Meletus Lagi, Gunung Agung Hembuskan Abu Vulkanik 1.500 Meter di Atas Puncak

TrubusNews
Diah Fauziah
28 Juni 2018   19:15 WIB

Komentar
Meletus Lagi, Gunung Agung Hembuskan Abu Vulkanik 1.500 Meter di Atas Puncak

Aktivitas Gunung Agung pada Kamis (28/6) pukul 18.25 WITA dari Desa Culik, Bali. (Foto : Dok. Devy Kamil Syahbana, PVMBG.)

Trubus.id -- Rabu (28/6) pukul 17.25 WITA, Gunung Agung kembali mengeluarkan asap dan abu vulkanik. Menurut keterangan Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB di akun Twitternya, hujan abu dan pasir mengarah ke barat daya. Terdengar suara gemuruh dari Gunung Agung.

"Hingga saat ini, status Gunung Agung tetap Siaga. Masyarakat diimbau tidak melakukan aktivitas di dalam radius 4 kilometer," cuit Sutopo di Twitternya.

Sementara itu, Devy Kamil Syahbana, Kasubdit Mitigasi Gunung Api PVMBG wilayah timur, menuturkan analisis singkatnya terkait aktivitas hembusan menerus Gunung Agung.

"Pasca erupsi Rabu (27/6) pukul 22.21 WITA, secara visual teramati asap berwarna putih tebal dari pagi tadi sekitar 200 meter di atas pumcak. Ketinggian hembusan asap mengalami peningkatan hingga mencapai ketinggian 1.500 meter di atas puncak sejak Rabu (28/6) pukul 12.30 WITA dengan disertai abu tipis. Arah sebaran abu ke Barat. Hal ini dikonfirmasi oleh tim lapangan yang menemukan hujan abu tipis di sekitar Desa Puregai, 7 kilometer dari puncak. Hingga pukul 15.30 WITA, aktivitas hembusan masih berlangsung dengan ketinggian konstan di kisaran 1.500 meter di atas puncak," kata Devy, melalui pesan WhatsApp.

Baca Lainnya : Dua Hari Sebelum Lebaran, Gunung Agung Erupsi Lagi

Secara seismik, teramati peningkatan amplitudo seismik secara cepat dalam 24 jam terakhir. Kegempaan didominasi oleh gempa-gempa permukaan berupa hembusan. Gempa-gempa ini kemudian menjadi satu, membentuk tremor terus menerus sejak pukul 12.30 WITA. Secara deformasi, teramati inflasi sejak Minggu (13/6) hingga saat ini. Upliff terjadi sekitar 5 milimeter.

"Hal ini mengindifikasikan adanya pembangunan tekanan di dalam tubuh Gunung Agung. Hingga saat ini, inflasi belum teramati mengalami penurunan. Secara geokimia, gas-gas SO2 terakhir kali terukur dengan fluks pada kisaran 200 ton per hari. Hal ini mengindikasikan masih adanya kontribusi magmatik dari dalam tubuh Gunung Agung." jelas Devy.

Kondisi Gunung Agung dilihat dari Temukus (Foto: Istimewa).

Ia melanjutkan, "Dari satelit teramati hotspot yang mengindikasikan adanya lava panas di permukaan kawah. Lava ini dapat berupa lava lama yang dipanaskan ataupun lava baru yang dikeluarkan dari erupsi tadi malam."

Oleh karena itu, ia menyimpulkan jika fenomena yang terjadi saat ini berupa aliran fluida ke permukaan. Itu berdasarkan pengamatan visual di mana kolom asap relatif berwarna putih dan ketinggian konstan.

Baca Lainnya : Gunung Agung Kembali Erupsi, Radius 4 Km dari Puncak Kawah Harus Dihindari

"Aliran fluida bisa berupa gas maupun aliran lava baru ke permukaan," tutur Devy.

Frekuensi dominan tremor belum belum berubah, konstan di sekitar 4.7 Hz, mengindikasikan laju aliran fluida ke permukaan relatif konstan. Jika frekuensi dominan tremor mengalami perubahan, misalkan jika menurun, maka kemungkinan bisa mengindikasikan terjadinya penyumbatan dan erupsi eksplosif bisa terjadi.

"Jika aktivitas hembusan ini terus berlangsung tanpa mengalami perubahan laju, maka yang kemungkinan akan terjadi adalah pengisian lava baru ke permukaan atau emisi gas magmatik. Hal ini baru dapat dikonfirmasi nanti dengan melihat citra satelit thermal," jelasnya.

Hingga saat ini, PVMBG terus memonitor aktivitas Gunung Agung untuk mengevaluasi potensi bahayanya antar waktu. Jika terjadi perubahan signifikan, maka status dan rekomendasi aktivitas Gunung Agung akan dievalusi kembali. [DF]

 

 

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: