Peredaran 1.080 Ekor Burung Dilindungi Digagalkan

TrubusNews
Binsar Marulitua
25 Juli 2018   17:45 WIB

Komentar
Peredaran 1.080 Ekor Burung Dilindungi Digagalkan

Tim Gabungan Balai Gakkum Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Wilayah Sumatera dan Balai KSDA Jambi, berhasil gagalkan perdagangan burung (Foto : Dok KLHK)

Trubus.id -- Tim Gabungan yang melibatkan Balai Gakkum Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Wilayah Sumatera dan Balai KSDA Jambi, berhasil menggagalkan upaya perdagangan burung dilindungi jenis Kolibri Ninja, Sepah Raja dan Gelatik Wingku di Jalan Lintas Timur Sumatera, Rabu dini hari (25/7).

Setelah dilakukan penghitungan dan pengenalan jenis oleh ahli, jumlah burung yang disita yaitu 1380 ekor. Rincian 1.080 ekor burung dilindungi dan 300 ekor burung tidak dilindungi tanpa Surat Izin Angkut Tumbuhan dan Satwa Liar (TSL) Dalam Negeri (SAT-DN). Burung tersebut diangkut menggunakan bus dengan rute trayek Pekanbaru - Lampung.

Direktur Pencegahan dan Pengamanan Hutan, Sustyo Iriyono, mengatakan, kerja keras Balai Gakkum LHK Sumatera dalam 1 minggu ini telah berhasil mengungkap pemain-pemain besar peredaran TSL. 

Baca Lainnya : Ramai, Bunga Langka dan Dilindungi Akan Mekar di Bengkulu

"Kejahatan-kejahatan ini harus kita tindak tegas. Mengingat pentingnya keberadaan satwa yang dilindungi, maka sudah sepantasnya pelaku dihukum seberat-beratnya agar ada efek jera," tegas Sustyo," jelasnya seperti dalam keterangan tertulis.

Saat ini bus dan sopir tersebut telah diamankan di Mako SPORC Brigade Harimau Jambi, untuk dimintai keterangan lebih lanjut oleh tim penyidik. Pelaku akan dikenakan pasal 21 ayat (2) huruf a Jo. Pasal 40 ayat (2) UU Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya dengan acaman sanksi pidana penjara maksimal 5 (lima) tahun dan denda maksimal Rp. 100.000.000,00 (seratus juta rupiah).

Baca Lainnya : Jual Belikan Satwa Dilindungi, Seorang Warga Manado Terancam Masuk Bui

Sementara itu, Kepala Balai Gakum KLHK Wilayah Sumatera, Edward Sembiring, menyampaikan bahwa perdagangan satwa liar merupakan kejahatan serius dan terorganisir yang melibatkan jaringan antar provinsi bahkan lintas negara.

“Kasus ini akan dikembangkan sampai menjerat ke pemilik dan pemodal serta jaringan di atasnya untuk memberikan efek jera. Upaya penegakan hukum akan terus dilakukan untuk memerangi perburuan dan perdagangan satwa liar dalam rangka penyelamatan dan upaya konservasi satwa liar di habitatnya,’’ pungkasnya. [NN]

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: