Larang Produksi Tempe dan Tahu Sama Saja Larang Mereka Makan

TrubusNews
Karmin Winarta
29 Juli 2018   21:47 WIB

Komentar
Larang Produksi Tempe dan Tahu Sama Saja Larang Mereka Makan

Tempe (Foto : Istimewa)

Trubus.id -- Kali Item yang berada di Jakarta Pusat sampai hari ini masih menjadi perbincangan publik. Air kali yang berwana hitam dan aromanya yang tidak sedap menjadi penyebabnya.

Agar tak menggangu para atlet peserta Asian Games 2018, pemerintah DKI berusaha mencari cara untuk mengatasi masalah ini. 

Salah satu cara yang telah dilakukan Pemda DKI adalah dengan menutup Kali Item dengan waring atau jaring berwana hitam. Namun tampaknya hal ini kurang sukses.

Terbukti Pemda DKI pun membuat solusi kedua yakni dengan menumpahkan 500 kilogram serbuk penghilang bau yang disebut DeoGone. Serbuk ini adalah hasil dari penelitian anak bangsa yang bernama  Dr Tri Panji dari Pusat Penelitian Bioteknologi dan Bioindustri Indonesia.

Solved? Ternyata belum. 

Baca Lainnya: Ini Penjelasan Kenapa Kali Item Warnanya Hitam

Bahkan Pemerintah DKI mempunyai wacana baru, yakni melarang seluruh pengrajin tahu dan tempe di sekitar kali menghentikan produksinya. Karena limbah yang menguarkan bau tak sedap diyakini berasal dari limbah tahu dan tempe.

Kepala Dinas Koperasi UMKM dan Perdagangan, Irwandi, di Balai Kota, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Jumat (27/7/2018) mengatakan, kalau mungkin masih menganggu akan disetop dulu.  

Baca Lainnya: Gubernur DKI: Bukan Pewangi, Kali Item akan Disemprot Cairan Penghilang Bau

Merespon wacana itu, Ketua Umum Gabungan Koperasi Produsen Tahu Tempe Indonesia (Gakoptindo) Aip Syariffuddin mengatakan pada media, para pengrajin tahu dan tempe mengandalkan produksinya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Jika mereka diminta berhenti  produksi, berarti Pemerintah DKI sama saja melarang mereka makan.

"Pemerintah DKI perlu mencari jalan keluar tanpa harus menyetop produksi. "Jadi cara terbaik carilah jalan keluar, mereka tetap produksi tapi limbahnya jangan dibuang ke kali," terangnya.

Kira-kira apa solusi berikutnya? [KW]

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Masalah Subsidi Pupuk, Begini Solusi Pakar IPB

Peristiwa   19 Jan 2021 - 08:37 WIB
Bagikan:          
Bagikan: