CIPS: Benih Jagung Program UPSUS Tidak Seoptimal yang Diklaim Kementan

TrubusNews
Syahroni
25 Juli 2018   06:00 WIB

Komentar
CIPS: Benih Jagung Program UPSUS Tidak Seoptimal yang Diklaim Kementan

Ilustrasi (Foto : Istimewa)

Trubus.id -- Dalam Peraturan Menteri Pertanian Nomor 3 Tahun 2015 tentang Upaya Khusus (UPSUS), Kementan menetapkan alokasi distribusi benih sebesar 65 persen untuk benih produksi pemerintah (Balitbang dan produsen lain berlisensi Balitbang) dan 35 persen diproduksi perusahaan swasta.

Namun temuan Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) menilai, produktivitas jagung dari benih hibrida yang diberikan dari bantuan Program UPSUS ini tidak seoptimal yang diklaim kementerian tersebut.

Dalam pemaparan hasil penelitian CIPS yang digelar di Jakarta, Selasa(24/7), Peneliti CIPS, Imelda Freddy mengatakan, benih UPSUS yang diproduksi Balitbang Pertanian diklaim dapat menghasilkan potensi panen minimal 10 ton per hektare. Namun pada kenyataannya berbeda di lapangan.

"Realisasi di lapangan berbeda, terutama dari bibit yang diproduksi dari Balitbangtan. Mereka hanya mendapat panen 5 ton per hektare, padahal petani sudah menerapkan teknik budidaya yang baik," kata Imelda.

Menurut penelitian CIPS yang dilakukan di Dompu, Nusa Tenggara Barat dan Sumenep, Jawa Timur, ditemukan kelompok petani yang mendapatkan benih dari produksi Balitbangtan hanya mencapai panen 3-5 ton per ha.

Sementara itu, kelompok petani yang mendapatkan benih dari perusahaan swasta mencapai panen 7-10 ton per ha atau dua kali lebih tinggi daripada benih dari Balitbangtan.

Dengan temuan ini diketahui, petani yang menggunakan benih jagung hibrida yang dibeli di luar program UPSUS ternyata dapat menghasilkan panen jagung hingga 13 ton per ha.

CIPS menyebut, menurut penyuluh pertanian di lapangan, sebagian benih dari kuota 65 persen yang diproduksi Balitbangtan tersebut mengindikasikan akan sulit tumbuh jika ditanam. Bahkan ditemukan juga benih-benih yang mengeluarkan bau tidak sedap, berjamur dan terdapat kutu. Karena itu banyak petani yang memilih untuk membeli benih sendiri di luar program UPSUS.

Selain karena produksi yang tidak optimal, distribusi benih dari program UPSUS juga seringkali terlambat sehingga berpengaruh pada masa tanam jagung dan berpotensi gagal panen.

"Para petani lebih memilih membeli sendiri benih jagung karena ingin memastikan supaya tidak telat tanam jagung dan lebih terjamin dari segi kualitas," kata Imelda. [RN]

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan: