Bukan Mistis, Ini Penyebab Jasad Korban KM Sinar Bangun Tidak Mengambang

TrubusNews
Syahroni
01 Juli 2018   23:00 WIB

Komentar
Bukan Mistis, Ini Penyebab Jasad Korban KM Sinar Bangun Tidak Mengambang

Basarnas menunjukkan foto posisi KM Sinar Bangun di dasar Danau Toba. (Foto : Istimewa)

Trubus.id -- Pencarian bangkai kapal dan jasad korban tenggelam KM SInar Bangun akhirnya menemui titik terang di hari ke 11. Tim Basarnas yng memimpin pencarian akhirnya menemukan objek yang diduga kuat merupakan bangkai kapal KM Sinar Bangun.

Tak hanya bangkai kapal, berdasarkan hasil rekaman Remotely Operated Vehicle (ROV) yang dipakai di kedalaman 450 meter Danau Toba juga diperoleh gambar beberapa motor dan jasad korban tenggelam yang jaraknya sekitar tiga kilometer dari Pelabuhan Tigaras.

Baca Lainnya : Cari KM Sinar Bangun, Basarnas Medan Dapat Bantuan 300 Personil Tambahan

Deputi Bidang Operasi dan Kesiapsiagaan Basarnas, Brigadir Jenderal TNI Nugroho Budi Wiryanto menyebutkan, ada sekitar delapan hingga 10 jasad yang terekam ROV.

"Yang kemarin kita temukan kan jelas. Sudah kita lihat dengan jelas. Saya sudah melihat di monitor itu. Hari ini kita lanjutkan lagi. Sekarang kita memikirkan cara menariknya dan evakuasi. Saya mohon doa restu dari seluruh masyarakat," ujar Nugroho.

Nugroho menambahkan, posisi jenazah berada di kedalaman 455 meter. Ketika jasad para korban sudah ditemukan, satu pertanyaan pun muncul. Mengapa jasad-jasad itu tidak mengambang ke permukaan?

Menanggapi hal itu, Ketua Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Soerjanto Tjahjono menjelaskan, jasad para korban butuh waktu lama untuk membusuk karena temperatur di dasar Danau Toba yang sangat dingin.

"Kami juga berkonsultasi dengan dokter forensik dari UI. Saya tanya, ‘dok, ini kenapa kok para jasad ini enggak naik ke atas? Kalau temperaturnya dingin di dasar Danau Toba, itu seperti kita menaruh makan di kulkas, jadi reaksi pembusukannya lambat," jelasnya.

Baca Lainnya : Posisi KM Sinar Bangun 450 Meter di Bawah Laut

Menurut Sierjanto, bila ingin membuat jasad naik ke permukaan, diperlukan gas duna menambah berat jenis. Sayangnya, karena terhalang kedalaman dan suhu dingin, jasad-jasad tersebut tak mengapung di permukaan air.

"Sehingga jumlah gasnya tidak cukup membuat berat jenis manusia ini lebih ringan dari angin, sehingga kenapa jasad-jasad tersebut tidak mengapung, atau sebagian yang mengapung," kata Soerjanto.

Hal senada juga disampaikan peneliti danau Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Hadiid Agita Rustini. Ia mengatakan, kedalaman jatuhnya kapal yang mencapai sekitar 400 meter di perairan Danau Toba, di mana tidak ada lagi sinar matahari, sehingga menyebabkan suhu air dingin.

"Kami perkirakan di tempat jatuhnya KM Sinar Bangun sekitar 20 derajat dari hasil simulasi model. Kalau sudah di dasar dan berhari-hari, tidak ada oksigen. Jadi sepertinya itu membeku karena proses alami," kata Agita beberapa hari lalu.

Baca Lainnya : Sejumlah Barang Diduga Milik Korban KM Sinar Bangun Ditemukan Tim SAR

Ia mengatakan, suhu 20 derajat Celcius di kedalaman di bawah 400 meter itu merupakan suhu normal untuk Danau Toba. Sedangkan suhu di permukaan Danau Toba bila panas mencapai sekitar 26-27 derajat celcius.

Namun, ia mengakui, bahwa pihaknya hanya pernah melakukan simulasi pengukuran di siang hari dengan maksimal kedalaman 350 meter derajat celcius di perairan Danau Toba pada Maret 2016 dan Agustus 2017.

"Kalau siang normalnya segitu. Cuaca panas ataupun dingin di permukaan danau tidak akan terlalu mempengaruhi suhu di bagian dalam perairan. Di kedalaman 100 meter itu saja suhu sudah mirip dasar, kalau malam kemungkinan lebih tinggi lagi," kata Agita. [RN]
 

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: