Modus Baru, 4,6 Ton Daging Celeng Diselundupkan Bersama Pisang

TrubusNews
Syahroni
23 Juli 2018   08:45 WIB

Komentar
Modus Baru, 4,6 Ton Daging Celeng Diselundupkan Bersama Pisang

Ilustrasi (Foto : Istimewa)

Trubus.id -- Setelah lama tak terdengar, upaya penyelundupan daging celeng atau babi hutan kembali terungkap. Kali ini, sebanyak 4,6 ton daging celelng asal Sumatera yang berhasil diamankan.

Pengungakapan ini sendiri merupakan buah ketelitian Balai Karantina Pertanian (BKP) Cilegon. Berkat kejelian petugas BKP, truk yang mengangkut 4.637 kilogram daging celeng ilegal asal Palembang, Sumatera Selatan dengan tujuan Solo, Jawa Tengah itu berhasil diamankan.

Truk dengan nomor polisi G 1450 LD tersebut diamankan di dermaga V Pelabuhan Merak, Banten, saat turun dari kapal KMP ALS, Jumat (20/7) petang.

Baca Lainnya : BKP Cilegon Musnahkan 11 Ton Daging Celeng yang Akan Diselundupkan ke Pulau Jawa

"Sebelumnya petugas mendapat informasi dari masyarakat adanya kendaraan yang dicurigai bermuatan media pembawa tanpa dokumen karantina melintas melalui pelabuhan penyeberangan Bakauheni-Merak," kata Kepala BKP Cilegon, Raden Nurcahyo saat menggelar konferensi pers di Kantor BKP Cilegon, Minggu (22/7).

Para pelaku menyelundupkan daging celelng ilegal ini dengan modus baru. caranya, daging dibungkus plastik putih kemudian dilapis kardus dan karung putih untuk kemudian disimpan di bagian bawah truk yang bagian atasnya ditumpuki pisang.

"Setelah dilakukan pemeriksaan fisik dan laboratorium ternyata memang benar muatan itu adalah daging celeng. Hasil pengujian oleh Balai Karantina Pertanian menggunakan rapid test target uji isentifikasi spesies didapatkan hasil positif daging babi," ujarnya.

Saat ini, daging beserta kendaraan diamankan di kantor BKP termasuk 1 orang sopir dan kernet sebanyak 3 orang. Ketiga orang itu masih berstatus saksi dan dilakukan pemeriksaan intensif untuk mengetahui modus penyelundupan.

Baca Lainnya : Positif Flu Burung, 320 Lovebird dan 92 Merak Dimusnahkan BBKP Bandara Soetta

"Penahanan didasari oleh UU No. 16 Tahun 1992 tentang Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan, yakni setiap media pembawa hama penyakit hewan karantina yang dibawa atau dikirim dari suatu area ke area lain di dalam wilayah negara Republik Indoneaia wajib dilengkapi sertifikat kesehatan dari area asal," terangnya.

Secara terpisah, Kepala Pusat Karantina Hewan dan Keamanan Hayati Hewani, drh Agus Sunanto menambahkan, penyelundupan daging celeng harus mendapat perhatian khusus. Terlebih, daging ini mengandung cyste yang sangat tinggi dan berbahaya bagi manusia. 

"Kami pun pernah menjajaki daging celeng yang memang banyak di Sumatera, ditawarkan untuk kebun -kebun binatang pun ditolak, karena kandungan cyste tinggi dan sangat berbahaya," jelasnya. [RN]

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: