Jumlah Sensor Gempa-Tsunami di Indonesia, Masih Jauh dari Kata Memadai

TrubusNews
Syahroni | Followers 2
12 Sep 2018   22:45

Komentar
Jumlah Sensor Gempa-Tsunami di Indonesia, Masih Jauh dari Kata Memadai

Ilustrasi (Foto : Istimewa)

Trubus.id -- Indonesia berada di kawasan yang rawan bencana. Namun demikian, infrastruktur yang menunjang untuk meminimalisir jatuhnya korban, rupanya masih sangat minim. Salah satu contoh saja, sensor gempa-tsunami.

Menurut Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Indonesia hanya memiliki 170 sensor saja. Jumlah ini jelas berbanding terbalik jika dibandingkan dengan Jepang.

Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Rahmat Triyono mengatakan, jika dibandingkan dengan kondisi di Jepang yang luasnya kurang lebih seperti Pulau Sumatera, mereka sudah memiliki ribuan sensor. 

Baca Lainnya : Deteksi Gempa Secara Dini, Kini Aceh Punya Tujuh Sensor Gempa

"Sedangkan Indonesia luas lebih besar, hanya 170 sensor, anggaran perawatan 70 lokasi. Jadi kita juga mengedukasi masyarakat agar lebih peka dengan daerah yang rawan bencana gempa," jelas Rahmat saat menghadiri Diskusi Nasional Pelajaran Gempa Yogya dan Lombok untuk Keselamatan Indonesia di Kampus UII, Sleman, Rabu (12/9).

Karena itu, BMKG meminta penambahan anggaran perawatan alat peringatan dini dan sensor gempa-tsunami. 

"Saat ini hanya ada 170 sensor, meski target awal 500 alat. Dan kami diberi anggaran terbatas untuk pemeliharaan, hanya 70 alat, kondisi ini kita prihatin karena kemungkinan tahun depan juga masih dianggarkan untuk 70 sensor saja," katanya.

Baca Lainnya : Mayoritas Sirine Peringatan Dini Tsunami di Pariaman Rusak Akibat Dicuri

Meski demikian, Rahmat menegaskan BMKG terus memantau kondisi alam Indonesia yang rawan gempa-tsunami. Pemantauan dan analisa intesif dilakukan pascagempa melanda Aceh, Yogya, dan Lombok kemarin.

Menurutnya, analisa intensif oleh BMKG terhadap peristiwa gempa yang berpotensi tsunami memang baru dilakukan pasca gempa Aceh. Saat itu, BMKG belum memiliki alat sensor yang mumpuni.

"BMKG belajar setiap kejadian gempa, sebelumnya tsunami di Flores tahun 1992 tapi kurang ada pembelajaran, belum ada sistem peringatan dini tsunami, baru pasca Aceh kita intensif menganalisa, waktu itu masih terbatas peralatannya," urainya. [RN]

  0


Anda belum login, masuk atau mendaftar disini


Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan: