PLTA Bersistem "Peaker" Bisa Turunkan Emisi Gas Rumah Kaca

TrubusNews
Binsar Marulitua
16 Agu 2018   06:48 WIB

Komentar
PLTA Bersistem "Peaker" Bisa Turunkan Emisi Gas Rumah Kaca

PLTA (Foto : Istimewa)

Trubus.id -- Indonesia berkomitmen mengurangi emisi Gas Rumah Kaca (GRK) sebanyak 29 persen dengan upaya sendiri atau 41 persen dengan dukungan Internasional lewat (Nationally Determined Contributions/NDC) yang menjadi bagian dari traktak pengendalian perubahan iklim global, Persetujuan Paris.

Pengembangan Pembangkit listrik tenaga air (PLTA)  bersistem peaker bisa mendorong capaian target pengurangan GRK dari sektor energi.

Direktur Teknik dan Lingkungan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Munir Ahmad  pemeritah akan terus mendorong pembangunan sejumlah proyek pembangkit listrik berbasis energi baru dan terbarukan (EBT) seperti tenaga air (PLTA) dan biomassa (PLTBm).

Pembangkit listrik tenaga air (PLTA)  bersistem peaker, yang bisa dikembangkan selain untuk memenuhi kebutuhan listrik sekaligus meminimalkan penggunaan pembangkit berbahan bakar minyak (BBM) pada saat beban puncak.

"Sistem peaker ini merupakan pembangkit yang berjalan saat permintaan listrik sedang tinggi," kata Munir dalam  diskusi Pojok Iklim di Jakarta, Rabu (15/8). 

Salah satu PLTA tipe peaker yang kini sedang dikembangkan adalah PLTA Batang Toru di Tapanuli Selatan yang berkapasitas 4x127,5 MW. PLTA Batang Toru akan memanfaatkan kolam penampung yang tidak luas sehingga tidak akan mengubah bentang alam dan berdampak minimal pada ekosistem yang ada di sekitarnya.

Munir menambahkan, saat ini bauran energi pembangkit listrik memang masih didominasi batubara yang boros emisi gas rumah kaca (GRK), namun harus menerapkan teknologi batubara bersih, terutama pada pembangkit yang sudah mapan seperti di Jawa-Bali.

"Ke depan, pembangkit batubara berteknologi lama tidak boleh lagi beroperasi," katanya.

 Ia mengatakan bauran energi pembangkitan listrik pada tahun 2017 lalu mencatat kontribusi EBT sebesar 12,52 persen. Dalam rencana umum penyediaan tenaga listrik (RUPTL) 2018-2027, kontribusi EBT dalam bauran energi pembangkitan tenaga listrik ditargetkan naik mencapai 23 persen pada tahun 2025.

Direktur Inventarisasi GRK dan Pengukuran, Pelaporan dan Verifikasi (MRV) KLHK Joko Prihatno mengungkapkan, hasil inventarisasi GRK nasional menunjukkan Indonesia telah berhasil menurunkan emisi GRK sebesar 8,7 persen pada tahun 2016 dari target penurunan emisi sebesar 29 persen pada tahun 2030 berdasarkan Business As Usual (BAU) sesuai dokumen NDC. 

Pada tahun 2016, BAU emisi GRK adalah sebesar 1.764,6 juta ton setara karbondioksida (CO2e). Namun aksi mitigasi perubahan iklim yang telah dilakukan Indonesia berhasil menahan pelepasan emisi GRK sehingga hanya sebanyak 1.514,9 juta ton CO2e.

"Emisi GRK yang berhasil diturunkan sebanyak 249,8 juta ton CO2e. Jadi Indonesia berhasil menurunkan emisi GRK sebesar 8,7 persen dari emisi BAU pada tahun 2030 yang sebanyak 2.869 juta ton CO2e," katanya.

Untuk sektor energi, dari BAU emisi GRK sebanyak 712,26 juta ton CO2e, berhasil diturunkan sebanyak 93,68 juta ton CO2e atau telah berhasil berkontribusi sebesar 3,28 persen terhadap total emisi BAU pada tahun 2030 yang sebanyak 2.869 juta ton CO2e.

Target kontribusi penurunan emisi GRK pada BAU pada tahun 2030 yang sebanyak 2.869 juta ton CO2e adalah 11 persen atau 314 juta ton

 

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: