Dua Langkah Kementan Kendalikan Harga Telur Ayam 

TrubusNews
Astri Sofyanti
19 Juli 2018   18:00 WIB

Komentar
Dua Langkah Kementan Kendalikan Harga Telur Ayam 

Telur ayam (Foto : Astri Sofyanti/ Trubus.id)

Trubus.id -- Berbagai upaya dilakukan Kementerian Pertanian (Kementan) untuk mengendalikan harga telur ayam di sejumlah daerah yang alami kelonjakan harga usai Lebaran 2018.

Setelah melakukan pembahasan khusus dengan para skateholder Badan Ketahanan Pangan serta Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjend PKH) Kementerian Pertanian (Kementan) menyampaikan sejumlah hal terkait lonjakan harga telur ayam beberapa waktu belakangan.

Faktor-faktor penyebab kenaikan harga telur dan juga daging ayam ras usai lebaran disebabkan terjadinya lonjakan kebutuhan telur secara nasional terkait beberapa program pengadaan telur langsung untuk masyarakat miskin dan KJP di wilayah DKI Jakarta.

Baca Lainnya: Operasi Pasar, Inilah 50 Titik yang Jual Telur Ayam Rp19.500 per Kg

Faktor kedua yakni, para peternak menganggap harga ayam menjelang Lebaran yang bagus membuat banyak peternak melakukan afkir ayam petelurnya untuk dijual dagingnya.

Ketiga, setelah pelarangan penggunaan Antibiotic Growth Promoters (AGP) dan Ractopamine dalam pakan ternak, harga telur dan daging ayam menjadi mahal karena telur zero residu AGP.

Penggunaan AGP pada hewan ternak dikhawatirkan menimbulkan resistensi bagi orang yang mengkonsumsi daging atau telur yang mengandung AGP.

"Pengaruh yang cukup signifikan sebenarnya bukan pada pelarangan AGP, karena peternak sudah banyak melakukan substitusi sebagai pengganti pemakaian AGP. Menurut peternak layer, justru penyakit koksi yang terbesar pengaruhnya dalam menurunkan produksi", ungkap Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan, I Ketut Diarmita berdasarkan rilis Kementan.

Baca Lainnya: Harga Telur Ayam Capai Rp30.000 per Kg, Tanggapan Kementan?

Faktor keempat adalah adanya permintaan telur yang meningkat karena adanya acara hajatan/pesta dan liburan panjang.

Untuk itu, Kementan memberikan solusi dari permasalahan tersebut dengan segera melakukan penghitungan ulang prognosa kebutuhan telur dan ayam ras. 

Kedua, berkoordinasi dengan Kemendag untuk mengkaji kembali harga acuan telur dan ayam ras tingkat produsen dan konsumen. 

"Dan sesuai hasil rapat dengan berbagai pihak terkait hari ini, Ketua Pinsar Singgih Janu Ratmoko mengupayakan harga telur Segera stabil dalam minggu ini," tambahnya lagi.

Sebagai informasi Ditjen PKH Kementan merilis data produksi telur dari Januari hingga Mei aman bahkan surplus. Produksi telur bulan Juni 2018 sebanyak 153.450 ton dan kebutuhan telur bulan Juni sebanyak 151.166 ton, artinya ada Surplus telur dibulan Juni sebanyak 2.284 ton. Dengan begitu artinya pada Juni lalu produksi telur tidak ada kekurangan.

Foto: astri sofyanti

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          

Kasus Kematian Akibat Covid-19 Naik Jadi 2.858 Jiwa

Peristiwa   28 Feb 2020 - 12:04 WIB
Bagikan: