1000 Nelayan di Pasuruan Masih Gunakan Mini Trawl, Alasannya Mengejutkan

TrubusNews
Syahroni
30 Juli 2018   20:15 WIB

Komentar
1000 Nelayan di Pasuruan Masih Gunakan Mini Trawl, Alasannya Mengejutkan

Ilustrasi kapal mini trawl. (Foto : Istimewa)

Trubus.id -- Pemerintah sudah melarang penggunaan alat tangkap ikan pukat harimau sejak 2 tahun belakangan. Larangan itu sendiri sudah tertuang dalam Permen Kelautan dan Perikanan Nomor 2 Tahun 2015 tentang Larangan Penggunan Alat Penangkapan Ikan Pukat Hela dan Pukat Tarik. 

Namun meski demikian, masih banyak nelayan yang masih menggunakan alat tangkap tak ramah lingkungan ini. Bahkan belum lama ini Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pasuruan menemukan masih ada 1.000 nelayan yang masih menggunakan alat tangkap mini trawl (alat tangkap hasil modifikasi dari jaring trawl). Hal itu disampaikan Kepala Bidang Kenelayanan Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pasuruan, Alamsyah Suprijadi beberapa hari lalu.

Baca Lainnya : Ratusan Kapal Trawl Masih Mondar-mandir di Bengkulu

Ia menjelaskan, para nelayan yang masih menggunakan mini trawl sebagian besar berasal dari Kecamatan Nguling dan Kecamatan Lekok. 

Meski demikian, Alamsyah menegaskan jumlah tersebut relatif kecil dibandingkan 6.000 nelayan di seluruh Kabupaten Pasuruan. Sekitar 5000 nelayan sudah menggunakan alat tangkap ramah lingkungan.

"Di Kabupaten Pasuruan ada 6.000 nelayan, masih ada 1.000 yang bandel pakai mini trawl, 5.000 nelayan sudah pakai alat tangkap ramah ikan," tandasnya.

Ia menerangkan, banyak nelayan masih menggunakan alat tangkap ini karena alasan ekonomis. Alamsyah menjelaskan, harga mini trawl yang murah menyebabkan nelayan tergoda memakai alat tangkap terlarang tersebut.

"Harga mini trawl relatif terjangkau jadi salah satu faktor masih banyak nelayan memakainya," katanya lagi.

Alamsyah mengatakan harga alat tangkap tersebut berkisar antara Rp600 ribu sampai Rp700 ribu. Harga ini tak jauh berbeda dengan harga jaring biasa. Namun demikian, penggunaan mini trawl lebih efektif dan efisien. Pasalnya, jika menggunakan mini trawl, hanya membutuhkan satu nelayan dengan membawa satu kapal kecil untuk mencari ikan. 

Baca Lainnya : Peringati Hari Nelayan Nasional, 26 Kapal di Bengkulu Gelar Parade Tolak Trawl

"Waktu yang dibutuhkan hanya sekitar 1-2 jam," terang Alamsyah.

Sementara jika menggunakan jaring atau bubu, minimal harus melibatkan dua nelayan dan proses mencari ikan juga lebih lama.

"Kalau nelayan mencari ikan biasanya malam hari. Nah kalau memakai jaring, bisa selesai pagi hari. Tapi kalau pakai mini trawl cukup 2 jam paling lama. Itulah mengapa masih banyak yang menggunakan mini trawl sebagai alat," ungkapnya. [RN]

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: