Karhutla Masih Membara, Target COP 21 Sulit Tercapai

TrubusNews
Astri Sofyanti
28 Agu 2018   11:00 WIB

Komentar
Karhutla Masih Membara, Target COP 21 Sulit Tercapai

Karhutla (Foto : Istimewa)

Trubus.id -- Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) mencatat jika kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih terus berulang di Indonesia, maka target penurunan emisi gas rumah kaca (GRK) serta komitmen pemerintah pada Conference of Parties (COP) 21 di Paris akan sult tercapai.

"Ini mengkhawatirkan kalau ternyata Dirjen Pengendalian Perubahan Iklim justru fokus bahas dagang karbon. Sekarang ini fokus dulu saja ke pengurangan emisi dari sektor LULUCF (land use, land use change and forestry)," terang Manager Kampanye Keadilan Iklim Walhi Yuyun Harmono di Jakarta, Selasa (28/8).

Lebih lanjut pihaknya mengatakan, saat ini pemerintah harus berhati-hati mengeluarkan izin pengelolaan hutan dan lahan, terlebih setelah diketahui 765 titik panas karhutla 2018 ditemukan berada di kawasan hutan tanaman industri dan perkebunan.

Baca Lainnya: Kawasan Langganan Karhutla di Pontianak, Kebakaran Lagi

Pelibatan porsi masyarakat untuk mengelola hutan dan lahan melalui skema Perhutanan Sosial telah disuarakan pemerintah sejak di COP 21 Paris, sebagai salah satu cara menekan karhutla dan menurunkan emisi GRK.

Meski begitu, Yuyun menyayangkan, jika sekarang Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) justru menahan pengeluaran izin maupun hak Perhutanan Sosial di hutan dan lahan gambut.

Sama halnya dengan aktivis dan ahli lingkungan lainnya, ia mengingatkan kembali agar penegakan hukum harus berjalan sebagai efek jera, bukan hanya berhenti di tingkat sanksi administratif saja.

Baca Lainnya: Gawat, Kebakaran Hutan di Nagan Raya Aceh Terus Meluas

Sebelumnya, pakar perubahan iklim dan lingkungan Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof Dr Daniel Murdiyarso mengatakan pemerintah perlu lebih fokus dalam mengelola lahan gambut untuk menyudahi kebakaran hutan dan lahan sekaligus mencapai target penurunan emisi gas rumah kaca (GRK).

"Dalam NDC (Nationally Determined Contribution), secara tegas disebutkan di dalamnya bahwa kontribusi terbesar penurunan emisi gas rumah kaca (GRK) ada di sektor lahan (LULUCF). Tetapi belum secara fokus memprogramkan lahan gambut untuk mencapai target penurunan emisi," ucap Daniel.

Padahal dalam luasan kecil lahan gambut, menurut peneliti CIFOR ini, jumlah karbonnya sangat besar. Sehingga jika memang ingin menembak target menurunkan emisi harus relevan dan juga efektif, sama dengan dengan memilih mengelola lahan dengan kepadatan lahan gambut yang masih cenderung tinggi di Indonesia.

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan: