900 Hektar Lahan Gambut Terbakar, Warga Rokan Hilir Terkepung Kabut Asap

TrubusNews
Syahroni
16 Agu 2018   16:15 WIB

Komentar
900 Hektar Lahan Gambut Terbakar, Warga Rokan Hilir Terkepung Kabut Asap

Ratusan hektare lahan gambut di Riau, ludes dilalap api. (Foto : Trubus.id/ M Syukur)

Trubus.id -- Dalam sekejap, 900 hektar lahan perkebunan sawit di Desa Tanjung Leban, Kabupaten Rokan Hilir, berubah jadi abu. Api yang muncul sejak Selasa (14/8) petang, sulit dikendalikan karena warga setempat tak punya alat pemadam yang memadai.

Kebakaran ini juga merembes ke pemukiman. Akibatnya, 20 rumah semi permanen, termasuk sebuah mobil dan dua sepeda motor, hangus tak terselamatkan. Kini, ribuan warga di sana dinyatakan tengah terpapar asap sehingga butuh bantuan untuk dievakuasi.

"Untuk warga yang rumahnya terbakar sudah mengungsi ke rumah keluarganya di Bagan Batu dan Simpang Kanan," kata Sekretaris Desa Tanjung Leban, Wandri, dihubungi dari Pekanbaru, Kamis (16/8) siang.

Baca Lainnya : Karhutla di Pesisir Riau Terus Membara

Wandri berharap pemerintah setempat memberikan bantuan seperti masker dan sandang serta pangan karena lokasi kebakaran tergolong sulit diakses. Warga juga disebut Wandri butuh bantuan sosial.

"Bantuan sosial bagi rumahnya yang terbakar, sudah tak ada lagi tempat tinggalnya," imbuh Wandri.

Wandri menceritakan, selama ini warga menggantungkan hidupnya dari berkebun sawit. Namun kini, sawit yang sudah mulai berbuah itu tak akan bisa digunakan lagi karena harus ditanam baru.

Selama ini, sebelum terjadi kebakaran, setiap warga bisa memanen hingga dua ton sawit perbulannya. Sawit ini menjadi satu-satunya mata pencaharian dari 800 kepala keluarga yang di sana.

Wandri menyebutkan, kebakaran diduga disengaja karena sebelumnya ada pembersihan lahan kosong dari desa tetangga. Pihak desa sebelumnya sudah memberi himbauan serta selebaran agar tak membakar jika membersihkan lahan.

"Tapi dibakar juga ketika membersihkan lahan," katanya.

Hingga Kamis (16/8) siang, api memang sudah tidak ada lagi. Hanya tersisa asap serta pendinginan supaya bara api di dasar gambut tak terpantik lagi menimbulkan kebakaran. Menurut Wandri, sulitnya memadamkan api hingga mencapai 900 hektar karena sulitnya sumber air. Ditambah lagi aparat desa hanya punya empat mesin air.

Baca Lainnya : Hanya Satu dari Dua Belas Kabupaten di Riau Aman Karhutla

Saat api berkobar, memang ada satu helikopter melintas dan sempat melakukan water bombing. Hanya saja heli ini langsung pergi ketika api belum terkendali.

"Cuman sebentar saja datangnya lalu pergi," ucap Wandri.

Pendapat Wandri, dari pada menyewa helikopter, sebaiknya Pemerintah Provinsi Riau memperbanyak bantuan mesin air di lokasi rawan terbakar. Pasalnya warga merupakan orang paling dekat dengan lokasi kebakaran.

Wandri menyebut kebakaran tahun ini lebih parah dari tahun 2014. Saat itu, api tak sampai ke pemukiman meski banyak pohon sawit yang terbakar.

"Ini ada lebih parah karena rumah ada yang terbakar," katanya. [RN]

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: