Usai Australia, World Mosquito Berantas DBD di Jogja

TrubusNews
Astri Sofyanti
02 Agu 2018   14:30 WIB

Komentar
Usai Australia, World Mosquito Berantas DBD di Jogja

Ilustrasi (Foto : Istimewa)

Trubus.id -- Sebuah lembaga nirlaba World Mosquito sukses berantas demam berdarah (DBD) di Australia dan menjadikan Yogyakarta menjadi target sasaran berikutnya. Hal ini mengingat jumlah demam berdarah di Yogyakarta cukup tinggi.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta pada tahun 2016 lalu, jumlah pasien yang dirawat akibat virus DBD mencapai 1.076 orang dan 13 di antara mereka meninggal dunia.

Peningkatan tren kasus DBD di Yogyakarta ini hendak diputus menggunakan pengalaman World Mosquito Program di Townsville, kota berpenduduk 187.000 orang di Australia.

Baca Lainnya : Kabupaten Yalimo, Papua, KLB Demam Berdarah, Apa yang Dilakukan Pemerintah?

Caranya dengan menyebar nyamuk yang telah dijangkiti dengan bakteri Wolbachia, nyamuk-nyamuk aedes aegypti di wilayah itu tak lagi membawa virus dengue. Hasilya cukup mencengangkan karena Townsville telah bebas DBD sejak 2014 silam.

"Sebelumnya kami tidak punya apapun untuk memperlambat penyakit ini, semakin lama justru semakin buruk," terang Scott O'Neill, direktur World Mosquito Program, dikutip harian the Guardian, kamis (2/8).

Selama beberapa tahun belakangan para peneliti dari Universitas Monash melepaskan nyamuk-nyamuk ber-Wolbachia di area sekitar kota seluas 66 kilometer persegi.

Masyarakat yang tinggal di kota beriklim tropis ini mendukung sepenuhnya upaya tersebut. Bahkan, para pelajar turut menyebar nyamuk-nyamuk ber-Wolbachia.

 

"Dengan biaya sekitar Rp217.000 per orang, uji coba Townsville menunjukkan bahwa pendekatan ini bisa dilaksanakan secara cepat, efisien, serta terjangkau untuk membantu masyarakat terlindungi dari penyakit yang dibawa nyamuk yang menyebebkan terserang demam berdarah," lanjut O'Neill.

Laman World Mosquito Program menyebutkan, upaya menyebarkan nyamuk-nyamuk ber-Wolbachia di Yogyakarta telah berlangsung sejak Januari 2014 melalui program penelitian yang dipimpin Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada dan didanai oleh Yayasan Tahija.

Salah satu peneliti program tersebut Adi Untarini mengatakan, Wolbachia merupakan bakteri yang diketahui dapat menekan replikasi virus dengue karena mampu berkompetisi dengan virus saat merebut makanan di sel tubuh nyamuk aedes aegypti. Dengan demikian nyamuk penyebab demam berdarah sudah tidak lagi membawa virus dengue.

Hal serupa juga diungkapkan ahli serangga program tersebut, Warsito Tantowijoyo, yang mengatakan masih perlu waktu dan proses untuk mengetahui efektivitas penyebaran nyamuk-nyamuk ber-Wolbachia.

Sebagaimana dikutip di laman Universitas Gajah Mada (UGM), kasus DBD di Kota Yogyakarta sepanjang 2017 mengalami penurunan yang cukup signifikan. Sampai Oktober 2017 lalu, masih ditemukan 383 kasus dengan dua pasien yang meninggal dunia.

"Menurunnya jumlah kasus tersebut kemungkinan besar dipengaruhi adanya program penyebaran nyamuk ber-Wolbachia yang disebar di 12 wilayah di kota Yogyakarta sejak pertengahan tahun lalu. Penyebaran nyamuk ber-Wolbachia masih akan terjadi hingga akhir tahun 2019 nanti," tulis laman UGM.

Meski begitu, Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Kota Yogyakarta, Yudiria Amelia, belum berani menyimpulkan penurunan jumlah kasus DBD tersebut berkat program pelepasan nyamuk-nyamuk ber-Wolbachia oleh UGM. [NN]

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: