Menelisik Kelebihan Anjing Pelacak Lokal Dibanding Anjing Impor

TrubusNews
Syahroni | Followers 2
22 Sep 2018   18:00

Komentar
Menelisik Kelebihan Anjing Pelacak Lokal Dibanding Anjing Impor

Ilustrasi (Foto : Istimewa)

Trubus.id -- Masih belum lepas dari ingatan saat anjing milik Bea dan Cukai Batam berhasil mengendus keberadaan narkoba jenis sabu dari Kapal MV Sunrise Glory, Februari silam. Berkat kepiawaiannya mengenali bau narkoba, anjing bernama Andro itu berhasil menemukan sabu seberat 1, 37 ton dari lambung kapal tersebut.

Hebatnya lagi, anjing jenis Labrador Retriever ini berhasil melacak sabu yang disembunyikan di bawah tumpukan beras di lambung kapal tersebut. Anjing berusia 4 tahun itu mengalahkan gangguan guncangan kapal dan bau lain yang menusuk hidungnya.

Keberhasilan Andro sendiri bermula ketika penyelidikan tim WFQR Lantamal IV/ Lanal Batam, BNN Pusat, Bea Cukai Pusat, serta Bea Cukai Batam sempat tidak membuahkan hasil. Sejak dilakukan penyisiran mulai pagi hingga sore, mereka sama sekali tidak berhasil menemukan sabu tersebut. Lalu, mereka pun menurunkan unit K9 yang berhasil menguak keberadaan barang haram itu.

"Penyimpanannya ditumpuk dengan beras, jadi sabunya disimpan di bawah, sedangkan di atasnya disimpan besar, makanya tim sempat mengalami kesulitan, setelah bantuan K-9 baru ditemukanlah sabu ini," ungkap Laksamana Madya, Achmad Taufiqoerrochman kala itu.

Seleksi Khusus Unit K9

Unit K9 sendiri adalah sebutan untuk unit anjing pelacak. Istilah ini dipakai di beberapa negara, termasuk Amerika Serikat. Arti kata Ca-nine/K-9 sendiri berasal dari kata Latin Canidae, selanjutnya disebut keluarga Canid/Serigala, jenis binatang buas yang memiliki rangkaian gigi pemotong daging, terletak persis di belakang taring. Jenis-jenis anjing yang ada saat ini adalah keturunan serigala yang telah melalui proses rekayasa genetika.

Ada sejumlah ras anjing yang umum digunakan sebagai satuan unit K9. Seperti Great Dane, Boxer, Giant Shnautzer, Labrador Retriever, Doberman Pinscher, Rottweiler, dan German Sheperd. Meskipun masuk ke unit K9, ada enam spesialisi bagi anjing K9 Kepolisian yang terdiri dari:

  1. Kemampuan mencium bahan peledak (handak).
  2. Membantu tim SAR (Search and Rescue).
  3. Semua yang berhubungan dengan narkotika.
  4. Membantu dalam pengendalian massa.
  5. Karya guna, artinya anjing digunakan untuk pelacakan, penyelamatan dan menghalau massa.
  6. Kemampuan atraksi, kemampuan pelacakan kriminal umum.

Meski berasal dari ras unggulan tidak berarti mereka asal dipilih. Calon unit K-9 harus melewati seleksi khusus agar dapat bertugas dengan baik dan diandalkan. Seperti yang diungkapkan Iptu Wawan M, dari Direktorat Polisi Satwa, Depok, Jawa Barat,seperti dikutip dari National Geographic beberapa waktu lalu. Wawan menyebut, hal yang pertama yang dilakukan adalah seleksi anatomi, termasuk kesehatan satwa.

"Berikutnya adalah kemauan, terutama untuk menggunakan alat seperti bola. Misalnya jika dilemparkan, ia mau mengambil, bahkan ke tempat yang sempit sekalipun," jelas Wawan. 

Dari sini mulai terlihat tingkat agresif dan kelincahannya. Kemudian segi pertahanan juga menjadi salah satu pertimbangan utama.

"Kalau diberikan mainan, dipertahankan," ujar Wawan.

Baru dari sini dapat ditentukan arah spesialisasi anjing tersebut di unit K-9.

"Jika anjing itu memiliki kemauan untuk pergi ke tempat-tempat tertutup, tidak suka menggongong tapi agresif, bisa ditempatkan di handak. Jika suka menggongong, agresif menyerang dengan daya serbu tinggi, bisa ke pelacak umum," jelas Wawan.

"Kalau ganas dalam semua aspek, bisa ditempatkan di bagian pengendalian masyarakat. Jika daya melacaknya berlebihan, dalam latian senang menggali tanah misalnya, biasanya digolongkan ke dalam SAR." terangnya.

Anjing K-9 yang bertugas membantu penegak hukum ini tidak lagi digunakan ketika ia terluka cukup parah, hamil, dan usianya terlalu tua. Anjing tersebut maksimal hanya bertugas tujuh tahun, setelah itu pensiun karena dianggap sudah tua.

Mereka dilatih saat berumur satu sampai satu setengah tahun, untuk digunakan hingga lima tahun ke depan. Setelah itu dicek kembali. Jika masih layak dapat diperpanjang sampai tujuh tahun.

Dominasi Anjing Impor di Unit K9 Polri

Jika berbicara tentang anjing lokal dan anjing impor, hal yang patut diketahui adalah semua anjing yang terlahir di Indonesia adalah anjing lokal. Dan sebaliknya, semua anjing ras yang didatangkan dari luar negeri masuk kategori anjing impor. 

Di tubuh Polri sendiri, semua anjing di unit K9 adalah anjing impor. Saat dikonfirmasi Trubus.id belum lama ini, Dir Polsatwa Korsabhara Baharkam Polri, Brigjen Pol Drs Wahyudi Hidayat mengatakan, Polri memilih anjing ras impor karena dalam pelaksaaan tugas Polri harus bertindak sesuai dengan kaidah kajian dan prosedur dari para ahli-ahli dan pawang.

Tentu saja hal itu harus sesuai dengan pembuktian dan pengukuran yang sudah sesuai ketetapannya atau pakem kajian dan literatur yang sudah terbukti. Anjing juga harus bertindak sesuai dengan kebutuhan di lapangan berdasarkan penyesuai kebutuhan. 

Namun meski demikian, ia menjelaskan, pemilihan anjing ras impor bukan berarti Polri mengecilkan pentingnya anjing lokal.

“Tetapi bukan mengecilkan arti pentingnya anjing lokal. Karena anjing lokal banyak juga yang memiliki kemampuan dalam standar baik,” terangnya. 

Ia menerangkan, setiap tahunnya rata-rata Polri mengimpor 60 ekor anjing ras dari berbagai negara. Sampai saat ini saja, Polri sudah memiliki 600 ekor anjing impor yang disebar ke seluruh wilayah setingkat Polda.

Itupun permintaan masih sangat besar, tetapi Polri tidak mampu mencukupi karena disesuaikan dengan anggaran dan kebutuhan. 

“Nantinya Polri akan menambah satuan anjing sampai ke tingkat Polres jadi tidak perlu menunggu permintaan ke Polda untuk menangani suatu kasus.” Terangnya lagi.

Ia menambahkan, rata-rata anjing impor ini bisa bertugas 8-9 tahun tergantung spesifikasinya untuk apa. Ada yang Spesifikasi pelacak SAR yang menggunakan setifikasi Internasional ‘Medium Internasional, ada spesifikasi pelacak umum untuk mengidentifikasi perampokan, melacak jejak. Dan ada pelacak narkotika. Semuanya berbeda-beda. 

Ketika ditanya kelanjutan hidup anjing impor yang telah habis masa baktinya, Wahyudi mengatakan, pihak kepolisian tidak mengenal penyiksaaan pada hewan. Jadi tidak akan ada anjing yang disuntik mati atau disuntik hormon berlebihan, baik untuk kebutuhan mengurangi tingkat libido dan lain-lain.

“Jika sudah tidak produktif, alternatif kami bisa dalam kata lain dirumahkan, dihibahkan dan diadopsi. Tidak ada yang disuntik mati,” terangnya lagi. 

Saat disinggung terkait anggaran pengadaan anjing impor, Wahyu sendiri mengaku tidak terlalu hafal terkait hal ini. Pagu anggaran juga tidak bisa sembarangan karena ada bidang Polri Khusus yang mengurus terkait anggaran ini.

“Kalo kita berbicara estimasi DIPA anggaran untuk satu anjing, untuk makan sekitar 50 ribu  per ekor per hari. Sesuai Indeks perawatan negara. Tentunya ini belum termasuk pengobatan, sanitasi asupan penunjang lainnya yang mengikuti standar pokok harus aman, sehat bersih dan sering dilatih,” terangnya singkat. 

Dengan anggaran pengadaan anjing ras impor dan biaya perawatan yang dikeluarkan, hasil yang diraih anjing-anjing ini pun sudah tidak bisa diragukan lagi. Namun yang pasti, Wahyu menyebut kalau peran anjing sangat besar dan sangat diperlukan. 

“Kami kewalahan meminta memenuhi kebutuhan dari daerah daerah. Kita menurunkan potensi sesuai kebutuhan. Jika kejadian besar kami bisa menurunkan 6-8 anjing pelacak jika medan tidak terlalu bear bisa menurunkan empat. kalau untuk pengungkapan kasus kejahatan dan peredaran narkoba sudah sangat banyak,” ungkapnya lagi.

Anjing Lokal Dipandang Sebelah Mata

Keputusan Polri menggunakan anjing ras impor di Unit K9 mereka rupanya cukup mendapat perhatian dari banyak pihak. Salah satunya datang dari pemilik sekolah pelatihan anjing Chambaraya DTC. Aang, sapaan akrab pemilik sekolah pelatihan anjing ini mengatakan, anjing lokal tak kalah hebatnya dari anjing impor.

“Kalau dibandingkan anjing lokal sama anjing impor justru lebih bagus anjing lokal. Soalnya kan dia tidak butuh adaptasi cuaca dan makanan lagi, jadi nggak buang-buang waktu,” katanya kepada Trubus.id ketika disambangi di markasnya di kawasan Bekasi, Jawa Barat.

Aang menyebut, sudah banyak anjing lokal yang sukses menjalani tugasnya sebagai anjing pelacak. Karena itu sudah banyak pula instansi yang menggunakan anjing lokal di Unit K9 mereka. Salah satunya adalah Unit K9 Badan Narkotika Nasional dan TNI. 

Aang menerangkan, anjing merupakan hewan setia yang dapat dijadikan kawan manusia. Karena itu asal dan ras bukanlah suatu keterbatasan dalam melatih anjing. Dan semua anjing dapat di latih sesuai kebutuhan manusia.

“Yang bisa dijadikan anjing pintar bukan hanya anjing ras mau itu lokal ataupun impor. Yang punya surat atau silsilah jelas. Tapi Anjing yang diambil di jalan kalau benar-benar anda mau, sia pun bisa berguna sesuai yang anda mau,” terangnya lagi. 

Ia menambahkan, di pusat pelatihan anjing yang ia kelola, hanya dikenal 3 karakter anjing. Mengenal anjing hanya jantan dan betina, dewasa dan anak-anak. 

“Kita tidak kenal anjing impor atau anjing lokal kalau untuk dilatih. Semuanya bisa dilatih. Cepat atau tidaknya dilatih tergantung bakat. Kalau rutin dan tepat pelatihannya, yang tidak berbakat pun bisa jadi hebat. Anjing impor pun ada yang nggak berbakat. Kalau pelatihnya nyerah, yang bodoh siapa? Anjing atau pelatihnya?” ujarnya lagi.

Aang menerangkan, Chambaraya DTC hanya mengenal 3 karakter anjing untuk dilatih. Dan itu semua tidak ada kaitannya dengan anjing lokal maupun impor. Ia menyebut, karakter pertama adalah merah. Anjing dengan karakter merah adalah anjing yang galak. Dia senang menggigit. Agresif dan dominan. 

Yang kedua anjing dengan karakter kuning. Anjing karakter kuning baru mengigit atau menyerang jika sudah terdesak atau panik. Dan yang terakhir anjing dengan karakter hijau. Anjing karakter hijau adalah anjing yang stabil atau normal. Jika ingin dilatih, anjing harus lebih dulu ada di karakter hijau ini. 

“Kalau dia merah, yah harus dirubah jadi hijau dulu. Begitu juga kalau dia kuning. Semua ada prosesnya,” ungkapnya lagi. 

Untuk itu ia menyebut, keputusan menggunakan hanya anjing ras impor sebagai anjing pekerja, khususnya anjing pelacak bukanlah keputusan yang bijaksana. Pasalnya, dengan menggunakan anjing lokal, sama halnya dengan meningkatkan kemampuan bangsa sendiri. Pasalnya saat ini, sudah banyak peternak anjing lokal yang juga sudah mampu mencetak anjing-anjing berkualitas yang tak kalah dengan anjing ras impor.

“Terutama soal harga, bayangkan kalau anjing lokal harganya hanya Rp20 juta-30 juta. Kalau anjing impor bisa berapa? Rp150 juta per ekornya itu. Belum biaya pelatihan dan perawatan. Kan kalau pakai anjing lokal bisa lebih murah. Lebih tahan terhadap cuaca Indonesia juga. Kalau ada yang bilang anjing lokal nggak bisa kerja, pelatihnya berarti nggak bisa melatih itu anjing,” tutupnya. [RN]


 

  0


Anda belum login, masuk atau mendaftar disini


Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: