78 Hektare Lahan Kentang di Dieng Rusak Akibat Embun Beku

TrubusNews
Thomas Aquinus
09 Juli 2018   10:00 WIB

Komentar
78 Hektare Lahan Kentang di Dieng  Rusak Akibat Embun Beku

Ilustrasi (Foto : Istimewa)

Trubus.id -- Sejak terjadinya fenomena alam bun upas, lahan pertanian kentang seluas 78 hektare milik petani di dataran tinggi Dieng rusak. Dinas Pangan Pertanian dan Perikanan (Dispaperkan) Kabupaten Wonosobo mencatat, ada enam desa terdampak suhu dingin yang menyebabkan tanaman kentang dan wortel layu, pasca terkena embun upas. Enam desa terdampak, antara lain Desa Dieng, Jojogan, Sikunang, Sembungan, Patakbanteng dan Parikesit.

Kepala Dispaperkan Wonosobo, Abdul Munir menyatakan, dampak kerusakan embun es atau bun upas di wilayah Kecamatan Kejajar, berdampak pada komoditas kentang dengan gejala berupa pucuk tanaman hangus seperti terbakar. Kejadian embun es biasanya berdampak pada tanaman kentang dengan umur di bawah 70 hari. 

Baca Lainnya : Bun Upas, Embun Beracun yang Jadi Musuh Bebuyutan Petani Dieng

"Komoditas lain seperti wortel, bawang daun, carica, kacang dieng, cabai dieng, dan lainnya blm nampak terjadi kerusakan secara nyata dan signifikan," ujarnya.

Menurutnya, hasil pantauan penyuluh pertanian lapangan (PPL) di lapangan, sejumlah wilayah desa yang terdampak dan terjadi kerusakan ada di enam desa. Sementara itu, lahan pertanian di desa Dieng yang berbatasan langsung dengan Banjarnegara, merupakan lokasi yang cukup banyak mengalami kerusakan. 

Untuk desa Dieng mengalami intensitas kerusakan 7 persen mencapai 11 hektare, intensitas 17 persen mencapai 20 hektare dan intensitas 60-85 persen mencapai tujuh hektare.

Baca Lainnya : Suhu Capai 5 Derajat Celcius, Dataran Tinggi Dieng Diselimuti Bun Upas

Sementara di desa Jojogan, luas kerusakan mencapai 12 hektare dengan intensitas 10 persen. Desa  Sikunang, luas kerusakan mencapai 6 hektare dengan intensitas kerusakan 7 persen.

Sedangkan Desa Sembungan, yang merupakan desa tertinggi, luas kerusakan mencapai 4 hektare dengan intensitas 7 persen. Untuk Desa Patakbanteng, luas kerusakan mencapai 13 hektare dengan intensitas 9 persen dan Desa Parikesit, luas kerusakan mencapai 5 hektare dengan intensitas 13 persen.

"Untuk intensitas kerusakan di bawah 30 persen dimungkinkan tanaman akan pulih dalam waktu 15-20 hari ke depan, dengan upaya penyiraman dan antisipasi kemungkinan muncul kerusakan akibat organisasi pengganggu tanaman (OPT) seperti phythophthora, infestans, rhizoctonia dan lainnya pasca embun es. Perlu juga dengan persiapan peralatan penyiraman dan naungan baik paranet, dahan bambu gendani, alang-alang dan lainnya sebagai antisipasi muncul kembali embun es," jelasnya.

Baca Lainnya : BMKG: Aphelion Fenomea Biasa, Tak Pengaruhi Suhu Dingin Saat Ini

Namun, untuk tanaman kentang dengan intensitas kerusakan di atas 30-85 persen dikatakan masih ada kemungkinan muncul tunas baru kembali dengan aplikasi pupuk susulan dan perawatan, namun akan berdampak pada hasil produksi akan menurun atau berkurang antara 15-50 persen dari produksi normal. 

"Hasil itu bisa diperoleh para petani, jika tidak terjadi kemuncunculan embun es di lahan pertanian mereka dalam waktu dekat," ujarnya.

Menurutnya upaya antisipasi sulit dilakukan karena embun es ini merupakan fenomena alam yang terjadi akibat suhu udara dalam waktu relatif singkat, turun di bawah nol derajat celsius. Kondisi ini menyebabkan cairan dalam tubuh tanaman membeku, menyebabkan sel-sel tanaman pecah. Gejala yang nampak, tanaman kentang layu seluruh tanamanya. 

"Secara ilmiah, kasus tersebut disebut "Frost", petani Dieng menyebutnya bun upas karena embun yang berwarna putih seperti kapas," ujarnya. [NN]


 

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: