Benteng Terakhir Pertahanan Satwa Indonesia, Antara Industri Pariwisata dan Pelestarian Alam

TrubusNews
Binsar Marulitua
13 Juli 2018   07:30 WIB

Komentar
Benteng Terakhir Pertahanan Satwa Indonesia, Antara Industri Pariwisata dan Pelestarian Alam

Komodo (Foto : Istimewa)

Trubus.id -- Meski hanya menempati 1,3% luas daratan bumi, Indonesia mewarisi 17% persen satwa yang ada di seluruh dunia. Bahkan, penelitian Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mencatat dalam kurun waktu 1993-2004, 100 fauna baru menghiasi Negeri Zamrud Khatulistiwa ini. 

Bak sekeping mata uang tak terpisahkan, dengan kekayaan alam, membuat tantangan yang dihadapi adalah bagaimana memanfaatkan potensi ini bagi kesejahteraan masyarakat. Terlebih, ditetapkannya pariwisata sebagai salah satu sektor andalan perekonomian nasional menargetkan 20 juta wisatawan dengan perkiraan pendapatan sekitar Rp 260 triliun. 

Merupakan pertanyaan yang membutuhkan penjelasan panjang serta tidak mudah dijawab oleh pemerintah di tengah isu-isu global maupun nasional, dalam pembangunan pariwisata berbasis kesadaran lingkungan (ekowisata). Sementara, bersisian dengan itu catatan kritis lainnya menempatkan Indonesia dalam stigma remeh dalam pengelolaan keberlanjutan lingkungan dan eksploitasi sumberdaya alam yang tidak bertanggung jawab. 
 
The Travel and Tourism Competitiveness Indeks 2017 yang dikeluarkan World Economic Forum, menunjuk Indonesia sebagai salah satu negara yang sukses membangun destinasi berkelanjutan. Tetapi, Benarkah pariwisata berkelanjutan bisa berjalan beriringan dengan kelestarian lingkungan? 

Atau, bagaimana meningkatkan kesadaran masyarakat global untuk pariwisata berkelanjutan dan mengubah pariwisata sebagai katalis perubahan ke arah yang lebih positif? 

Berikut adalah catatan di mana destinasi wisata berbasis satwa unik dan langka yang memukau wisatawan, status satwanya malah berada dalam keberancaman menuju punah. 

1.  Komodo (Varanus komodoensis)

Jumlah populasi komodo yang hanya berada di sekitaran Taman Nasional Komodo (TNK) tersisa 3.012 ekor. Penyebarannya berada di lima pulau yaitu Pulau Komodo, Pulau Rinca, Pulau Padar, Pulau Gili Motang, dan Pulau Nusa Kode. 

Penyebab menurunnya populasi komodo adalah gangguan ekosistem alam yang menyebabkan berkurangnya sumber makanan seperti babi hutan, rusa, dan kuda. Sementara itu, komodo dalam ukuran kecil mengonsumsi serangga, unggas dan lainnya. 

Penyebab lainnya adalah kebakaran hutan, baiknya karena ulah sejumlah oknum yang membakar lahan atau terjadi alami karena gesekan ranting. 

Salah satu yang membuat komodo sulit berkembang biak adalah proses perkawinan mereka. Komodo jantan harus bertarung terlebih dahulu untuk mengawini seekor betina. Tidak hanya itu, komodo yang baru menetas dari telur sangat rentan dimangsa predator lain atau komodo yang lebih besar.

2. Orangutan (Pongo)  

Sang pemelihara rimba satwa asli  Indonesia ini terbagi ke dalam tiga jenis. Pongo pygmaeus (orangutan kalimantan) dan Pongo abelii (orangutan sumatera) dan Pongo tapanuliensis (orangutan tapanuli). 

Kerusakan Habitat adalah salah satu ancaman terbesar menurunnya populasi yang penyebarannya berada di sebagian besar wiayah Sumatera dan Kalimantan tersebut. Selain itu, ekspansi alih fungsi lahan perkebunan menjadi momok yang tak terbantahkan. 

Berdasar pada hasil Population and Habitat Viability Assessment (PHVA) Orangutan tahun 2016, saat ini diperkirakan terdapat 71.820 individu orangutan di Pulau Sumatera dan Borneo (Kalimantan, Sabah, Serawak) pada habitat seluas 17,46 juta hektare.

Populasi tersebut tersebar ke dalam 52 peta populasi (kelompok terpisah/kantong populasi), dan 38% di antaranya diprediksi akan lestari (viable) dalam 100-150 tahun ke depan.

3. Badak Bercula Satu (Rhinoceros sondaicus)

Badak bercula satu merupakan satu dari lima spesies badak yang masih hidup di dunia. Di pulau Jawa, habitat satwa ini berada dalam Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK), Banten. Karena dulunya banyak yang memburu culanya, jumlah spesies badak ini terus menurun. Kini diperkirakan hanya tersisa 50-60 ekor saja.

Faktor manusia adalah penyebab utama menurunnya populasi satwa tersebut. Selain berkurannya lahan yang menjadi daya jelajah, badak jawa banyak diburu untuk diambil organ tubuhnya seperti cula badak. 

Faktor lainnya yang menyebabkan populasi menurun adalah Badak bercula satu sulit untuk bereproduksi. Badak jawa betina melahirkan anak setiap interval 4 sampai 5 tahun sekali.  Masa kehamilan badak jawa pun juga panjang, yaitu sekitar 15-16 bulan. Jarangnya kehamilan badak jawa salah satunya disebabkan oleh sifat badak jawa yang suka hidup menyendiri.

Hal yang paling mengkhawatirkan dari menurunnya populasi badak jawa adalah perkembangan pariwisata di TNUK. Selain semakin banyaknya aktivitas manusia pada destinasi tersebut, hilir mudik pembangunan resort di sejumlah daerah pendukung dan zona inti kawasan hutan turut mengubah jalur lintasan Badak dan membuat stress. 

4. Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae

Pembukaan lahan hutan tanaman industri dan perburuan telah menjadi penyebab terbesar terusirnya sang raja rimba dari tahta istananya. Dalam beberapa tahun terakhir 10.000 ribu  Harimau menyusut menjadi kurang lebih 3000. 

Studi dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mencatat jika penyebab penurunan populasi tidak dikendalikan, populasi sub spesies Harimau tersebut akan hilang pada 2050. Kini, pemerintah telah membuat regulasi dari pemanfaatan zona hutan, di mana membatasi perusahaan untuk menebang pohon dari zona primer dan zona inti. 

5. Tarsius tarsier

Tarsius adalah binatang endemik Pulau Sulawesi Habitatnya adalah di hutan-hutan Sulawesi Utara hingga Sulawesi Selatan, juga di pulau-pulau sekitar Sulawesi seperti Suwu, Selayar, Siau, Sangihe dan Peleng. Di Taman Nasional Bantimurung dan Hutan lindung Tangkoko di Bitung, Sulawesi Utara. 

Populasi hewan yang bisa memutar kepalanya 180 derajat ini diperkirakan tidak lebih  tersisa dari 1.800 ekor. Sejumlah peneliti mengatakan, penurunan populasi tarsius disebabkan rusaknya hutan yang menjadi plasma nutfah satwa tersebut. Selain itu, beberapa kelompok masyarakat sering menjadikan satwa tersebut sebagai hidangan. 

6. Burung Maleo 

Maleo senkawor masih sering dijumpai di daerah Gorontalo. Namun, jumlahnya tidak banyak, hanya sekitar 10.000 ekor saja. Menurunnya populasi maleo dikarenakan ukuran telurnya yang sangat besar, yakni 5 kalinya dibanding telur ayam.

Hal ini membuat banyak yang tertarik untuk mengambilnya. Untungnya, setelah dinobatkan menjadi satwa yang dilindungi, populasi burung ini mulai meningkat secara perlahan.

7. Burung cenderawasih

Burung cendrawasih merupakan anggota famili Paradisaeidae dari ordo Passeriformes. Mereka ditemukan di Indonesia timur, pulau-pulau selat Torres, Papua Nugini, dan Australia timur. Burung anggota keluarga ini dikenal karena bulu burung jantan pada banyak jenisnya,, terutama bulu yang sangat memanjang dan rumit yang tumbuh dari paruh, sayap atau kepalanya. 

Ada beberapa penyebab mengapa jenis satwa langka ini terancam punah. Penyebabnya antara lain, hutan tempat mereka berlindung dan berkembang biak mulai menyempit seiring dengan semakin meningkatnya penebangan hutan oleh perusahaan pemegang hak pengusahaan hutan (HPH).

Faktor lain yang menyebabkan populasi burung Cendrawasih menurun drastis adalah sifat reproduksi hewan langka tersebut sangat lamban. Kondisi ini semakin diperburuk oleh pemburu liar.

Hasil penelitian terakhir yang dilakukan BKSDA Papua di salah satu lokasi habitat cenderawasih diketahui setiap satu kilometer persegi hanya ditemukan 2-3 ekor cenderawasih. Padahal, tahun 2000-2005 masih ditemukan 10-15 ekor.

Penjelasan lain dari data Polhut Dinas Kehutanan Papua mencatat sebelum izin pengelolaan hasil hutan belum banyak di setiap hektar tanah masih bisa ditemukan 2-3 ekor Cenderawasih. Namun, saat ini setiap 50-100 Ha belum tentu terlihat seekor Cendrawasih. Hal tersebut mengindikasikan bahwa ancaman kepunahan Cendrawasih sudah nyata.

8. Anoa

Anoa juga memiliki nama julukan yang diberikan masyarakat sekitar, yakni sapiutan. Artinya sapi yang hidup di hutan. Karena masih satu family dengan banteng, kecepatan berlarinya mencapai 10 km/jam.

Anoa memiliki sepasang tanduk yang menyerupai banteng. Hanya saja, ukuran anoa jauh lebih kecil dibandingkan banteng pada umumnya. Sayangnya, banyak pihak yang tak bertanggung jawab memburu hewan ini untuk dikonsumsi.

Kini, populasi anoa di Sulawesi hanya tersisa sekitar 2.469 ekor saja. Hal ini membuat anoa menjadi salah satu satwa yang dilindingi pemerintah Indonesia. Ada pun habitat hidupnya di hutan yang masih perawan, yakni di daerah Gunung Ambang.

9. Penyu 

Indonesia adalah pemilk 6 dari 7 spesies penyu di seluruh dunia. Keenam spesies penyu itu adalah penyu belimbing (Dermochelis coriacea), penyu hijau (Chelonia midas), penyu tempayan (Caretta caretta), penyu pipih (Natator depressa), penyu sisik (Eretmochelys imbricate), dan penyu lekang (Lepidochelys olivacea).

Berdasarkan data The International Union for Conservation of Nature (IUCN) keenam jenis penyu itu berada pada status rentan, terancam punah, hingga sangat terancam.

Beberapa lokasi peneluran utama di Indonesia seperti pantai peneluran Sangalaki, kepulauan Derawan Kaltim, pantai peneluran Paloh, Kalbar, pantai peneluran Pangumbahan, Jabar, pantai Jeen Womom, Papua barat, dan beberapa lokasi lainnya. 

Selain faktor alam, manusia juga menjadi faktor yang memengaruhi merosotnya populasi penyu di dunia. Misalnya, kegemaran manusia mengonsumsi daging penyu, perdagangan penyu dan produk turunannya, adat-istiadat, serta kebiasaan membuang sampah di laut atau yang sungai bermuara di laut.

Hal ini diperparah dengan aktivitas penangkapan ikan. Banyak penyu yang mati karena tersangkut jaring ikan yang disebut disebut 'Ghost Nets'

10. Paus 

Migrasi spesies Paus Indonesia tersebar dari Sabang hingga Merauke. Akan tetapi trend kekinian meciptakan industri wisata yang terkonsentrasi di enam titik.  Teluk Cenderawasih, Taman Bermain Hiu Paus, Papua, Perairan Lembata, Flores, Pantai Botubarani, Gorontalo, Wakatobi, perairan Talisayan, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, perairan Talisayan, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. 

Aktivis hewan Indonesia meradang setelah sebuah media massa cetak dan elektronik menunjukkan beberapa penyelam menyentuh dan memeluk Hiu Paus beredar di sosial media. 

Menyentuh hewan laut bukan tindakan yang direkomendasikan. Selain  Paus, biota seperti penyu, terumbu karang, atau jenis ikan lain tidak boleh disentuh.

Lembaga konservasi laut dunia seperti Reef World bersama Green Fins yang berbasis di Inggris dan The Large Marine Vertebraes Project Philippines (LAMAVE) baru-baru ini melakukan protes terhadap promosi wisata berenang bersama paus dan hiu paus.

Dua lembaga itu menganggap berenang bersama Hiu Paus, apalagi sampai membuatnya sebagai atraksi wisata, sebuah tindakan yang berbahaya.

Risiko bahaya bukan hanya berpotensi manusia atau penyelam terbunuh, tetapi karena turisme massal ini bisa membuat Hiu Paus terancam sebagai hewan migran yang berganti pola hidupnya. [NN]

 

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          

Jagung Provit Alternatif Bahan Pangan Sehat

Inovasi   28 Sep 2020 - 20:52 WIB
Bagikan:          
Bagikan: