Tenun Baduy, Kini Makin Disuka karena Warna Cerahnya

TrubusNews
Karmin Winarta
14 Agu 2018   08:27 WIB

Komentar
Tenun Baduy, Kini Makin Disuka karena Warna Cerahnya

tenun baduy (Foto : Istimewa)

Trubus.id -- Seperti suku-suku yang ada di Nusantara, masyarakat Baduy yang tinggal dipedalaman Provinsi Banten tepatnya di Desa Kanekes, Lebak ini pun memiliki tradisi dan adat istiadat yang diturunkan oleh nenek moyangnya.

Salah satunya adalah menenun. Kegiatan ini bagi Suku Baduy merupakan kegiatan yang dilakukan oleh kaum wanita. Umumnya sejak usia dini mereka diajarkan bagaimana cara menenun kain.  

  Sawa, salah satu warga Kampung Gasebo, Desa Kanekes, Baduy Luar mengatakan, proses awal menenun dilakukan dengan memintal kapas hingga menjadi benang. Benang inilah yang kemudian dipakai sebagai bahan untuk membuat kain dan pakaian adat.

Benang-benang yang telah dipilih kemudian disatukan menggunakan alat menenun tradisional yang terbuat dari kayu.  

“Lama pembuatan kain dari proses menenun tergantung dari besarnya kain dan motif yang dipilij. Semakin besar dan rumit maka proses bisa berlangsung hingga satu bulan lebih,” kata Sawa saat ditemui Trubus.id di kediamannya, Minggu (12/8).  

Yang menjadi ciri kha tenun Suku Baduy adalah hasil tenun yang berupa kain yang memiliki warna-warna yang cerah. Warna kain tenun Suku Baduy juga menjadi identias asal usul mereka.

”Jika Baduy Dalam identik dengan warna putih yang melambangkan suci dan terbebas dari pengaruh budaya luar maka untuk Suku Baduy Luar warna hitam dan biru tua menjadi warna yang mendominasi kain tenun hasil kerajinan mereka,” jelasnya

  Masyarakat Suku Baduy di Pegunungan Kendeng, Leuwidamar ini biasa menenun di bagian depan rumah mereka yang disebut dengan sosoro.

  Kegiatan menenun Suku Baduy dapat dilihat langsung saat mengunjungi mereka di Kampung Cibeo, salah satu kampung di Desa Kanekes. Dari sini wisatawan dapat belajar dan mempelajari rumitnya proses pembuatan kain yang dilakukan.  

Satu yang menarik, kegiatan menenun hanya boleh dilakukan oleh kaum perempuan saja. Konon jika pihak laki-laki terkena alat tenun apalagi mencoba kegiatan tradisi ini maka laki-laki tersebut akan berubah perilakunya seperti perempuan  

Hasil pekerjaannya akan dipasarkan di daerahnya sendiri maupun dijual kepada pengunjung. Sedangkan untuk besaran harga tenunan bervariasi, dari harga Rp 50 ribu hingga Rp 300 ribu rupiah tergantung ukuran dan tingkat kesulitannya. 

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          

Menkraf Dorong Indonesia Miliki Peta Geospasial Pariwisata

Peristiwa   22 Feb 2020 - 14:25 WIB
Bagikan: