Bisnis Satwa Langka, Oknum Polisi Berpangkat Brigadir Miliki Rekening Rp7 Miliar

TrubusNews
Syahroni
17 Juli 2018   15:45 WIB

Komentar
Bisnis Satwa Langka, Oknum Polisi Berpangkat Brigadir Miliki Rekening Rp7 Miliar

persidangan Brigadir Ali dan Polda Riau sewaktu mengekpos kasusnya pada tahun lalu. (Foto : Trubus.id/ M Syukur)

Trubus.id -- Meski baru menyandang pangkat brigadir polisi, namun rekening seorang oknum polisi di Polres Pelalawan, Riau ini cukup besar juga. Bayangkan saja, dengan gaji seorang polisi berpangkat Brigadir saja, oknum ini bisa punya tabungan rekening sebesar Rp 7 miliar di Bank Central Asia (BCA).

Namun belakangan terungkap, rekening gendut milik oknum polisi berinisial MAH ini diperolehnya hanya dalam jangka waktu setahun dan bukan berasal dari gajinya sebagai pelayan masyarakat.

Di sidang Pengadilan Tipikor pada Pengadilan Negeri Pekanbaru terungkap, uang miliaran milik Brigadir MAH ternyata diperolehnya setelah memperjualbelikan satwa dilindungi, tenggiling. Hasil penjualan satwa langka dilindungi ini juga yang ahirnya menyeretnya ke tindak pidana pencucian uang (TPPU).

Brigadir MAH menjalani persidangan terkait rekening gendut yang diduga hasil pencucian uang dari penyelundupan tenggiling. (Trubus.id/ M Syukur) 

Menurut Jaksa Penuntut Umum dari Kejaksaan Negeri Pekanbaru, HA Miko, uang senilai Rp 7 miliar yang diperoleh dalam dicurigai sebagai uang hasil transaksi penjualan tenggiling. Salah satunya penyelundupan 70 ekor tenggiling yang sempat digagalkan Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Riau pada tahun lalu.

Dari transaksi terakhir itu, dari terdakwa MAH disita uang Rp 350 juta. Sementara sisanya dari Rp 7 miliar, masih perlu dibuktikan lagi di persidangan dengan pemeriksaan saksi dan alat bukti.

"Memang di rekening BCA terdapat uang sejumlah Rp 7 miliar. Itu total transaksi. Itu jatuhnya di modal beli tenggilingnya. Total transaksi jual beli tenggiling setahun," ujar Miko kepada wartawan usai sidang perdana terdakwa Ali, Selasa (17/7).

Tak hanya uang, terdakwa dalam sidang yang dipimpin hakim Dahlia Panjaitan SH ini juga disebutkan bahwa MAH pernah membeli mobil jenis Pajero Sport di sebuah showroom mobil di Kota Pekanbaru. Selain itu ia juga sempat membelanjakan uang ini untuk membeli kacamata senilai Rp3 juta lebih. 

"Selain itu, Ali juga didakwa mengalihkan sejumlah uang ke beberapa rekening milik keluarga," terang Miko.

Terkait uang Rp 7 miliar ini, Miko menyebut MAH membantahnya. Miko pun mempersilahkan MAH membuktikan di persidangan nanti. Hanya saja, dalam dakwaan yang telah dibacakan, MAH tak mengajukan keberatan terhadap dakwaan.

"Tidak mengajukan eksepsi dia," ucap Miko.

Jajaran Polda Riau melakukan gelar perkara kasus penyelundupan tenggiling yang menyeret nama Brigadir MAH. (Trubus.id/ M Syukur)

Atas perbuatannya ini, MAH dijerat dengan Pasal 3 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 tentang TPPU juncto Pasal 5 ayat 1 KUHPidana.

Dalam sidang, Hakim Dahlia sempat mempertanyakan apakah pidana awalnya, yaitu penyelundupan tenggiling sudah inkrah (berkekuatan hukum tetap) atau belum. Terdakwa MAH lalu menjawabnya sudah, dengan 3 tahun vonis penjara di Pengadilan Negeri Pelalawan.

Kuasa hukum terdakwa, Mayandri Suzarman terkait ini menyatakan akan membuktikan jika dakwaan terhadap kliennya salah.

"Kami akan buktikan di pengadilan nantinya bahwa apa yang didakwakan JPU itu tidak terbukti. Uang itu hasil pencariannya sendiri tidak ada kaitannya dengan tindak kejahatan seperti yang didakwakan jaksa," tegas Mayandri.

Dalam dakwaan juga disebutkan, dalam penyelundupan 70 trenggiling terdakwa Ali berperan sebagai pemberi perintah kepada pelaku lainnya, J dan A (keduanya sudah divonis), untuk berangkat ke Lubuk Jambi, Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing) menjemput 70 ekor tenggiliing dari pengepul.

Terdakwa MAH mengirimkan uang sebesar Rp 2 juta kepada A untuk biaya operasional serta merental mobil. Selanjutnya satwa yang memiliki nama latin Manis javanica itu diangkut menggunakan lima kotak berwarna orange dalam keadaan hidup dengan berat 300 kilogram lebih, di mana harga satu kilogramnya mencapai Rp 350 ribu.

"Tujuannya Sungai Pakning, Kabupaten Bengkalis dengan melintasi Kota Pangkalan Kerinci, Pelalawan untuk dijual ke Malaysia," jelas Miko.

Tahu kedua pesuruhnya ditangkap, terdakwa Ali berusaha melobi penyidik supaya kasusnya tak dijalankan. Akhirnya, penyidik Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Riau menangkapnya dan mengembangkan penyidikan ke TPPU. [RN]

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: