Tim Forensik Selidiki Penyebab Kematian Gajah Betina di Bengkulu

TrubusNews
Syahroni
01 Juli 2018   22:00 WIB

Komentar
Tim Forensik Selidiki Penyebab Kematian Gajah Betina di Bengkulu

Tim forensik mengambil sampel dari bangkai gajah yang ditemukan mati di Kabupaten Mukomuko. (Foto : Doc/ BKSDA Bengkulu)

Trubus.id -- Seekor gajah sumatera berjenis kelamin betina, ditemukan tewas membusuk di kawasan Hutan Produksi (HP) Air Teramang, Kabupaten Mukomuko, Provinsi Bengkulu. Saat ditemukan, petugas yang datang juga menemukan jejak kawanan gajah dan 2 gubuk yang hancur akibat dirusak satwa raksasa itu.

Saat ini, Tim forensik yang dipimpin dokter hewan dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu-Lampung telah datang ke lokasi penemuan. Kedatangan mereka untuk memastikan penyebab pasti kematian satwa dilindungi itu.

Baca Lainnya : Turun Gunung, Kawanan Gajah Rusak Perkebunan Sawit

Tim sendiri telah mengambil 14 sampel dari bangkai gajah bernama latin Elephas maximus sumatranus itu untuk diteliti di laboratorium. 

"Sampel akan dikirim ke laboratorium di Bogor untuk mengetahui penyebab kematian gajah," kata Kepala Bagian Tata Usaha BKSDA Bengkulu-Lampung, Suharno di Bengkulu, Minggu (1/7).

Suharno cerita, gajah betina yang diperkirakan berumur di atas 20 tahun itu ditemukan sudah dalam kondisi membusuk di wilayah HP Air Teramang. Wilayah itu masuk dalam wilayah Desa Retak Mudik, Kecamatan Sungai Rumbai, Kabupaten Mukomuko.    

Lokasi kejadian berjarak 3,5 kilometer dari kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) dan telah berubah menjadi kebun sawit yang baru ditanam. Suharno mengatakan, gajah itu diperkirakan mati pada 21 Juni 2018. 

Tim mendatangi lokasi untuk melakukan bedah bangkai untuk sampel serta pemeriksaan tempat kejadian perkara pada Jumat (29/8) lalu.    

"Hasil pemeriksaan toksikologi dan hispatologi untuk menegakkan diagnosa penyebab kematian satwa ini," ujarnya.    

Baca Lainnya : Kepolisian Mulai Dapatkan Petunjuk Kasus Pembunuhan Gajah Jinak di Aceh

Apabila ada indikasi tindakan pembunuhan terhadap satwa dilindungi itu maka pelakunya akan dicari guna mendapatkan keterangan lebih lanjut mengenai adanya potensi ancaman terhadap keberadaan satwa liar di habitatnya.    

Ia menambahkan HP Air Teramang dan sekitarnya merupakan habitat bagi populasi terakhir kelompok besar gajah liar di wilayah Provinsi Bengkulu. Kawasan hutan yang berada di bawah pengelolaan KPHP Mukomuko itu pernah menjadi habitat kelompok terbesar gajah liar dengan populasi gajah mencapai 40 ekor. [RN]

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: