Lawan Perambahan, 2.000 Hektare Lahan di TNTN Direvitalisasi Hingga Tahun Depan

TrubusNews
Syahroni
24 Sep 2018   18:45 WIB

Komentar
Lawan Perambahan, 2.000 Hektare Lahan di TNTN Direvitalisasi Hingga Tahun Depan

Kaplingan tanah dan pondok yang ditemukan petugas gabungan saat memberantas perambahan hutan di TNTN. (Foto : Doc/ BBKSDA Riau)

Trubus.id -- Tak hanya fokus merevitalisasi kawasan Suaka Margasatwa Balai Raja di Bengkalis, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau juga fokus menata kembali Taman Nasional Tesso Nilo di Kabupaten Pelalawan, Kabupaten Riau.

Kawasan ini turut menjadi sorotan karena cukup dikenal sebagai habitat satwa liar dilindungi seperti gajah, harimau, macan dahan dan lainnya. Mirisnya, hutan di kawasan ini juga menyusut tiap tahunnya akibat maraknya perambahan hutan oleh masyarakat pendatang di sana.

Menurut Kapala Balai TNTN Supartono, pihaknya bekerjasama dengan BBKSDA dan pemerintah daerah menargetkan 2000 hektare lahan yang akan direvitalisasi. Pemulihan kawasan itu berjalan bertahap dan dilakukan dengan pendekatan intensif ke masyarakat setempat.

Baca Lainnya : Alat Berat Rambah Hutan di TNTN, Masuk Lewat Mana Yah?

"Hingga tahun depan, lahan yang sebelumnya dikuasai masyarakat dan tinggal di dalam kawasan hutan lindung tersebut akan kembali ke pemerintah," katanya, Senin (24/9).

Dia menjelaskan, revitalisasi berupa penanaman kembali atau reboisasi dengan tanaman hutan di lahan yang rusak berlangsung hingga 2019. Hal ini penting dilakukan supaya TNTN kembali menjadi kawasan konservasi sepenuhnya.

Ke depannya, TNTN juga akan mendapat izin hutan desa dan hutan kemasyarakatan. Keberadaan izin tersebut juga sebagai bagian dari restorasi TNTN yang menjadi jalan panjang pemerintah melawan tumpang tindih lahan di TNTN.

"Sementara ada juga beberapa (izin hutan desa dan hutan kemasyarakatan) sedang diproses. Kita juga siapkan pendataan partisipatif," jelasnya.

Sekedar informasi, TNTN saat ini menghadapi dilema besar. Kawasan hutan seluas 84.000 hektare itu dirambah dan disulap menjadi perkebunan sawit. Ribuan warga tinggal di kawasan TNTN. Bahkan mereka mengklaim telah mengantungi izin administratif desa meski tidak diakui pemerintah.

Baca Lainnya : Revitalisasi Ekosistem Tesso Nilo Berbasis pada Masyarakat

Pada awal tahun lalu, beberapa wartawan juga ke lokasi dan berkesempatan memasuki desa-desa di TNTN. Di sana disaksikan langsung bagaimana ribuan warga desa hidup dan membangun desa mereka. Sekolah, rumah ibadah, pasar hingga pool bus telah berdiri di kawasan yang seharusnya menjadi rumah bagi satwa liar itu.

Belum ada data konkrit berapa sebenarnya jumlah warga yang mendiami TNTN. Namun, jumlah mereka diperkiraan mencapai lebih dari 6.000 jiwa. Keberadaan warga yang mayoritas pendatang dari Provinsi Sumatera Utara itu datang secara bertahap, saat pemerintah tidak mampu menjaga kawasan itu secara tegas.

TNTN sendiri ditetapkan sebagai Taman Nasional pada 2004 dan 2009 silam dengan total luasan mencapai 81.000 hektare. Namun, luasannya semakin menyempit karena terus menerus terjadi perambahan hutan. 

Direktur Yayasan TNTN, Yuliantoni menjelaskan, saat ini hutan primer TNTN hanya tersisa sekitar 20.000 hektare. Sementara sisanya dari total luasan 81.000 hektare, telah disulap menjadi perkebunan sawit dan dalam kondisi rusak. [RN]

 

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: