Waspada Bencana Belum Maksimal Diterima Masyarakat Indonesia

TrubusNews
Binsar Marulitua | Followers 0
22 Agu 2018   14:00

Komentar
Waspada Bencana Belum Maksimal Diterima Masyarakat Indonesia

Bangunan runtuh akibat gempa di lombok (Foto : Trubus.id / Thomas Aquinus Krisnaldi)

Trubus.id -- Rangkaian empat kali gempa besar telah melulunlantahkan Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) dan menyebabkan wilayah terdampak sekitarnya turut merasakan imbasnya. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat 506 orang meninggal dunia, 431.416 orang mengungsi, 74.361 unit rumah rusak dan diperkirakan kerugian mencapai Rp 7,7 trilyun.

Lantas, apa hikmah dan pelajaran yang bisa diambil dari dampak gempa Lombok pada 6,4 SR pada (29/7) yang kemudian disusul gempa 7 SR (5/8), 6,5 SR (19/8) dan 6,9 SR (19/8)?  

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho mengatakan melihat fakta tersebut, Indonesia perlu memiliki kesadaran waspada bencana yang memang masih belum maksimal diterima seluruh masyarakat. Bencana tentu dapat terjadi dimana saja, dan kapan saja, tapi kemampuan manusia beradaptasi terhadap bencana dapat dibentuk secara sosial dan kultural. Intinya, kesadaran mitigasi bencana harus dibudayakan di Indonesia.  

Baca Lainnya : Gempa 7,3 SR Hantam Venezuela, Warga Panik

"Hampir sebagian besar korban gempa lombok tertimpa reruntuhan. Pembangunan ekonomi atau infrastruktur pun belum adaptif terhadap potensi bencana," jelas Sutopo kepada Trubus.id ketika ditemui di Gedung BNPB.

Sutopo menjelaskan, pembangunan bandara atau fasilitas umum lain seharusnya jauh dari potensi tsunami. Pengembangan kawasan wisata gunung juga mesti memperhitungkan potensi tanah longsor yang bisa diakibatkannya.

Sutopo menjelaskan, saat ini Indonesia merupakan negara kepulauan yang terletak pada pertemuan empat lempeng tektonik yaitu lempeng Benua Asia, Benua Australia, lempeng Samudera Hindia dan Samudera Pasifik. Pada bagian selatan dan timur Indonesia terdapat sabuk vulkanik (volcanic arc) yang memanjang dari Pulau Sumatera, Jawa - Nusa Tenggara, Sulawesi, yang sisinya berupa pegunungan vulkanik tua dan dataran rendah yang sebagian didominasi oleh rawa-rawa. 

Kondisi tersebut sangat berpotensi sekaligus rawan bencana seperti letusan gunung berapi, gempa bumi, tsunami, banjir dan tanah longsor.

Baca Lainnya : Wapres Ingatkan, Dana Bantuan Pemerintah untuk Bangun Rumah Rusak Akibat Gempa 

Selain itu, wilayah Indonesia terletak di daerah iklim tropis dengan dua musim yaitu panas dan hujan dengan ciri-ciri adanya perubahan cuaca, suhu dan arah angin yang cukup ekstrim. Kondisi iklim seperti ini digabungkan dengan kondisi topografi permukaan dan batuan yang relatif beragam, baik secara fisik maupun kimiawi, menghasilkan kondisi tanah yang subur. Sebaliknya, kondisi itu dapat menimbulkan beberapa akibat buruk bagi manusia seperti terjadinya bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, kebakaran hutan dan kekeringan.

"Kita bisa menoleh pada Jepang sebagai contoh. Anak-anak sekolah sedari kecil terbiasa dalam kegiatan latihan gempa bulanan. Bahkan, negara ini memiliki sistem peringatan darurat yang dapat mengganti siaran radio dan TV secara cepat untuk mewartakan ihwal ancaman bencana. 

Sementara itu, di Indonesia belum banyak langkah pembangunan sistem darurat bencana. Informasi publik pun belum mudah dijangkau seluruh lapisan masyarakat. Belum lagi pengetahuan masyarakat secara umum terkait kewaspadaan bencana. [NN]
 

  0


Anda belum login, masuk atau mendaftar disini


Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan: