Stop Sampah Plastik, Pria Ini Ciptakan Gelas yang Bisa Dimakan

TrubusNews
Astri Sofyanti
16 Juli 2018   10:30 WIB

Komentar
Stop Sampah Plastik, Pria Ini Ciptakan Gelas yang Bisa Dimakan

Gelas yang bisa dimakan (Foto : Foto: Dok. Evoware)

Trubus.id -- Inovasi mulai banyak dilakukan oleh genarasi muda demi menjaga lingkungan dan mengurangi volume sampah yang kian hari menumpuk, terutama di Jakarta. Pria yang satu ini menciptakan produk ramah lingkungan yang cukup dikenal hingga mancanegara.

Pemuda itu adalah David Christian. Ia menciptakan gelas ramah lingkungan yang bisa dimakan namanya Ello Jello.

Setelah 4 tahun mengenyam pendidikan tinggi di Kanada, pada 2015 David kembali ke tanahair. Saat itu ia berpikir untuk bisa turut berperan mengurangi sampah di Jakarta.

"Terutama sampah plastik, itu menimbulkan kontaminasi. Aku bikin riset dan terpikir membuat produk yang bisa kasih solusi dan bisa mengedukasi, tapi dengan cara menyenangkan," tuturnya baru-baru ini.

Baca Lainnya: Kisah Sugih Nugroho, Pengusaha Anggrek Sukses Beromzet Wow

Untuk itu, David mulai mencoba membuat produk gelas plastik yang terbuat dari rumput laut. Produk yang dibuatnya bukan hanya ramah lingkungan tapi juga bisa langsung dimakan. Sehingga tidak meninggalkan sampah setelah produk dikonsumsi.

David memilih rumput laut lantaran bahan bakunya yang berlimpah di Indonesia. menurutnya hal itu juga bisa membantu para petani rumput laut.

"Kita produsen rumput laut terbesar. Tapi kebanyakan diekspor. Lagi pula banyak tengkulak yang biasanya beli Rp14.000 sampai Rp16.000 per kilogram. Kalau kami bisa bayar Rp100 ribu per kg," paparnya.

David berani membayar tinggi untuk bahan baku rumput laut lantaran misi utama bisnisnya memang tujuannya sosial. Untuk itu, ia juga meminta para petani untuk membersihkan rumput lautnya sebelum dikirim dari Makassar.

Baca Lainnya: Keren, Tiga Pria Ini Ciptakan Tas dan Sepatu Karung Goni Ramah Alam

Bisnisnya resmi berdiri pada April 2016 dengan nama Evoware. Modal yang dikeluarkan David bertahap, bahkan ia mengaku sampai lupa berapa pundi-pundi uang yang sudah dikeluarkan untuk membangun usahanya.

"Modal awal enggak dihitung karena keluar gitu saja. Ya puluhan mungkin puluhan juta, karena untuk riset dan beli barang saja," tuturnya.

Dia memasarkan produknya secara online melalui webtsite ataupun media sosial seperti Instagram. Pelanggannya tidak hanya individu tapi juga restoran.

"Untuk restoran kita jual powder dan cetakannya. Jadi mereka bisa bikin sendiri. Tergantung orderan masuk," ujarnya.

Ia mengaku bukan hanya perusahaan di Indonesia, David juga menawarkan perusahaan di luar negeri dengan mengirimkan sampel. Bahkan sekitar 87 persen dari produk plastik yang dapat dimakan diproduksi untuk dikirim ke luar negeri.

"Orang luar negeri lebih sadar untuk menjaga lingkungan. Mereka bersedia membayar lebih mahal. Meskipun masih membeli sampel, tapi mereka sudah minat," ungkapnya.

 

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: