Turis-Turis Obesitas Lumpuhkan Keledai di Yunani

TrubusNews
Karmin Winarta
01 Agu 2018   11:30 WIB

Komentar
Turis-Turis Obesitas Lumpuhkan Keledai di Yunani

Turis yang menaiki keledai (Foto : Istimewa)

Trubus.id -- Masalah berat badan yang berlebihan atau obesitas tak hanya membahayakan kesehatan pengidapnya. Namun juga mengakibatkan para keledai di Santorini, Yunani mengalami cedera. Keledai-keledai yang harus mengangkut para turis obesitas tersebut mengalami cedera tulang belakang sampai luka terbuka. 

Foxnews.com menulis, Pejabat setempat mengeluhkan makin hari semakin banyak wisatawan yang kelebihan berat badan yang menaiki keledai. Padahal keledai tersebut harus menaiki perbukitan yang curam untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Karena telalu menahan beban berat, keledai itu mengalami kelumpuhan.  

Merespon hal ini, kelompok hak asasi hewan abru-baru ini mengatakan,  penduduk setempat kini dipaksa mengembangbiakkan keledai  untuk menghasilkan keledai yang kuat agar lebih mudah membawa turis yang kelebihan berat badan.  

Baca Lainnya: Yoghurt Islandia, Pilihan Lebih Baik dari Yoghurt Yunani?

Idealnya keledai tersebut hanya mampu membawa tidak lebih dari 20 persen dari berat badannya. Para turis yang mempunyai kelebihan berat badan ditambah dengan cuaca yang panas dan curamnya medan menyebabkan para keledai cedera.

Selama liburan antara Mei dan Oktober, lebih dari 1.000 turis setiap hari membanjiri Santorini. Para keledai harus menjelajah lokasi sekitar empat ratus hingga 500 langkah berbatu dalam suhu 86 derajat Fahrenheit dengan beban di punggungnya.

Mayoritas, wisatawan yang mempunyai kelebihan berat badan berasal dari Amerika Serikat, Rusia. Badan pembela hak hewan di Santorini menyerukan adanya pembatasan berat untuk pengendara keledai.

Baca Lainnya: Kebakaran Hutan Tewaskan 82 Jiwa di Yunani Diduga Disengaja

"Musim liburan sekarang jauh lebih lama daripada dulu, para keledai harus lebih  banyak bekerja sepanjang tahun," Christina Kaloudi, pendiri Asosiasi Kesejahteraan Hewan Santorini, mengatakan kepada media.

"Mereka bekerja dalam kondisi yang mengerikan tanpa air yang cukup, tempat tinggal yang baik dan tidak cukup istirahat. [KW]

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan: