Waspada, 70 Ribu Orang Indonesia Tiap Tahun Tertular Virus Rabies

TrubusNews
Astri Sofyanti
24 Agu 2018   18:00 WIB

Komentar
Waspada, 70 Ribu Orang Indonesia Tiap Tahun Tertular Virus Rabies

Waspada, 70 Ribu Orang Indonesia Tiap Tahun Tertular Virus Rabies (Foto : Istimewa)

Trubus.id -- Penyakit anjing gila atau lebih dikenal dengan rabies merupakan penyakit hewan menular yang dapat menyerang manusia.

Guna melakukan penanggulangan kasus rabies di Indonesia, Kementerian Pertanian melaui Direktur Kesehatan Hewan, Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Kesehatan drh. Fadjar Sumping Tjatur Rasa, PhD mengungkapkan, Kementan juga bertugas menangani, mengendalikan dan memberantas penyakit rabies.

Anjing merupakan hewan HPR atau penular rabies paling banyak dibandingkan kucing atau kera menularkan ke manusia. Meski berbahaya, virus rabies yang menular ke manusia bisa dicegah dengan melakukan vaksinasi.

Sebanyak 70.000 orang per tahun yang terkena rabies (satu menit orang akan tertular virus rabies).

Baca Lainnya: Kemenkes: Jika Menjalar ke Otak, Virus Rabies Bisa Sangat Mematikan

Di Indonesia, daerah paparan rabies masih sangat banyak daripada yang bebas rabies atau bisa dikatakan hampir seluruh wilayah di Indonesia masih rawan rabies.

Melalui air liur dari hewan juga bisa menularkan rabies ke manusia. Virus rabies menjalar melalui saraf ke otak, dan keluar dari kelenjar air liur hewan. Hal ini menjadi sangat berisiko saat terjadi gigitan kepada manusia.

Mendeteksi rabies pada anjing diakui Fadjar memang tidak mudah. lebih lanjut ia mengatakan, anjing yang mengidap rabies akan memakan waktu dua sampai tiga minggu sebelum akhirnya anjing itu mati. Sehingga jika ada kasus gigitan anjing ke manusia, anjingnya seharusya jangan dimatikan.

“Tapi yang harus kita lakukan adalah menangkap anjing itu kemudian diobservasi selama minimal tiga minggu, jika sebelum tiga minggu anjing mati, otak anjing haris dilakukan observasi di laboraturium untuk mengecek apakah otaknya terindikasi terkena rabies,” jelas Fadjar saat dihubungi Trubus.id, Jumat (24/8).

Sementara itu, untuk orang yang digigit, harus segera membersihkannya menggunakan sabun, lalu periksakan ke dokter atau puskesmas untuk diberikan serum anti rabies.

Baca Lainnya: Singkawang Darurat Rabies, Bagaimana Nasib Anjing-anjing di Sana?

“Kementerian Pertanian hanya bisa bicara dari segi hewannya saja. Jadi kalau bisa anjing yang menggigit jangan dimatikan dan usahakan ditangkap,” lanjutnya.

“Jika masyarakat melihat tanda-tanda anjing terkena rabies yang gejalanya seperti anjing beringas dan suka menggigit apa saja yang dilihatnya segera laporkan, jangan didiamkan,” tuturnya.

Untuk daerah-daerah seperti di Sumatera, Bali, Sulawesi banyak masyarakat memiliki anjing banyak tidak memelihara secara intensif, artinya kebanyakan anjing dilepas dan bebas berkeliaran. Kondisi ini yang masih banyak terjadi di Indonesia, yang patut diwaspadai bersama agar tidak terjangkit rabies.

“Pada saat ini kita tidak bisa menerapkan seperti zaman dahulu, kalau jumlah populasi meningkat bisa langsung diberikan racun untuk menekan populasi. Tapi kalau sekarang sudah tidak bisa seperti itu lagi. Karena saat ini kita harus memperhatikan kesejahteraan hewan. Sehingga satu-satunya cara dengan pemberian vaksinasi dan melakukan kontrol populasi dengan melakukan steril pada hewan,” ucapnya.

Lebih lanjut dikatakan Fadjar, yang perlu kita lakukan saat ini adalah mengontrol populasi. Meski begitu pihaknya tak menampik jika anjing menjadi salah satu hewan yang memiliki kedekatan dengan manusia. [KW]

 

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          

Menteri ESDM: Pemotongan Subsidi LPG 3 Kg Masih Kajian

Peristiwa   18 Jan 2020 - 14:11 WIB
Bagikan: