Terkait Polemik Impor Beras, Begini Kronologinya

TrubusNews
Diah Fauziah
21 Sep 2018   11:30 WIB

Komentar
Terkait Polemik Impor Beras, Begini Kronologinya

Ilustrasi. (Foto : Dok. Trubus.id)

Trubus.id -- Beberapa hari ini, kita dikejutkan dengan polemik impor beras antara Menteri Perdagangan, Enggartiasto Lukita dengan Dirut Perum Badan Urusan Logistik, Budi Waseno (Buwas). Hingga akhirnya, Presiden Joko Widodo akan memanggil Enggar dan Buwas untuk mencari tahu keadaan yang sebenarnya.

Namun, sebelum Presiden Jokowi memanggil mereka berdua, Darmin Nasution, Menteri Koordinator Perekonomian, menjelaskan kronologi impor beras. Inilah kronologi impor beras versi Darmin Nasution.

Akhir 2017

Harga beras mengalami kenaikan. Oleh karena itu, Darmin mengadakan rapat dengan Menteri Pertanian, Amran Sulaiman; Menteri Perdagangan, Enggartiasto Lukita; dan Dirut Bulog saat itu, Djarot Kusumayakti. Terkadang, Rini Soermarno, Menteri BUMN ikut rapat dalam kapasitas pemegang saham Bulog.

"Belum ada kesepakatan hingga akhir 2017, seperti apa suplai dan demand. Ada yang bilang cukup. Tapi, begitu akhir tahun, November hingga Desember 2017 dan awal 2018, harga beras naik cepat," kata Darmin.

15 Januari 2018

Harga beras medium di pasaran Rp11.300 per kilogram dari sebelumnya Rp9.450 per kilogram. Oleh karena itu, Darmin mengadakan lagi rapat koordinasi dengan Dirut Bulog, Mentan, dan Mendag.

Stok beras di Bulog kemudian dicek. Hanya ada 903.000 ton. Stok yang kurang dari 1 juta ton dianggap masalah karena kebutuhan konsumsi nasional mencapai 2,3 hingga 2,4 juta ton.

Rapat koordinasi pun memutuskan untuk melakukan impor beras 500.000 ton.

Maret 2018

Saat panen raya, Bulog tidak mampu menyerap gabah dan beras di lapangan karena tidak tersedia cukup beras di seluruh daerah untuk dibeli. Padahal, Kementerian Pertanian mengklaim akan ada panen sebanyak 13,7 juta ton. Namun, perkiraan Kementan tidak terbukti.

Stok beras di Bulog kritis, hanya 590.000 ton dan menunggu serapan saat panen raya.

"Kita putuskan untuk menaikkan harga beli gabah dan beras. Biasanya, kenaikan hanya 10 persen saja, tapi saat itu dinaikkan menjadi 20 persen supaya banyak petani yang mau menjual berasnya ke pemerintah. Tetap saja stok beras di Bulog hanya 590.000 ton," kata Darmin.

19 Maret 2018, diputuskan impor beras tahap dua sebesar 500.000 ton.

"Kesepakatan bersama hanya 500.000 ton, tidak lebih. Sebelum impor beras, semua instansi melakukan pengecekan terlebih dahulu. Satgas pangan cek, Kementan cek, Kementan cek, Bulog cek. Semua peserta rapat sepakat dengan keputusan impor beras," jelasnya.

 28 Maret 2018, stok beras naik menjadi 649.000 ton. Stok beras di gudang Bulog ini merupakan gabungan dari serapan beras lokal dan impor. Tidak ingin mengambil risiko lagi, diputuskan untuk melakukan impor beras tahap tiga sebesar 1 juta ton. Total, izin impor beras 2018 mencapai 2 juta ton yang harus masuk akhir Juli 2018.

Agustus

Bulog gagal melakukan impor beras 200.000 ton dari India. Tidak diketahui pasti penyebab kegagalan tersebut.

"Saya enggak tahu kenapa, yang pasti Bulog gagal impor 200.000 ton dri India. Jadi, total impor beras selama 2018 hanya 1,8 juta ton. Sudah masuk 1,4 juta ton. Masih ada 400.000 ton impor beras yang belum masuk," jelasnya.

September

Polemik impor beras antara Enggar dan Buwas terjadi. Enggar mengatakan stok beras nasional tidak cukup, sementara Buwas bilang kalau gudang Bulog penuh dengan beras, jadi tidak butuh impor.

Darmin sangat menyayangkan pihak yang menolak keputusan impor beras. Padahal, keputusan impor beras tahap ketiga dibuat pada 28 Maret 2018 lalu.

"Nah, kalau dibilangnya gudang Bulog penuh, iya memang penuh. Karena beras impor ada 1,4 juta ton sementara pembelian beras lokal mencapai 800.000. Total, stok beras di Bulog ada 2,2 juta ton. Cukup untuk kebutuhan nasional," kata Darmin.

Nah, menurut Trubus Mania, siapa sih yang sebenarnya salah? Kemendag, Bulog, atau Kementan? Well, kita tunggu saja kelanjutannya seperti apa. Tentu, setelah pertemuan Presiden Jokowi dengan Buwas, Enggar, Darmin, dan Amran. [DF]

 

 

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: