Waspadai Wabah Antraks, Pemkab Karawang Awasi Penjualan Hewan Kurban

TrubusNews
Syahroni
06 Agu 2018   23:00 WIB

Komentar
Waspadai Wabah Antraks, Pemkab Karawang Awasi Penjualan Hewan Kurban

Ilustrasi (Foto : Istimewa)

Trubus.id -- Menjelang perayaan Iduladha, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Karawang terus mengintensifkan pengawasan sebagai upaya mewaspadai penyebaran penyakit antraks. Terlebih, Kabupaten Karawang pernah memiliki riwayat penyebaran penyakit antraks yang menyerang hewan ternak di wilayah itu pada tahun 1950 dan 1985 silam. 

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Karawang, M Hanafi Chaniago mengatakan, pada saat Iduladha nanti, dipastikan kebutuhan akan hewan kurban semakin meningkat. Menurutnya, kebutuhan ini bisa lebih dari 5.000 ekor sapi, kerbau maupun kambing. Karena itu, instansinya akan melakukan pengawasan sebagai upaya mewaspadai penyebaran penyakit yang ditimbulkan oleh bakteri bacillus anthracis tersebut.

Baca Lainnya : Hewan Kurban 13 Kecamatan di Kota Surabaya Diperiksa, Apa Hasilnya?

"Kami akan intensifkan turun ke lapangan untuk mengecek kondisi kesehatan hewan kurban tersebut," ujar Hanafi, kepada sejumlah media, Senin (6/8).

Untuk mengantisipasi kesehatan hewan tersebut, lanjut Hanafi, pada H-7 jelang perayaan idul adha, pihaknya akan menerjunkan tim ke lapangan. Tim tersebut, akan memeriksa kesehatan hewan kurban tersebut.

Hanafi menjelaskan, antraks merupakan penyakit yang paling diwaspadai mengingat penyakit dengan bakteri bacillus anthracis dan spora tersebut mampu germinasi, multiplikasi, dan sporulasi di luar tubuh pada suhu delapan hingga 45 derajat celsius.

Meskipun antraks tidak ditularkan melalui kontak langsung (hewan), tetapi tetap saja penyakit ini sangat mematikan. Selain itu, penyakit ini sangat mudah mewabah. Karena itu, Hanafi mengimbau masyarakat untuk waspada dan harus bisa mengenali hewan yang sehat dan yang sakit. Salah satunya, bisa dilihat dari ciri-ciri fisiknya.

Seperti, jika hewan tersebut terinfeksi antraks, maka ciri-cirinya yaitu berdirinya tidak seimbang, gigi sering gemertak. Lalu, jika sudah akut maka akan mati mendadak akibat adanya perdarahan di otak. Selain itu, suhu badan hewan tersebut sangat tinggi bahkan hingga 42 derajat celcius. 

Baca Lainnya : Mau Beli Hewan Kurban? Hindari Sapi yang Bulunya Berdiri

Hewan tersebut juga akan gelisah, depresi, sesak nafas, pembengkakan pada leher, dada, isi perut, pinggang, dan kelamin keluar. Serta keluar darah kehitaman encer dari lubang tubuh dan kematiannya pada jangka waktu satu sampai tiga hari.

Dia menambahkan, petugasnya akan memeriksa seluruh kondisi hewan ternak tersebut. Hewan kurban yang telah lolos uji kesehatan ini, nantinya akan dipasang label tanda sehat dari dinas terkait. Untuk itu, pihaknya meminta masyarakat lebih jeli. Jangan sampai, membeli hewan yang tidak bermerk (tak ada tanda sehat).

"Pemasangan label sehat ini, sekaligus mencegah adanya transaksi jual beli hewan kurban dengan kualitas buruk," pungkasnya. [RN]

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: