Kota Sampit Tertutup Asap Akibat Kebakaran Hutan

TrubusNews
Astri Sofyanti
17 Agu 2018   12:00 WIB

Komentar
Kota Sampit Tertutup Asap Akibat Kebakaran Hutan

Ilustrasi kebakaran hutan dan lahan (Foto : Istimewa)

Trubus.id -- Asap akibat kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) mulai menyelimuti Kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah. Meski asap tak terlalu pekat hal ini membuat banyak warga merasa terganggu.

"Hari ini sepertinya memang asap akibat kebakaran lahan karena tercium bau asap. Biasanya kalau pagi memang sering ada kabut, tapi itu embun dan terasa segar. Kalau ini bau asap dan terasa mengganggu," kata Risa, salah seorang warga, di Sampit, Kalimantan Tengah, Jumat (17/8).

Asap sangat terlihat di kawasan bantaran Sungai Mentaya. Jarak pandang di darat mulai berkurang, meski belum sampai mengganggu lalu lintas.

Baca Lainnya: Kawasan Langganan Karhutla di Pontianak, Kebakaran Lagi

Sekitar pukul 06.00 WIB, pelajar yang hendak berangkat mengikuti upacara pengibaran bendera memperingati HUT Kemerdekaan RI ke-73, terlihat menutup hidung karena asap yang ditimbulkan.

Kabut asap sangat terlihat di tengah Sungai Mentaya. Kawasan seberang sungai dengan jarak sekitat 520 meter tidak bisa terlihat jelas seperti biasanya karena tertutup asap.

"Ini memang asap, karena kalau embun biasanya cepat hilang. Jarak pandang juga berkurang, tapi masih cukup aman," ungkap Rahman, seorang pengendara motor yang melintas terganggu dengan kondisi asap.

Menanggapi kondisi Kota Sampit yang diselimuti asap akibat karhutla, Sekretaris Daerah Kotawaringin Timur Halikinnor mengatakan, Satuan Tugas (Satgas) Penanggulangan Bencana Daerah berupaya keras memadamkan kebakaran lahan.

Saat ini kebakaran cukup marak di kawasan yang sulit dijangkau melalui jalur darat sehingga harus mengandalkan pemadaman melalui udara menggunakan helikopter pengebom air.

Baca Lainnya: Danrem Perintahkan Tembak Ditempat Pembakar Hutan di Rokan Hilir

"Makanya kami meminta satu helikopter disiagakan di Bandara H Asan Sampit, sehingga bisa dengan cepat dimobilisasi ke lokasi kebakaran. Saat ini kondisinya sangat rawan karena kebakaran terjadi di lokasi yang sulit dijangkau melalui jalan darat," tutur Halikinnor.

Menurutnya, kebakaran lahan cukup marak karena curah hujan sangat rendah. Tanah gambut sangat kering sehingga mudah terbakar dan sulit dipadamkan karena api terus membakar hingga ke dalam tanah.

“Saat ini kendala yang dihadapi Satuan Tugas Penanggulangan Kebakaran Hutan dan Lahan adalah masalah teknis di lapangan, yakni sulitnya menjangkau lokasi serta sulitnya mendapatkan sumber air. Jalan satu-satunya pemadaman adalah melalui udara dengan cara pengeboman air atau `water bombing` menggunakan helikopter,” lanjutnya lagi.

Lebih lanjut dikatakan Halikinnor, berdasarkan data, saat ini sudah ada sekitar 470 hektare yang tersebar di sejumlah kecamatan. Kebakaran lahan tidak hanya di kawasan Kota Sampit, tetapi juga kecamatan kawasan luar kota.

Pemerintah daerah menetapkan Kotawaringin Timur berstatus siaga darurat kebakaran hutan dan lahan sejak 16 Juli hingga 18 November 2018. [KW]

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: