5 Pedagang Satwa Dilindungi Via Medsos, Diringkus Jajaran Polres Jakarta Barat

TrubusNews
Syahroni
31 Juli 2018   20:45 WIB

Komentar
5 Pedagang Satwa Dilindungi Via Medsos, Diringkus Jajaran Polres Jakarta Barat

Polres Jakarta Barat melakukan gelar perkara pengungkapan kasus perdagangan satwa dilindungi. (Foto : Lampu Hijau/ Yogi)

Trubus.id -- Jajaran kepolisian dari Polres Metro Jakarta Barat berhasil menggagalkan perdagangan satwa dilindungi via media sosial. Lima anggota sindikat perdagangan satwa ini pun berhasil diamankan guna mempertanggungjawabkan perbuatannya.

AS (15), CM (18), ES (20), SR (18), serta SS (25) diamankan petugas dari sejumlah wilayah. Dari tangan mereka, diamankan berbagai jenis burung pemangsa serta berbagai satwa yang dilindungi negara.

Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Barat, AKBP Edy Sitepu mengatakan, jaringan ini terbilang lihai dan cukup lama menjalankan bisnisnya. Modus operandi yang dilakukan adalah dengan memanfaatkan media sosial. 

Baca Lainnya : Bisnis Satwa Langka, Oknum Polisi Berpangkat Brigadir Miliki Rekening Rp7 Miliar

Aksi mereka sendiri terbilang cukup rapi. Edy menuturkan, mereka kerap melakukan transaksi secara online dan hanya orang tertentu saja yang bisa masuk di lingkungan penjualan satwa liar yang mereka bentuk.

“Kami ungkap jaringan perdagangan satwa liar, yang menggunakan media sosial. Di media itu terdapat sebuah grup yang isinya para penjual dan pembeli,” kata Edy, Selasa (16/7).

Ia menambahkan, pihaknya akan terus melakukan pendalaman dan kerjasama dengan Kementrian Kominfo, untuk memblokir serta mengetahui siapa-siapa orang di akun facebook dan whatsapp milik para jaringan itu.

“Jadi masuk ke grup itu tak mudah dan para pelaku ini harus menjaga baik identitasnya agar tidak diketahui betul pembeli itu. Kalau pembeli nanya alamat dimana lokasi penjualan satwa liar di grup itu, langsung drop out (dikeluarkan dari grup oleh admin). Nah, ini adminnya masih kami selidiki berikut sekitaran ratusan anggota di grup ini,” jelasnya.

Baca Lainnya : Pemprov DKI Akan Sidak ke Rumah Warga Pemilik Binatang Buas

Pun jika transaksi terjadi, tambah Edy, para anggota jaringan ini akan meminta ditransferkan uang melalui rekening bersama sebagai pihak ketiganya. Satwa itu pun, kata Edi diantar langsung melalui ojek online jika berada di daerah Jakarta, serta diantarkan melalui bus antar kota antar provinsi (AKAP) jika pembeli ada di luar daerah.

“Jadi, antara pembeli dan penjual aturannya itu tidak dapat bertatap muka dalam bertransaksi satwa dilindungi ini. Cukup transfer, lalu satwa segera diantar. Kalau luar Jawa, diantar satwa itu menggunakan bus AKAP. Para anggota dari jaringan ini, punya juga rekening tampungan,” katanya.

Biasanya, para pelaku menjual satwa dilindungi ini dengan harga bervariasi. Mulai dari Rp400 ribu sampai Rp2 juta. Jenisnya mulai dari berbagai jenis elang, hingga buaya muara. Edy menerangkan, pihaknya dapat mengungkap kasus ini, karena jajaran siber Polres Metro Jakarta Barat sudah mengendusnya.

Baca Lainnya : Jual Belikan Satwa Dilindungi, Seorang Warga Manado Terancam Masuk Bui

“Para pelaku akan diproses hukum, lalu masih ada pekerjaan kami yaitu telusuri para anggota dari jaringan perdagangan satwa dilindungi itu. Maka atas perbuatannya para pelaku ini dijerat Pasal 40 Ayat (2) Jo 21 Ayat (2) huruf (a) Jo Pasal 33 Ayat (3) UU RI no 5 tahun 1999 tentang sumber daya alam hayati dan ekosistemnya,” jelasnya.

Sementara itu, Ahmad Munawir selaku Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jakarta mengatakan, dugaan para pelaku bisa dapatkan satwa-satwa dilindungi negara, yang berasal dari warga atau pengepul yang tinggal di dekat hutan belantara.

“Kebanyakan pembeli adalah kolektor. Bisa saja orang itu memelihara. Asal punya kemampuan, serta sarana dan prasarana untuk satwa itu. Jikalau tidak punya keahlian tapi memelihara, terjerat hukum. Para satwa ini juga segera kami bawa, ke Tegal Alur (Penangkaran BKSDA),” pungkasnya. [RN]

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: