Menelusuri Jejak Hitam Limbah Industri di Kali Bekasi

TrubusNews
Syahroni | Followers 2
05 Sep 2018   21:49

Komentar
Menelusuri Jejak Hitam Limbah Industri di Kali Bekasi

Sungai Cileungsi tercemar sehingga limbahnya sampai ke hulu. (Foto : Doc/ KP2C)

Trubus.id -- Senin (3/9) pagi, Kali Bekasi yang melintasi di Jalan M Hasibuan, Bekasi Timur, Kota Bekasi tampak tertutup buih. Bau menyengat pun menyeruak hingga memaksa siapaun yang melintas, menutup hidung mereka.

Belakangan diketahui, kondisi ini terjadi sejak pukul 6 pagi. Limbah industri yang dibuang di hilir yang disinyalir jadi biang keladi. Anggota Tim Koordinasi Pengelolaan Sumber Daya Air (TKPSA) wilayah Sungai Ciliwung Cisadane, Tengku Imam Qobul mengatakan, karena pencemaran ini, banyak ikan yang menghuni sungai itu mati.

"Tadi ikan pada mati, ikan sapu-sapu aja pada mati, tadi pagi sebelum busanya besar ikan sudah ngambang saya lihat," terang Imam, Senin (3/9) siang.

Belakangan juga terungkap, Kali Bekasi rupanya diduga tercemar limbah pabrik untuk kesekian kalinya. Kondisi ini sudah terjadi selama beberapa hari terakhir. Dugaan pencemaran sendiri mencuat setelah komunitas pegiat lingkungan hidup menemukan saluran pembuang limbah di Kali Cileungsi yang mengalir menuju ke Kali Bekasi.

"Seminggu terakhir kondisi Kali Bekasi memang sudah tercemar. Kualitas air, terutama derajat asam (basa) kadar pH nya tidak netral," ungkap Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Bekasi, Jumhana Luthfi, Senin (3/9).

Dia menjelaskan, pencemaran di Kali Bekasi selain disebabkan limbah pabrik, juga dipicu faktor alam. Turunya hujan Minggu (2/9) malam yang memicu timbulnya busa di sungai tersebut.

"Saat terjadi hujan (Minggu malam), maka terjadi benturan antara ion-ion pencemar yang ada di air sehingga menghasilkan gas yang secara kasat mata karena berada di perairan berwujud busa atau buih," bebernya.

Di saat hujan tak turun, kata dia, aliran Kali Bekasi tidak tampak berbuih meskipun airnya bau karena sudah tercemar limbah pabrik.

‎"Air yang tidak netral dalam keadaan normal, tidak akan menghasilkan busa. Namun jika ada kocokan atau guncangan atau benturan maka akan menyebabkan reaksi yang menghasilkan gas atau buih," imbuhnya.

Hilir Tercemar, Hulu Terpapar

Pencemaran Kali Bekasi bukan kali ini saja terjadi. Limbah yang dibuang pabrik tanpa melalui proses pengolahan yang diduga jadi penyebabnya. Pabrik-pabrik itu sendiri tak hanya ada di kawasan Bekasi. 

Saluran limbah siluman yang ditemukan KP2C. (Foto: Doc/ KP2C)

Ketua Komunitas Peduli Sungai Cileungsi Cikeas (KP2C), Puarman mengatakan, Kali Bekasi merupakan pertemuan dua sungai besar yakni Kali Cileungsi dan Kali Cikeas dari wilayah Kabupaten Bogor. Menurutnya, pihaknya selalu melakukan pemantauan aliran Kali Cileungsi di beberapa pos pantau seperti di Jembatan Wika Desa Telajungudik, Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor. Di lokasi ini, air kali masih tampak jernih dan bening.

Kemudian, pihaknya melakukan pengecekan dua kilometer dari pos pantau itu, tepatnya di Jembatan Cikuda Desa Wamaherang, Kabupaten Bogor.

"Aliran sungai di lokasi ini sudah terlihat hitam dan bau menyengat," katanya.

Puncaknya, komunitas pegiat lingkungan hidup ini menemukan saluran pembuang limbah industri yang dibuat di dasar Kali Cileungsi. Saluran ini, baru diketahui setelah debit air Kali Cileungsi sedang menyusut.

"Kami temukan pipa pembuang limbah itu baru-baru ini. Dan saluran itu, diketahui karena sungai sedang mengering. Kalau debit kali sedang tinggi, saluran tersebut tak terlihat karena tertutup air," imbuhnya.

Dia mengaku, sudah melaporkan temuan ini kepada Pemerintah Kota Bekasi dan juga Pemerintah Kabupaten Bogor agar segera ditindaklanjuti. 

Pasukan Katak Diterjunkan Usut Sumber Limbah

Pencemaran di Kali Bekasi sudah bukan rahasia lagi. Kondisi ini sudah sering terjadi. Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Bekasi, Jumhana Luthfi mengatakan, untuk menangani masalah ini, pihaknya menurunkan sebanyak 30 petugas ke lapangan. Mereka bertanggung jawab untuk memantau perusahaan-perusahaan yang diduga membuang limbah ke kali yang ada di Bekasi.

"Kami sebut pasukan katak, memang pasukan itu ada di pinggir sungai, upaya yang kami lakukan yakni memonitor di wilayah administrasi Kota Bekasi terutama perusahaan-perusahaan kita cek pembuangannya seluruh perusahaan, bahkan saya menyiapkan tim untuk memantau dipinggir kali," kata Luthfi, Selasa (4/9).

Ia menambahkan, jika petugas menemukan ada perusahaan yang membuang limbah sembarangan ke kali, pihaknya akan langsung melakukan penyegelan terhadap perusahaan tersebut.

"Ketika ada perusahaan yang coba-coba main buang limbah, kita tidak segan-segan untuk menyegel perusahaan itu. Terbukti sudah empat perusahaan yang kami segel," ujarnya lagi.  

Ia menerangkan, pabrik-pabrik di Kota Bekasi sebenarnya diperbolehkan membuang limbahnya ke Kali Bekasi. Namun syaratnya, limbah tersebut harus sudah diolah oleh perusahaan tersebut. 

"Perusahan memiliki IPAL, harus diduga ada masalah dengan IPAL mereka. Perilaku buruk mungkin saja, ada IPAL-nya tapi tidak mereka gunakan, mereka langsung buang, tidak diolah, bisa saja seperti itu," ujar dia.

Ia memaparkan, Ada beberapa alasan mengapa masih ada perusahaan yang membuang limbah ke kali Bekasi tanpa diolah lebih dulu. Yang pertama, IPAL perusahaan yang bermasalah.

"Perusahaan memiliki IPAL, harus diduga ada masalah dengan IPAL mereka (perusahaan), perilaku buruk mungkin saja, ada IPALnya tapi tidak mereka gunakan, mereka langsung buang tidak diolah bisa saja seperti itu," katanya.

Kedua, pencemaran limbah di Kali Bekasi yang menyebabkan munculnya busa dan bau tidak sedap terjadi lantaran perusahaan membuang limbah tanpa mengolah limbah terlebih dahulu. Hal itu terjadi lantaran masih banyak perusahaan yang merasa pengolahan limbah itu mahal dan membutuhkan biaya lebih.

"Bisa saja memanfaatkan curah hujan yang tinggi dia (perusahaan) gelontorkan limbah dengan cara bypass, ketika dia bypass, dianggapnya bercampur dengan air dan tidak terlihat. Perilaku untuk melakukan dorongan itu ada karena pengolahan limbah itu mahal," jelas dia. 

Limbah Rumah Tangga Vs Limbah Industri

Dinas Lingkungan Hidup Kota Bekasi menduga, kemunculan busa di sekitar Bendung Kali Bekasi yang melintasi Jalan M Hasibuan, Bekasi Selatan diduga berasal dari limbah detergen rumah tangga.

Busa menutupi aliran Kali Bekasi sejak Senin (3/9) pagi. (Foto: Istimewa)

"Kita belum mau berspekulasi apakah busa ini berasal dari limbah industri atau bukan. Namun indikasi awal kami ada kandungan detergen yang cukup tinggi di Kali Bekasi," kata Kepala Dinas LH Kota Bekasi, Jumhana Luthfi di Bekasi.

Dikatakan Luthfi, faktor pemicu kemunculan busa yang paling mungkin terjadi adalah turbulensi aliran sungai yang mengangkat partikel limbah, termasuk deterjen dari dasar sungai.

"Sedang kita telusuri, indikasi awal itu kemungkinan Kali Bekasi sudah sepekan terakhir hitam. Saat diguyur hujan airnya jadi berbusa, ditambah lagi air terjun di bendung Kali Bekasi yang mengakibatkan turbulensi," katanya.

Pihaknya mengaku telah mengambil sampel kandungan limbah di Kali Bekasi untuk diperiksa melalui laboratorium. Luthfi mengungkapkan, komponen limbah tertinggi adalah detergen yang berasal dari rumah tangga.

"Sebab di kita tidak ada industri, seperti pabrik detergen dan lainnya," katanya.

Hilir Tercemar, Curug Parigi Kota Bekasi Ikut Terdampak

Komunitas Peduli Sungai Cileungsi-Cikeas (KP2C) menyayangkan pencemaran limbah di Curug Parigi, Kecamatan Bantargebang, Kota Bekasi. Sebab curug tersebut rencananya akan dijadikan destinasi wisata air oleh Pemerintah Kota Bekasi.

"Masyarakat sangat dirugikan dengan pencemaran limbah yang dilakukan oleh masyarakat di sekitar Sungai Cileungsi dan Cikeas," kata Ketua KP2C, Puarman, Minggu (2/9).

Curug Parigi pun terdampak dengan pencemaran yang terjadi di Sungai Cileungsi. (Foto: Istimewa)

Atas adanya pencemaran di hilir, kata Puarman, Curug Parigi yang berada di Kecamatan Bantargebang Kota Bekasi ikut tercemar. Sebab, curug tersebut merupakan aliran masuk air dari dua sungai yakni Sungai Cileungsi dan Sungai Cikeas. Setelah itu aliran tersebut baru memasuki wilayah Kota Bekasi.

"Karena hilirnya sudah tercemar sudah pasti di hulu ikut tercemar. Kota Bekasi merupakan wilayah aliran air menuju ke hulu," ucapnya.

Menurut dia, warga di Villa Nusa Indah Kabupaten Bogor sudah merasakan dampak pencemaran itu. Begitu juga warga yang tinggal di sekitar area Curug Parigi, Kecamatan Bantargebang Kota Bekasi yang terkena uap air terjun di sungai tersebut.

"Kami sudah laporkan masalah ini ke Pemerintah Kota Bekasi maupun Pemerintah Kabupaten Bogor supaya kasus pencemaran ini segera ditindaklanjuti," ujarnya.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Bekasi, Jumhana Luthfi mengatakan, sudah menerima laporan terkait tercemarnya Sungai Parigi. Menurut dia, pencemaran itu diakibatkan adanya kiriman limbah dari hilir. 

"Kondisi limbah sudah terjadi di hilir," kata Luthfi.

10 Sungai di Kabupaten Bekasi Juga Terindikasi Tercemar

Sebanyak 10 sungai di Kabupaten Bekasi terindikasi tercemar limbah domestik di wilayah setempat. Indikasi pencemaran itu bila dilihat dari kasat mata dan aroma yang tidak sedap. Selain airnya berwarna hitam pekat, ikan yang ada di sana juga tidak mampu bertahan hidup sehingga terindikasi ekosistem di sana mulai memprihatinkan.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bekasi, Jaoharul Alam, mengatakan, 10 sungai tersebut adalah Sungai Citarum, Sungai Cibeet, Sungai Cipamingkis, Sungai Cikedokan, Sungai Ciherang, Sungai Cikarang, Sungai Bekasi, Sungai Balacan, Sungai Cikarang Bekasi Laut (CBL), dan Sungai Belencong. Semua sungai ini, kata dia, bermuara ke Bekasi bagian utara yang wilayah terbanyak kawasan pertanian di Kabupaten Bekasi.

"Sebanyak 10 sungai itu yang dilaporkan masyarkat ke pemerintah bahwa ada indikasi pencemaran lingkungan di sana," kata Jaoharul di Plaza Pemerintah Kabupaten Bekasi, beberapa waktu silam.

Jaoharul mengatakan, masyarakat melapor bahwa jumlah ikan yang ada di sungai tersebut mengalami pengurangan yang signifikan. Masyarakat yang sebelumnya menggunakan air itu untuk keperluan rumah tangga juga tidak memakainya lagi dengan alasan air berwarna hitam dan mengeluarkan aroma tidak sedap.

Jaoharul menduga ada oknum masyarakat yang membuang limbah domestik di sungai tersebut sehingga mengakibatkan pencemaran lingkungan. Atas dasar itulah, Pemerintah Kabupaten Bekasi menggandeng kepolisian dan TNI setempat membentuk satuan tugas (satgas) untuk mengatasi persoalan pencemaran air sungai.

"Kami bentuk satgas untuk mengamankan, mengendalikan, serta memulihkan daerah aliran sungai (DAS), apalagi di Kabupaten Bekasi ada ribuan pabrik yang berdiri," kata Jaoharul.

Pencemaran Semakin Parah dan Libatkan Banyak Industri

Tercemarnya Kali Bekasi tak luput dari pencemaran yang terjadi di hilirnya yaitu Sungai Cileungsi dan Sungai Cikeas. Kondisi kedua sungai ini pun sudah sangat memprihatinkan. Kandungan limbah semakin parah karena disinyalir melibatkan banyak industri.

"Pencemarannya sudah sangat parah, dan melibatkan banyak industri," tutur Ketua Komunitas Peduli Sungai Cileungsi Cikeas (KP2C), Puarman kepada Trubus.id lewat sambungan telepon, Rabu (5/9).

Ia menambahkan, pihaknya mencurigai terdapat 10-12 perusahaan yang berada di bantaran sungai Cileungsi yang telah membuang dengan sengaja limbah pabrik langsung ke aliran sungai tanpa melalui IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah) terlebih dahulu.

"Perusahaannya bermacam-macam, ada perusahaan tekstil, perusahaan makanan, perusahaan plastik. Dan yang paling parah itu perusahaan yang menanam pipa limbah di dasar sungai, itu nama perusahaannya kami tidak bisa sebutkan, karena sudah ada dalam penyelidikan instansi terkait," jelasnya.

Lebih lanjut, Puarman menegaskan saat ini pihaknya tengah menunggu hasil laboratorium, dari sampel air yang sudah diambil instansi terkait pada tanggal 28 Agustus 2018 lalu. Hasilnya baru akan diketahui 10 hari sejak pengambilan sampel tersebut.  

Pencemaran Terus Terulang

Kondisi Sungai Cileungsi kini semakin parah. Banyaknya limbah di sungai itu kini sudah mulai meresahkan warga. Ketua Komunitas Peduli Sungai Cileungsi Cikeas (KP2C), Puarman menerangkan, pencemaran di Sungai Cileungsi sebenarnya bukan baru sekali terjadi saja. Namun jauh beberapa tahun terakhir, peristiwa ini terus terjadi dan seakan jadi siklus baru di sungai Cileungsi.

"Kalau debit air sedang tinggi, ini limbah enggak keliatan karena bercampur. Nah karena bulan-bulan ini musim kemarau jadi debit air sedikit, barulah ketauan jika ada pipa di dasar sungai dan limbahnya sangat terlihat," paparnya.

Ia menjelaskan, air limbah tersebut biasanya dialirkan ke sungai pada jam tertentu ketika masyarakat tengah terlelap tidur di tengah malam sampai menjelang subuh. Sehingga proses pembuangannya tidak terlalu terpantau masyarakat.

"Biasanya mulai keruh mulai dari jam 01.00 malam sampai jam 05.00 subuh. Itu warnanya hitam pekat, kandang cenderung mengental dan bau busuk bercampuk bau kimia," sebutnya.

"Bahkan kami punya data, ada 40 warga di Vila Nusa Indah 5, kawasan curug parigi itu sudah mengalami gejala mual, pusing dan muntah. Karena perumahan mereka kebetulan bersebelahan persis dengan sungainya," sambungnya. [RN]

 

  0


Anda belum login, masuk atau mendaftar disini


Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: