Indonesia Melawan Gelombang Sampah Plastik, Sanggupkah?

TrubusNews
Binsar Marulitua | Followers 0
04 Juli 2018   08:00

Komentar
Indonesia Melawan Gelombang Sampah Plastik, Sanggupkah?

Ilustrasi (Foto : Trubus.id/Binsar Marulitua)

Trubus.id -- Jumlah timbulan kantong plastik di Indonesia per tahun diperkirakan mencapai 9,8 miliar lembar. Dari jumlah tersebut, hampir 95 persen kantong plastik menjadi sampah. Tragisnya, arus produksi plastik terus mengalir hingga menjadikan laut sebagai bak sampah raksasa. 

Dengan idiom negara maritim, sanggupkah Indonesia melawan gelombang legitmasi pencemar laut terbesar?

Laporan UN Environment terbaru berjudul “Single-use Plastic, A Roadmap for Sustainability” menyebutkan bahwa kantong plastik dan styrofoam adalah produk plastik yang paling bermasalah dalam pencemaran lingkungan. Ocean Conservancy menyebutkan 10 produk plastik yang ditemukan di berbagai pantai, termasuk di antaranya kantong plastik. 

Baca Lainnya : Berbeda dengan India, Ini Alasan Indonesia Belum Melarang Penggunaan Plastik

Sebagai salah satu ibukota negara yang memiliki wilayah kepulauan, DKI Jakarta juga tidak luput dari permasalahan ini. Riset yang dilakukan Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta dan Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik (GIDKP) menemukan bahwa konsumsi kantong plastik mencapai 240 - 300 juta lembar per tahun, atau 1.900 - 2.400 ton per tahun, setara dengan berat 124 bus TransJakarta.

“Rata-rata penggunaan kantong plastik yang digunakan setiap kali berbelanja adalah 1-3 lembar kantong plastik,” jelas Tiza Mafira, Direktur Eksekutif GIDKP.

Meski demikian, Indonesia memiliki berbagai inisiatif yang dilakukan untuk mengurangi sampah plastik. Kota Banjarmasin, yang dikenal sebagai kota seribu sungai, sudah menerapkan pelarangan kantong plastik di ritel modern sejak 1 Juni 2016. Kemudian, Kota Balikpapan, yang merupakan kota pesisir juga mulai menerapkan hal yang sama tepat pada hari Selasa,3 Juli 2018 di ritel-ritel modern. 

Baca Lainnya : Mulai Hari Ini, Pusat Perbelanjaan di Balikpapan Dilarang Gunakan Plastik Sekali Pakai

Tanggal 3 Juli dipilih oleh Pemerintah Kota Balikpapan karena bertepatan dengan Hari Bebas Kantong Plastik Sedunia. Kota Padang dan Kota Cimahi dikabarkan akan menyusul juga dalam beberapa bulan kedepan. Dukungan masyarakat dalam upaya pengurangan sampah plastik ini dibuktikan dengan petisi #pay4plastic yang dikampanyekan oleh GIDKP sejak tahun 2013 dan hingga kini telah mencapai lebih dari 70,000 tanda tangan.

Petisi tersebut membuahkan hasil pada tahun 2016 dengan diujicobakannya “Kantong Plastik Tidak Gratis” di 23 kota besar di Indonesia. Uji coba tersebut berhasil mengurangi konsumsi kantong plastik hingga 55%.

Produk alternatif pengganti kantong plastik pun mulai banyak berkembang. Sejak diberlakukannya penghentian penggunaan kantong plastik, Kota Banjarmasin gencar mengenalkan tas bakul purun sebagai pengganti kantong plastik sekali pakai. 

Baca Lainnya : Kota Ini Mulai Haramkan Pemakaian Sedotan dan Alat Makan Plastik

Begitupun di DKI Jakarta, Project Semesta gencar mengenalkan model “bulk store” untuk mengajak masyarakat mengurangi penggunaan kemasan plastik sekali pakai. Hal ini disampaikan oleh Rinda Liem selaku pendiri Project Semesta. 

“Project Semesta hadir untuk memberikan pengalaman berbelanja tanpa kemasan plastik sekali pakai. Dengan model ini, kami mengajak masyarakat untuk membawa wadah sendiri yang bisa digunakan ulang.” 

Melihat efek bola salju dari pengurangan sampah kantong plastik, pemerintah daerah mulai menunjukkan komitmennya untuk mulai membahas strategi pengurangan sampah kantong plastik di daerah masing-masing yang kemudian dilanjutkan dengan proses penyusunan kebijakan. Komitmen tersebut dideklarasikan oleh 24 kabupaten/kota pada lokakarya yang dilakukan di Kota Banjarmasin pada bulan April 2018 lalu .

Baca Lainnya : Menelisik, Alternatif Asyik Pengganti Sedotan Plastik

“Kami mendorong DKI Jakarta dan kota lainnya untuk mengikuti model yang diterapkan di Banjarmasin dan Balikpapan dalam pengurangan sampah kantong plastik,” lanjut Tiza, yang juga telah menerima pengakuan dari UN Environment sebagai Ocean Hero 2018.

Adapun gerakan ini juga didukung berbagai industri lewat kampanye. Beberapa restoran cepat saji dikabarkan sudah tidak lagi menyediakan sedotan plastik untuk mengurangi sampah plastik. The Body Shop Indonesia, dalam kampanye di acara Car Free Day Jakarta misalnya, mengajak masyarakat tidak lagi menggunakan sedotan plastik. 

Dengan membayar, pembeli diharapkan sadar dan membawa tas belanja sendiri yang bisa digunakan berkali-kali. Selain mengurangi penggunaan plastik, cara lain mengurangi sampah plastik adalah mendaur ulang limbah plastik menjadi barang baru. Hal ini misalnya dilakukan adidas dengan membuat kaos, jaket, maupun sepatu menggunakan limbah plastik.

Banyak pusat perbelanjaan tidak lagi menggratiskan tas plastik untuk pembeli. Dengan membayar, pembeli diharapkan sadar dan membawa tas belanja sendiri yang bisa digunakan berkali-kali. Selain mengurangi penggunaan plastik, cara lain mengurangi sampah plastik adalah mendaur ulang limbah plastik menjadi barang baru. Hal ini misalnya dilakukan adidas dengan membuat kaos, jaket, maupun sepatu menggunakan limbah plastik. [NN]

 


 

  0


Anda belum login, masuk atau mendaftar disini


Artikel Terkait

Rumah Warga Aceh di Rusak Kawanan Gajah Liar

Astri Sofyanti   Peristiwa
Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: