Tangkap Kerang dengan Kapal Keruk, Seorang Nelayan Tewas Ditembak Polisi

TrubusNews
Syahroni
12 Sep 2018   18:15 WIB

Komentar
Tangkap Kerang dengan Kapal Keruk, Seorang Nelayan Tewas Ditembak Polisi

Kapal penangkap kerang di Rokan Hilir, Riau. (Foto : Trubus.id/ M Syukur)

Trubus.id -- Penggunaan alat keruk dari besi untuk menangkap kerang laut di perairan Kabupaten Rokan Hilir masih kerap dijumpai. Seperti yang terjadi pada Minggu (9/9) malam ini contohnya. Tujuh kapal besar dari Tanjung Balai Asahan, Sumatera Utara, terpantau nelayan setempat tengah mengeruk kerang.

Nelayan yang memergoki mereka kemudian melaporkannya ke polisi. Tak lama, dibantu nelayan lokal, kapal-kapal ini berhasil diamankan. Hanya saja, ketika polisi datang, awak di tujuh kapal mematikan lampu. Mereka berusaha kabur sehingga terjadi kejar-kejaran, meskipun polisi sudah mengeluar tembakan peringatan ke udara.

"Kemudian ada satu kapal berusaha menabrak kapal polisi yang isinya juga ada nelayan lokal," kata Kabid Humas Polda Riau Kombes Sunarto, Rabu (12/9).

Baca Lainnya : Melarikan Diri, 1 dari 3 Kapal Asing di Natuna Tenggelam Ditabrak Kapal Patroli

Akibatnya, tambah Sunarto, polisi terpaksa menembak ke arah kapal. Tembakan ini mengenai tiga awak, di mana dua di antaranya terluka parah dan satunya meninggal dunia.

"Dua kritis dan masih dirawat di Rumah Sakit Bhayangkara. Satu yang meninggal sudah diantar petugas ke kampung halamannya di Medan," ucap Sunarto.

Ia menegaskan, penggunaan alat keruk dari besi atau disebut teng sudah dilarang karena bisa merusak biota laut dan ekosistemmnya.

"Dan sudah ada kesepakatan bahwa nelayan Sumut tidak boleh melaut di perairan Riau, apalagi menggunakan kapal besar dengan menggunakan alat pengeruk dari baja," tegas Sunarto.

Baca Lainnya : Tak Ditenggelamkan, Kapal Pencuri Ikan yang Ditangkap di Sabang Akan Dijadikan Monumen

Menurutnya, beberapa kapal yang lolos akhirnya bersandar ke pos TNI AL di Panipahan. Kepada petugas, mereka mengaku baru saja dirompak oleh kapal tak dikenal. Terkait ini, Direktur Polisi Air Polda Riau Kombes Hery Wiyanto menyebut pihaknya sudah berkoordinasi dengan angkatan laut. Diapun menyebut pihaknya masih mengumpulkan keterangan dari berbagai pihak.

"TNI juga mengumpulkan informasi, dan nelayan semuanya sudah diamankan. Yang jelas, anggota di lapangan sudah sesuai prosedur karena sudah memberi tahu mereka polisi," terang Hery.

Di Panipahan, tambah Hery, memang ada beberapa pos, termasuk TNI AL. Dan jarak antara Panipahan dengan Sumut memang berdekatan. Hery menegaskan, di wilayah tersebut memang sering terjadi konflik nelayan, baik yang lokal maupun dengan nelayan provinsi tetangga. Pemicunya adalah penggunaan jaring besar yang digunakan nelayan bermateri cukup.

Baca Lainnya : Curi Ikan di Kepulauan Natuna, 10 kapal Vietnam dan 74 ABK Ditangkap 

"Penggunaan alat keruk kerang dilarang karena merusak biota laut lainnya. Apalagi kerang ini musiman, sekali dikeruk, nelayan lokal selama sebulan tidak bisa menangkap kerang," sebut Hery.

Hasil penyelidikan pihaknya, kapal yang tertangkap ini merupakan milik perempuan bernama Omsi. Nama ini diketahui sebagai bos nelayan di Tanjung Balai Asahan.

"Untuk Omsi akan dikembangkan keterlibatannya. Sejauh ini sudah 11 orang ditangkap, termasuk yang tiga orang tersebut," ucap Hery.

Dalam kasus ini, selain menyita kapal, polisi juga mengamankan barang bukti berupa 50 karung goni berisi kerang. Beratnya diperkirakan polisi 1,25 ton. Kapal lainnya juga masih dicari polisi hingga kini. [RN]
 

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: