga kelangkaan jagung pasti akan mempengaruhi produksi pakan nasional. Belum lagi jumlah produksi jagung harus berebut dengan permintaan konsumen yang ditujukan untuk non pakan ternak," papar Imelda.

Baca Lainnya : Kejar Target Produksi, Kementan Dorong Petani untuk Pakai Bibit Jagung Hibrida

Menurut data Kementan, jumlah produksi jagung nasional mengalami peningkatan pada periode 2013-2017. Pada 2013, jumlah produksi jagung nasional sebesar 18,5 juta ton dan meningkat menjadi 19 juta ton dan 19,6 juta ton pada 2014 dan 2015. Pada 2016 dan 2017, jumlahnya menjadi 19,7 juta ton dan 20 juta ton.

Di saat bersamaan, jumlah konsumsi jagung nasional juga terus naik. Periode 2013-2015, jumlah konsumsi jagung nasional sebesar 21,6 juta ton, kemudian 22,5 juta ton dan 23,3 juta ton. Terjadi sedikit penurunan pada 2016 yaitu menjadi 22,1 juta ton. Jumlah itu kembali naik menjadi 23,3 juta ton pada 2017.

"Jumlah jagung yang diimpor Indonesia terus mengalami penurunan. Indonesia mengimpor 3,19 juta ton jagung pada 2013 dan 3,18 juta ton pada 2014. Sementara itu, pada 2015, 2016 dan 2017 jumlahnya impornya adalah 3,5 juta ton, 1,3 juta ton dan 500 ribu ton. Penurunan jumlah impor yang dimaksudkan untuk melindungi petani jagung nasional justru tidak efektif untuk menjaga kestabilan harga," jelas Imelda. [RN]

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: