Dilema Pariwisata, Antara Jumlah Turis dan Kerusakan Alam

TrubusNews
Binsar Marulitua
10 Agu 2018   14:30 WIB

Komentar
Dilema Pariwisata, Antara Jumlah Turis dan Kerusakan Alam

Candi Borobudur (Foto : Istimewa)

Trubus.id --  Indonesia salah satu negara kepulauan terbesar di dunia yang juga memiliki potensi wisata terbaik, memiliki target kunjungan wisata sebanyak 20 juta kunjungan wisaatawan mancanegara sampai pada 2019. Akan tetapi, dorongan promosi pariwisata ke sejumlah destinasti menyebabkan 'kontraksi' terhadap minimnya sosialisasi pariwisata yang berwawasan lingkungan dengan mengutamakan aspek konservasi alam (ekowisata). 

Dirjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) KLHK, Wiratno mengatakan kurang setuju kalau taman nasional dipenuhi oleh wisatawan dalam jumlah banyak.

KLHK tengah menggodok kebijakan terkait wacana pembatasan dan pengetatan aturan kunjungan wisatawan ke sejumlah lokasi wisata yang berada di kawasan konservasi. Sesuai fungsinya, taman nasional merupakan kawasan konservasi yang tak melulu soal wisata. Oleh sebab itu, wisatawan di taman nasional pun perlu dibatasi.

Baca Lainnya: Selamatkan Alam, Lombok Barat Tingkatkan Ekowisata Mangrove

"Saya tidak setuju dengan jumlah target turis yang besar-besar. Tidak di taman nasional. Sangat segmented ekowisata, kalau di tempat wisata lain, 1 juta wisatawan  boleh itu. Pastinya promosi wisata juga harus sejalan dengan capacity, rusak nanti alamnya, "ujar Wiratno di Gedung Manggala Wanabakti, Jakarta, Kamis (9/8). 

Menurutnya, kegiatan wisata di area-area yang termasuk dalam kawasan konservasi harusnya lebih tersegmen dan memastikan adanya unsur edukasi seperti briefing atau arahan yang diberikan pada pengunjung terkait situasi tujuan wisata serta hal-hal yang diperbolehkan serta tidak diperbolehkan.

"Konsep wisata mass tourism, tidak cocok untuk area-area ini. Untuk itu dievaluasi. Sudah ada beberapa penelitian yang akan kita pakai. Seperti Rinjani sudah ada studynya, baru mau selesai studynya sudah ada gempa," ujar Wiratno.

Tak hanya pengunjung, arahan juga akan diberikan pada para operator atau pengusaha wisata di sekitar kawasan. 

“Kita akan melakukan tindakan-tindakan sama seperti di Gunung Rinjani ya, kita lakukan pembatasan. Di Rinjani itu pengunjungnya 80.000 orang per tahun dengan separuhnya orang asing,” katanya, Kamis (9/8)

Baca Lainnya: Pemerintah Dorong Kawasan Konservasi Sebagai Destinasi Wisata

Evaluasi itu juga mencakup kawasan konservasi seperti Taman Nasional Komodo yang salah satu areanya, yakni Gili Lawa mengalami beberapa kebakaran waktu lalu karena kesembronoan pengunjung

“Target wisatawan Indonesia yang dibebankan ke kawasan konservasi itu, it’s not fair. Itu tidak bisa, karena ini limited, bukan membiarkan ribuan orang ombyo’an selfie.Saya tidak setuju dengan target wisatawan yang besar besaran. Itu bukan untuk diterapkan di kawasan konservasi. Area konservasi ini very segmented and limited tourism, ini yang disebut eco tourism,” tegasnya.

Untuk itu, dia menambahkan khusus untuk kawasan Taman Nasional Komodo, selain membatasi jumlah pengunjung, pihaknya berencana memperketat pengawasan dengan dilakukan patroli.

Menurut data KLHK, Indonesia memiliki 54 Taman Nasional dan 129 Taman Wisata Alam berjajar dari ujung barat sampai ujung timur Indonesia dan potensinya sangat besar sebagai destinasi wisata alam dan ekowisata.[KW]

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: