Perajin Gula Aren Cianjur Terancam Gulung Tikar

TrubusNews
Ihsan Maulana
05 Juli 2018   20:00 WIB

Komentar
Perajin Gula Aren Cianjur Terancam Gulung Tikar

Gula aren, ilustrasi (Foto : Istimewa)

Trubus.id -- Para perajin gula aren di Kecamatan Naringgul, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, saat ini sedang mengeluhkan penurunan harga sejak sebulan terakhir. Penghasilan mereka menurun sehingga tak mampu mencukupi kebutuhan sehari-hari.

Tercatat, harga gula aren saat ini yang diterima tengkulak di wilayah setempat Rp8.000, atau paling tinggi Rp9000 dari standar harga Rp12.000 per kilogramnya.

Hal ini terjadi ketika harga kebutuhan lainnya naik, harga gula aren malah turun. Keadaan ini berbeda saat menjelang bulan Ramdan lalu, harga gula aren masih stabil, mencapai Rp12.000 per kilogram.

"Kami harap ada perhatian dari pemerintah dalam menstabilkan harga di tingkat tengkulak, agar tidak merugikan perajin. Penghasilan perajin menurun seiring turunnya harga gula aren," ujar salah seorang perajin gula asal Naringgul, Adul ketika dihubungi media, Kamis (5/7).

Baca Lainnya: Akademi Desa 4.0 Harus Dimaksimalkan untuk Pelatihan Kelola BUMDes

Ia hanya bisa berharap, harga gula aren bisa kembali stabil agar perajin dapat menutupi kebutuhan sehari-hari, dan tidak gulung tikar mengingat biaya produksi yang tetap tinggi.

Hal serupa juga disebutkan perajin gula aren lainnya, Suryaman. Ia mengaku, meningkatnya biaya produksi karena ada kenaikan harga bahan pokok, menyebabkan tidak seimbangnya harga jual yang jelas merugikan perajin.

"Ongkos produksi termasuk harga kayu bakar per kubik mahal, sehingga perajin merugi kalau harganya terus menurun tajam. Saat ini banyak perajin yang menjual bahan mentah air nira atau aren karena tidak sanggup mengolah," sambungnya.

Salah seorang tengkulak disana, Herli mengaku, harga jual gula aren setelah bulan Ramadan merosot karena kebutuhan pasar dan penerimaan dari kota-kota besar seperti Bandung dan Jabodetabek menurun.

"Harapan kami sama dengan perajin supaya bisa stabil, namun setelah Ramadan, pemesenan menurun tajam terutama dari Bandung dan Jabodetabek. Kami tidak berani menjual mahal karena stok tidak akan terjual," tandasnya. [KW]

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: