Gunung Agung: Jejak Erupsi, Mitologi dan Kosmologi Hindu

TrubusNews
Binsar Marulitua
29 Juni 2018   20:45 WIB

Komentar
Gunung Agung: Jejak Erupsi, Mitologi dan Kosmologi Hindu

Keindahan Gunung Agung, Bali dilihat dari kejauhan. (Foto : Istimewa)

Trubus.id -- Masyarakat Hindu Bali telah lama menganggap Gunung Agung sebagai tempat suci, tempat bersemayamnya dewa-dewa. Kamis (28/6) sore, gunung yang menjadi Tahta Para Dewa tersebut kembali meletus dan menghempaskan abu vulkaniknya hingga 2 kilometer ke udara.

Peristiwa ini tentunya bukan yang pertama kali terjadi. Bagaimana rekam jejak letusan gunung berapi paling eksplosif di Indonesia yang mencampuradukan nilai religius, mitologi, kosmologi hindu masyarakat Pulau Dewata tersebut?

Sejauh ini memang belum ada literatur yang tertata mengenai rincian sejarah peristiwa letusan gunung di Karangasem, Provinsi Bali. Akan tetapi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mencatat, letusan dahsyat Gunung Agung yang besar tercatat sebanyak empat kali. Yakni tahun letusan tahun 1808, letusan tahun 1821, letusan 1843 dan Letusan 1963.

Pada tahun 1843, Gunung Agung meletus didahului serangkaian gempa sebelum akhinya memuntahkan abu vulkanik, pasir, dan batu apung. Terakhir 120 tahun kemudian, pada 1963 Gunung setinggi 3.142 meter dari permukaan laut itu meletus dahsyat. Menurut data PVMBG, 1.148 jiwa melayang, dan 296 orang luka-luka akibat bencana di tahun itu.

Kini, 55 tahun kemudian, gunung yang berjuluk Tahta Para Dewa itu kembali menunjukkan peningkatan aktivitas signifikan. Hingga Jumat (29/6), status gunung berapi ini sudah ditetapkan di level tertinggi, Siaga III. 

1. 1 Sejarah Letusan Gunung Agung

1. Letusan tahun 1808: Gunung Agung meletus disertai uap dan abu vulkanik. Gunung ini melontarkan abu dan batu apung dalam jumlah luar biasa. Jejak sejarahnya adalah bukit-bukit batu yang mendominasi topografi Kabupaten Karangasem saat ini.

2. Letusan Tahun 1821:  Merupakan kelanjutan aktivitas Gunung Agung sejak 1808. Sayangnya sejarah letusan 1821 tidak terdokumentasikan dengan baik. Letusan yang berlangsung saat ini adalah letusan normal.

3. Letusan tahun 1843: Letusan di tahun ini didahului serangkaian aktivitas kegempaan. Gunung Agung kemudian kembali memuntahkan material abu, pasir, dan batu apung. Pada 1908, 1915, dan 1917, di berbagai tempat di dasar kawah dan pematang Gunung Agung tampak tembusan fumarola.

4. Letusan 1963 : Letusan dimulai 18 Februari 1963 dan baru berakhir 27 Januari 1964. Letusan dahsyat ini mencatat korban 1.148 orang meninggal dunia dan 296 orang luka. Mayoritas korban berjatuhan karena awan panas letusan yang melanda tanah lebih dari 70 kilometer per segi.

1.2 Letusan Gunung dan Mitologi Masyarakat Bali 

Masyarakat Hindu Bali percaya bahwa penyebab letusan Gunung Agung 1963 bersifat spritual. Pada tahun 1963 menyebutkan anggapan masyarakat Bali bahwa 'Bathara Gunung Agung marah dan mengancam akan meletus jika dalam jangka waktu satu pekan tidak dilaksanakan sesajen dan permintaan lain yang dikemukakan orang-orang yang kerasukan roh suci.

Sesudah dilakukan sesajen dan beberapa upacara suci Pura Gunung Besakih luput dari aliran lahar Gunung Agung. Lahar Berhenti tepat  lima meter dari pintu Pura terbesar tersebut.  

Masyarakat Bali bahkan menyiapkan perayaan Eka Dasa Rudra pada 8 Maret 1963 di Pura Besakih, sekitar 6,5 km dari puncak Gunung Agung atau menjelang titik kritis letusan. Lebih kurang 10 ribu orang menghadiri upacara tersebut, termasuk gubernur, kepala pemerintahan daerah, dan tokoh-tokoh terkemuka Bali.

Eka Rudra merupakan upacara agama terbesar umat Hindu Bali yang diselenggarakan di pura terbesar, Pura Besakih. Sejumlah alasan yang disampaikan para ahli gunung berapi belum mampu meyakinkan masyarakat untuk mengosongkan Besakih.

Pengungsi Gunung Agung menurut data terakhir yang dikeluarkan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencapai  309 jiwa masyarakat. Tiga titik pengungsian, yaitu di Dusun Tegeh, Desa Amerta Bhuana; Banjar Dinas Galih, Desa Jungutan dan Banjar Desa Untalan, Desa Jungutan di Kabupaten Karangasem. 

1.3 Masyarakat Bali Mensucikan Sapi

Dalam Catur Weda disebutkan sapi sebagai penyangga alam yang memberikan kehidupan kepada manusia, maka dari itu, umat Hindu menghargai sapi, harus disucikan, dihormati, dan dilimpahi kasih sayang. Ketika Zaman Veda, Sapi merupakan anugerah bagi masyarakat karna menyediakan mereka susu, daging, keju dan yogurt.

Jika kita melihat ke Bali yang merupakan pusat Umat Hindu di Indonesia. Sapi dibedakan menjadi dua jenis yaitu sapi yang berwarna putih, yang dapat diperah empehan susunya yang sering dikenal dengan nama lembu. Dan sapi berwarna merah, umumnya tidak diperah susunya yang disebut banteng.

Selain itu, pada kulit sapi yang mati juga dapat dipakai untuk tempat berteduh dan pakaian. Sehingga penduduk zaman Weda sangat berhutang budi dalam banyak hal kepada sapi. Ini kemudian yang membuat mereka memandang sapi dengan penuh hormat.

Kemudian ada Mythologi tentang seekor sapi abadi (celestial cow) bernama Kamadhenu (banyak disebutkan dalam Bhagawadgita) yang dapat memberikan dan memenuhi semua keinginan. Krishna sebagai pengembala dan dia menghabiskan masa kanak-kanak dan masa mudanya memelihara sapi. 

Seiring dengan perjalanan waktu, sapi dipandang sebagai sebuah simbol ibu. Bahkan dalam tulisan Manu ada referensi khusus kepada sapi, dan melarang pembunuhan sapi. Dalam Rig Weda (6:28) mengatakan:

"Sapi-sapi adalah Tuhan; mereka tampak bagiku menjadi Indra, Dewa Surga,"

Hingga kini, Pendakian menuju puncak Gunung Agung ini dapat dimulai dari tiga jalur pendakian yaitu selatan,tenggara, barat daya, tidak diperkenankan membawa makanan berbahan sapi karena area gunung ini sangat disucikan.

1.4 Pura Besakih, Pura di Kaki Gunung Agung Sebagai Pusat Spiritualitas Hindu Bali

Gunung Agung merupakan titik tertinggi di Pulau Dewata yang sekaligus menjadi instrumen kepercayaan masyarakat Hindu Bali. Sebagai masyarakat yang dekat dengan alam, setiap situs baik lautan, dataran, hingga gunung, menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari laku spiritual sehari-hari. 

Kosmologi Hindu adalah Nyegara Gunung, yang berarti bahwa kesucian harus berlaku dari Segara (Laut) hingga Gunung. Dimana Pura Besakih bagi masyarakat Bali berkaitan dengan pemaknaan Gunung Agung. 

Masyarakat Bali menganggap pura yang berada di kaki Gunung Agung sebagai pusat spiritualitas Hindu di Bali. Pura termasuk Kahyangan Jagat, pura utama dalam kepercayaan Hindu pada umumnya. Dalam catatan sejarah, Pura Besakih dan Gunung Agung menjadi pondasi awal terciptanya masyarakat Bali.

Dalam Buku 'Mountains of the Indonesian Archipelago' dituliskan, bahwa Maharishi Markandeya, orang pertama yang memimpin pelarian Majapahit ke Bali, baru berhasil menetap di Bali datang ke kaki Gunung Agung. Sebelumnya, gelombang eksodus yang dipimpin Markandeya berjumlah 800 orang seluruhnya tewas akibat wabah penyakit. [RN]

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: