Stasiun Meteorologi Ambon Beri Peringatan Waspada Angin Kencang

TrubusNews
Thomas Aquinus
23 Agu 2018   08:00 WIB

Komentar
Stasiun Meteorologi Ambon Beri Peringatan Waspada Angin Kencang

Ilustrasi angin kencang (Foto : Istimewa)

Trubus.id -- Stasiun Meteorologi Pattimura Ambon, memperingatkan terjadi peningkatan angin timur dengan kecepatan mencapai 46 KM/jam di Barat Sumatera dan 37 KM/jam Selatan Jawa hingga NTB yang mengakibatkan terjadinya peningkatan tinggi gelombang di barat Aceh hingga Lampung dan selatan Jawa hingga NTT.

Prakirawan Stasiun Meteorologi Pattimura Ambon, Yohana Rottie, Rabu (22/8), menjelaskan kondisi angin tersebut berdampak bagi perairan Selatan Ambon, laut Banda, perairan Kepulauan Kai serta Kepulauan Aru, Tanimbar, Babar maupun Sermata hingga Leti dan laut Arafura.

Berdasarkan kondisi cuaca terebut, masyarakat dihimbau memperhatikan risiko tinggi terhadap keselamatan untuk perahu nelayan dan mewaspadai angin dengan kecepatan di atas 15 knot dan ketinggian gelombang di atas 1,25 meter.

Baca Lainnya : Diterpa Hujan Deras dan Angin Kencang Puluhan Rumah di Medan Rusak Parah

Untuk kapal tongkang diingatkan agar mewaspadai angin dengan kecepatan lebih dari 16 knot dan ketinggian gelombang lebih dari 1,5 meter. Hal yang sama juga berlaku pada Kapal ferry agar mewaspadai kecepatan angin lebih dari 21 knot dan ketinggian gelombang lebih dari 2,5 meter.

Sementara itu, untuk kapal ukuran besar seperti kapal kargo/pesiar dihimbau untuk mewaspadai kecepatan angin lebih dari 17 knot dan ketinggian gelombang diatas 4,0 meter.

Sedangkan, gelombang mencapai 2,5 meter berpeluang terjadi di perairan selatan Ambon, laut Banda, laut Maluku, perairan Selatan Kepulauan Tanimbar serta laut Arafuru bagian Tengah dan Timur.

"Kondisi cuaca sebagian besar cerah berawan hingga hujan lokal," ujar Yohana.

Baca Lainnya : Gelombang Tinggi dan Angin Kencang Masih Hantam NTT

Khusus laut Arafura, Yohana memperingatkan harus diwaspadai karena berada di kabupaten Kepulauan Aru yang masuk daerah terdepan, terluar, dan tertinggal (3 T) yang berbatasan dengan Australia. Hal tersebut karena pertimbangan selama ini, nelayan asal Maluku sering hanyut ke wilayah perairan Australia sehingga diamankan aparat keamanan setempat, selanjutnya dideportasikan ke Indonesia.

Karena itu, Yohana menghimbau para nelayan yang hendak menangkap ikan jangan memaksakan diri melaut dengan mengandalkan armada tradisional.

"Armada tradisional tidak kuat menahan kondisi cuaca tersebut dengan sewaktu-waktu terjadi perubahan kecepatan angin sehingga mempengaruhi tinggi gelombang," terang Yohana.

Baca Lainnya : Gelombang Perairan Barat Lampung Capai 4 Meter, BMKG Keluarkan Peringatan Dini

Saat ini kondisi cuaca telah disampaikan melalui masing-masing Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) di sembilan kabupaten dan dua kota, termasuk para Bupati maupun Wali Kota.

Jika terjadi kondisi cuaca ekstrim, maka Kepala Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas 1 Ambon berwenang tidak memberikan izin berlayar, bahkan sekiranya dipandang perlu aktivitas pelayaran untuk sementara ditutup sambil menunggu laporan perkembangan cuaca terbaru. [NN]

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Ini 5 Daerah di Jawa Barat dengan Kasus Covid-19 Tertinggi

Peristiwa   11 Agu 2020 - 09:18 WIB
Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: