Meski Ancam Habitat Orangutan, PLTA Batang Toru Diklaim Ramah Lingkungan 

TrubusNews
Binsar Marulitua
23 Agu 2018   19:00 WIB

Komentar
Meski Ancam Habitat Orangutan, PLTA Batang Toru Diklaim Ramah Lingkungan 

orangutan (Foto : Istimewa)

Trubus.id -- Para ilmuwan, sejumlah organisasi non pemerintah, dan komunitas peduli lingkungan telah menyuarakan penghentian pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Batangtoru yang dianggap mengancam keberlangungan hidup orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis). Bersisian dengan itu, pemerintah tetap melanjutkan proyek tersebut untuk memenuhi kebutuhan kelistrikan nasional. 

Direktur Jenderal Konservasi dan Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Wiratno mengatakan, eksosistem Batangtoru merupakan areal dengan luasan mencapai 110.000 hektar kawasan yang dikelola 11 KPH. Di dalamya terdapat kawasan hutan lindung, hutan primer, pertanian dan area penggunan lan. Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Batangtoru yang berada di area pengggunaan lain (APL) diperkirakan tidak akan menganggu habitat orang utan Tapanuli. 

Baca Lainnya: Bangkai Orangutan Ditemukan Tanpa Kepala, Mengapung di Sungai Kalahien

"Menghentikan kegiatan pembangunan PLTA Batangtoru bukan pilihan karena proyek ini strategis dan mempunyai dampak postif bagi pembangunan pertanian dan ekonomi,” kata Wiratno di Jakarta. 

Wiratno mengatakan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Batangtoru yang berada di area pengggunaan lain (APL) diperkirakan tidak akan menganggu habitat orang utan Tapanuli. Meski demikian, pihaknya tetap pihaknya akan mengundang pakar orangutan untuk melakukan penelitian sebagai reson protes dan kritik sejumlah kalangan tersebut 

"Semua harus berdasarkan kajian ilmiah agar tidak menimbulkan pertentangan di kemudian hari,” ungkap Wiratno. 

Sebelumnya, Direktur Teknik dan Lingkungan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Munir Ahmad mengatakan, PLTA khususnya yang bertipe peaker bisa dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan listik dan meminimalkan penggunaan pembangkit berbahan bakar minyak (BBM) pada saat beban puncak. Salah satu PLTA tipe peaker yang kini sedang dikembangkan adalah PLTA Batangtoru di Tapanuli Selatan yang berkapasitas 4x127,5 MW.

PLTA Batang Toru akan memanfaatkan kolam penampung yang tidak luas sehingga tidak akan mengubah bentang alam dan berdampak minimal pada ekosistem yang ada di sekitarnya.

Munir Menjelaskan,  teknologi ramah lingkungan tersebut dikenal nama Run of River Hydropower. Secara sederhana, prinsip kerjanya adalah memanfaatkan aliran air sungai tanpa perlu membangun bendungan yang menimbulkan daerah genangan luas.

Penggunaan pipa pesat (penstock) menjadi bagian penting untuk mengalirkan energi dalam air dengan memanfaatkan gravitasi dan mempertahankan tekanan air jatuh sebelumnya dialirkan menuju turbin. 

Baca Lainnya: Perusahaan Perkebunan, Dalang Pembunuhan Orang Utan?

"Dengan teknologi yang terus berkembang saat ini dimungkinkan untuk membangun PLTA dengan genangan pada kolam harian berukuran kecil terdiri dari 24 hektar badan sungai yang sudah ada dan 66 hektar tambahan area yang akan menggenangi daerah yang sangat curam dan tidak terdapat pemukiman penduduk," ungkapnya.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Walhi, Sumatera Utara,  melalui keterangan tertulisnya mengatakan Pembangunan infrastruktur proyek berupa jalan akses, SUTET dan terowongan bawah tanah sepanjang 13 km pada habitat orangutan Tapanuli di pinggir sungai Batang Toru akan berdampak ganda.

Pertama akan memusnahkan harapan untuk menyambungkan kembali k3 populasi di blok barat (500 s/d 600 individu), di blok timur (160 individu) dan di Cagar Alam Sibual-buali (kurang tersisa kurang dari 30 individu).  kedua, akan menghilangkan sebagain habitatnya yang paling kaya dengan kepadatan orangutan paling tinggi, serta membuka akses bagi manusia pada habitat terakhirnya," jelas Dana.  

Dana menjelaskan, klaim ‘kapasitas 510 MW’ sudah merupakan suatu tanda tanya karena kapasitas tersebut hanya tercapai selama 6 jam setiap hari. Proyek PLTA didesain sebagai ‘peaker’ yaitu menyuplai listrik pada saat beban tinggi dari jam 1800 sampai dengan jam 2400. Maka aliran sungai akan disimpan selama 18 jam kemudian dilepaskan untuk menghasilkan listrik selama 6 jam.

Bayangkan, sungai menjadi kering selama 18 jam dan banjir selama 6 jam. Dengan demikian proyek PLTA ini akan sangat berdampak sosial dan ekonomi kepada masyarakat yang tinggal di wilayah hilir bendungan, terutama masyarakat yang tergantung pada sektor pertanian, perikanan, dan transportasi air. Sawah yang di pinggir sungai tidak akan bisa digarap lagi.[KW]

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: