Menelisik, Alternatif Asyik Pengganti Sedotan Plastik

TrubusNews
Syahroni
28 Juni 2018   19:30 WIB

Komentar
Menelisik, Alternatif Asyik Pengganti Sedotan Plastik

Sampah sedotan plastik. (Foto : Twitter/ EHIndonesia)

Trubus.id -- Sudah bertahun-tahun silam, hidup manusia tergantung dengan plastik. Berbagai kebutuhan yang mempermudah dalam kehidupannya, hampir sebagian besarnya mengandalkan alat yang terbuat dari plastik. Ketergantungan akan plastik ini lah yang kemudian menjadi bumerang buat manusia dan keberlangsungan bumi sendiri.

Sampah plastik masih menjadi masalah serius yang tengah menjadi perhatian berbagai negara di dunia. (Foto: Greenpeace/ Ariana Densnham)

Penggunaan plastik memang cukup membantu manusia, namun dampak yang ditimbulkan dari limbah plastik juga sangat berbahaya. Dalam beberapa tahun terakhir, masalah sampah plastik jadi sorotan di berbagai belahan dunia. Wajar saja, sampah plastik dapat mencemari lingkungan dalam jangka waktu yang amat sangat lama.

Sifat plastik yang tidak mudah terurai membuat sampah jenis ini menjadi persoalan serius. Plastik membutuhkan 500-1000 tahun untuk benar-benar terurai. Sehingga plastik pertama yang diproduksi manusia, jika kini masih terombang-ambing di lautan, tetap dalam bentuk yang sama seperti saat diproduksi. Namun banyak yang lupa, dari sekian banyak sampah plastik yang selama ini digunakan, sedotan plastik ikut menyumbang jumlah yang sangat signifikan karena dengan mudahnya dipakai dan dibuang begitu saja.

Sampah Sedotan Tidak Didaur Ulang

Harus diakui, sampah sedotan plastik cukup mendominasi sampah plastik yang ada di bumi ini. Setiap tahun, seiring dengan pertambahan jumlah penduduk, sampah sedotan plastik juga terus bertambah. Dalam kompilasi data yang disusun Eco Watch, kurang lebih 500 juta sedotan plastik dibuang setiap hari setelah dipakai sekali saja. Sedotan plastik masuk dalam kategori produk berbahan plastik yang 50 persennya dibuang saat sudah selesai digunakan. 

Karena jarang diambil untuk didaur ulang, banyak warga kreatif mengolah sampah bekas sedotan menjadi kerajinan tangan. (Foto: Istimewa)

Sementara itu, mengutip data dari Ocean Conservancy, sampah sedotan plastik sekali pakai merupakan satu dari 10 jenis sampah yang paling sering ditemukan di pantai dan lautan dunia setelah kantong plastik kemasan dan beberapa jenis sampah lainnya. Di Indonesia sendiri, menurut data asumsi kasar yang berhasil dikumpulkan oleh tim Divers Clean Action, pemakaian sedotan sekali pakai diperkirakan mencapai 93.244.847 setiap harinya.

Data asumsi kasar ini diolah dari berbagai sumber seperti data kebiasaan seringnya masyarakat Indonesia makan di luar rumah, produksi minuman kemasan sedotan dan jumlah sedotan di warung yang terdaftar di kota-kota besar. 

Sementara itu, Direktur Jendral Pengelolaan Sampah, Limbah dan B3, KLHK Rosa Vivien Ratnawati menjelaskan, perkembangan teknologi dan gaya hidup mengakibatkan tendensi peningkatan sampah plastik meningkat sebesar 16-20%. Karena itu, saat ini, pemerintah  menyiapkan penetapan cukai untuk produksi plastik. Sesuai dengan Peraturan Presiden Nomor 97 tahun 2017, pengurangan sampah ditargetkan sebesar 30 persen atau setara 20,9 juta ton pada 2025. 

"Sekitar 70 persen sampah plastik di Indonesia dapat dan telah di daur ulang. Namun tidak dengan sedotan karena nilainya yang rendah dan sulit di daur ulang maka tidak ada pelaku daur ulang yang bersedia mengambil," jelas Vivien.

Vivien menambahkan, ukuran sedotan bermacam-macam. Namun umumnya  sedotan berbahan plastik tipe polypropylene dan didesain untuk tahan seumur hidup sehingga butuh waktu lama untuk dapat hancur dan terurai.

"Fakta ini tentu sangat mengkhawatirkan dan berbahaya karena semakin lama keberadaaan di laut akan menjadi microbeads dan mudah termakan oleh hewan laut," tambahnya. 

Sedotan Plastik Mulai Ditinggalkan Gerai Makanan

Bahaya yang ditimbulkan akibat sampah sedotan plastik tidak bisa dianggap sebelah mata. Karena itu, untuk mengurangi serta menanggulanginya, dibutuhkan kerja sama banyak pihak. Langkah nyata pun dilakukan sebuah gerai makanan, kafe atau pun restoran.

Gerai makanan cepat saji mulai meninggalkan sedotan plastik. (Foto: Istimewa/ Ilustrasi)

Salah satu gerai makanan cepat saji yang memiliki cabang di berbagai negara, McDonald’s pun mulai menghentikan penggunaan sedotan plastik hingga ke semua cabangnya dalam beberapa tahun ke depan.

Mulai September 2018 nanti, semua jaringan McDonald's di Irlandia dan Inggris akan memakai sedotan kertas untuk seluruh pelanggannya. Keputusan ini diambil setelah uji coba di sejumlah restoran pada awal tahun 2018, dianggap berhasil. Tentu, kebijakan ini disambut gembira oleh Menteri Lingkungan Inggris, Michael Gove.

"Merupakan sumbangan penting untuk membantu lingkungan. Contoh yang baik untuk bisnis lebih besar," kata Michael, dikutip dari BBC.

Nantinya, percobaan sejenis akan mulai diterapkan di sejumlah gerai McDonald's di Amerika Serikat, Prancis, dan Norwegia. Di beberapa negara lain, sedotan hanya diberikan jika pelanggan memintanya.

Di Indonesia sendiri, gerakan mengurangi penggunaan sedotan plastik juga sudah dimulai. Di beberapa kafe, penggunaan sedotan plastik pun mulai ditinggalkan. Sudah banyak yang kini beralih menggunakan sedotan logam seperti baja anti karat yang jauh lebih keren dan ramah lingkungan.

Sebuah kafe di Depok, Jawa Barat mulai menggunakan sedotan berbahan logam untuk menggantikan sedotan plasti. (Foto: Trubus.id/ Astri Sofyanti)

Salah satu kafe yang sudah meninggalkan penggunaan sedotan plastik ini adalah Brasa Gelato & Art Coffee. Kafe yang berada di Depok ini mulai menggunakan sedotan yang terbuat dari logam anti karat setiap melayani pelanggannya.
 
“Konsep Brasa Gelato & Art Coffee ini mengangkat tema penyelamatan bumi, dari segi dekorasinya juga kita buat hommy dengan beragam tanaman unik, tujuannya agar eco friendly, jadi kita mencoba mulai menggunakan sedotan baja anti karat atau stainless steel,” ucap Rio Benedict, Owner Brasa Gelato & Art Coffee kepada Trubus.id.

Tak hanya sedotan, Gelato & Art Coffee juga sudah mengganti sendok es krim plastik dengan kayu.

Bahaya Sedotan Plastik untuk Kesehatan

Mengganti sedotan plastik dengan sedotan lain yang lebih ramah lingkungan banyak dilakukan semata-mata bukan hanya untuk mengurangi sampah plastik yang dihasilkan. Yah, tanpa disadari, penggunaan sedotan plastik ternyata juga cukup berbahaya bagi tubuh. Hal ini juga yang mulai dihindari banyak orang saat ini. 

Senyawa kimia bahan sedotan plastik bisa berbahaya untuk kesehatan manusia. (Foto: Ilustrasi)

Menurut Priya Bharma selaku kepala ahli nutrisi dari Sri Balaji Action Medical Institute, penggunaan sedotan plastik bisa membahayakan kesehatan. 

"Orang-orang telah terbiasa menggunakan sedotan untuk minum minuman mereka karena lebih praktis dan mudah, entah minuman dingin atau panas. Dianjurkan untuk tidak menggunakan sedotan karena sedotan terbuat dari senyawa polietilen dan mengandung bahan kimia berbahaya yang masuk ke tubuh yang dapat menyebabkan timbulnya penyakit," jelas Priya dilansir dari Food NDTV (12/02) silam.

Sebagian besar sedotan plastik mengandung plastik berbasis minyak bumi yang disebut polypropylene dan Bisphenol A (BPA) yang dapat dengan mudah membasahi bahan kimia dalam cairan. Terutama jika sedotan digunakan dalam minuman panas yang dapat melelehkan plastiknya. Bahan kimia plastik ini diketahui dapat menyebabkan obesitas, dalam beberapa kasus bahkan dapat menyebabkan kanker.
 
BPA sendiri dapat ditemukan pada plastik polikarbonat dan resin epoksi. Plastik polikarbonat seringkali digunakan pada wadah untuk menyimpan makanan dan minuman, seperti botol air dan kemasan lainnya. Sedangkan resin epoksi digunakan untuk melapisi bagian dalam dari produk dengan logam, seperti kaleng makanan, tutup botol, dan pipa saluran air. Beberapa produk tambalan gigi dan komposit juga mengandung BPA.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa BPA dapat masuk ke dalam makanan dan minuman jika wadah yang digunakan mengandung BPA. BPA dikatakan meniru struktur dan fungsi hormon estrogen. Karena bentuknya yang menyerupai estrogen, BPA dapat dikaitkan dengan reseptor estrogen dan memengaruhi proses tubuh, seperti pertumbuhan, perbaikan sel, perkembangan janin, tingkat energi, dan reproduksi.

Selain itu, BPA juga mungkin memiliki kemampuan untuk berinteraksi dengan reseptor hormon lain seperti reseptor hormon tiroid, sehingga mengubah fungsi hormon tersebut. Jika tubuh Anda sensitif terhadap perubahan kadar hormon, inilah yang menjadi alasan mengapa kemampuan BPA meniru estrogen dapat memengaruhi kesehatan. 

Sementara itu, penggunaan plastik BPA juga dapat dikaitkan dengan masalah kesehatan lain seperti berikut:

1. Sindrom ovarium polikistik (PCOS)

2. Persalinan prematur

3. Asma

4. Gangguan fungsi hati

5. Gangguan fungsi kekebalan tubuh

6. Gangguan fungsi tiroid

7. Gangguan fungsi otak

Alternatif Pengganti Sedotan Plastik

Food and Drug Administration (FDA) pernah menyebut bahwa BPA aman pada jumlah yang sangat sedikit untuk beberapa makanan. Hasil penelitian ini diungkapkan berdasarkan penelitian yang beratus-ratus jumlahnya. Namun FDA terus mempelajari BPA, terutama dengan mendukung penelitian sebelumnya.

Namun kalau kamu ingin turut serta dalam gerakan mengurangi sampah sedotan plastik, ini saatnya untuk menolak menggunakannya dan beralih ke beberapa alternatif yang jauh lebih ramah pada lingkungan, seperti yang telah dirangkum di bawah ini:

1. Sedotan bambu

Sedotan berbahan dasar bambu yang ramah lingkungan dan juga cukup kuat. (Foto: Istimewa)

Bambu adalah sumber daya alam yang mudah diperbaharui dan punya banyak manfaat alami, termasuk menjadi alternatif sedotan. Ringan namun kuat, sedotan bambu dapat dipakai kembali, dapat terurai alami tanpa merusak lingkungan, dan tidak mengandung bahan kimia atau pewarna apapun. Sedotan bambu bisa dipakai untuk minuman hangat maupun dingin tanpa mengubah rasa minuman. 

2. Sedotan jerami

Sedotan berbahan jerami ini sangat ramah lingkungan karena terbuat dari bahan alam. (Foto: Istimewa)

Selain bambu, jerami alias the straw straw adalah alternatif sedotan ramah lingkungan dari bahan alam yang mulai banyak dilirik oleh restoran, kafe dan bar karena desainnya yang lebih sleek dibanding sedotan bambu. 

3. Sedotan kertas

Sedotan kertas mudah terurai usai digunakan. (Foto: Istimewa)

Sedotan dari bahan kertas bisa menjadi alternatif sedotan sekali pakai yang lebih baik daripada sedotan plastik karena jauh mudah terurai dan aman untuk lingkungan. Kelemahan sedotan kertas adalah ketika tercelup terlalu lama di air akan larut dan mudah robek.

4. Sedotan akrilik

Sedotan akrilik mempunyai warna yang menarik. (Foto: Istimewa)

Sedotan dari bahan akrilik juga bisa menjadi pilihan sedotan yang bisa dipakai ulang dengan warna yang menarik. Meskipun demikian, bahan akrilik bisa retak bila terjatuh atau dicuci berulang-ulang, jadi bila tidak hati-hati masa pemakaiannya pun tak terlalu lama.

5. Sedotan kaca

Sedotan kaca cukup cantik digunakan namun butuh ketelitian dalam menggunakannya agar tidak mudah pecah. (Foto: Twitter/ @MissHOTRODQueen)

Elegan dan sustainable, sedotan kaca pun punya banyak desain menarik dari beragam warna dan detail. Selain cantik, sedotan dari kaca umumnya bebas dari bahan BPA (bisphenol A), kimia industri yang sering dipakai dalam produk plastik dan resin. Pilih sedotan kaca yang terbuat dari kaca yang biasa dipakai untuk peralatan laboratorium dan Pyrex agar keamanan dan ketahanannya lebih terjamin. 

6. Sedotan silikon

Sedotan berbahan silikon bisa dipakai berulang kali dan aman untuk kesehatan. (Foto: Istimewa)

Sedotan dari bahan silikon bisa dipakai ulang, mudah dibersihkan dan seperti dot bayi, bisa direbus dengan air panas agar tetap steril. Bahan silikon yang tidak menghantarkan panas membuatnya aman untuk minuman hangat maupun dingin. Selain itu, bahan silikon yang empuk dan aman pun tidak akan merusak gigi sehingga cocok untuk anak kecil atau mereka yang hobi menggigiti sedotan. 

7. Sedotan logam

Sedotan terbuat dari logam lebih awet dan tahan lama. (Foto: Trubus.id/ Astri Sofyanti)

Sedotan dari bahan logam seperti besi anti karat dapat digunakan berulang kali, kuat, dan bisa dibawa kemana-mana tanpa takut patah. Pilihan bentuknya pun ada yang lurus maupun membengkok sesuai selera. Yang harus diperhatikan adalah jangan lupa mencuci dan mengeringkannya setelah dipakai untuk mencegah timbunan noda dan bakteri menempel. Biasanya sedotan metal dijual dalam bentuk set, yang sudah termasuk sikat pembersihnya. 

8. Botol minum isi ulang

Penggunaan botol minum yang bisa diisi ulang mulai menjadi tren hidup hijau saat ini. (Foto: Istimewa)

Memakai botol minuman atau gelas yang sudah dilengkapi penutup dan sedotan yang bisa dipakai berulang kali adalah cara paling mudah untuk menghindari sedotan plastik dan botol plastik sekaligus. Untuk menghindari bakteri, cuci botol setiap hari setelah digunakan dengan air hangat dan sedikit sabun. Gunakan sikat untuk menjangkau semua bagian dalam botol dan juga bagian mulut botol dan penutupnya. Lalu biarkan botol mengering dengan sendirinya setelah dibersihkan.

9. Tanpa sedotan

Minum tanpa sedotan bisa membantu mengurangi sampah. (Foto: Istimewa)  

Kalau dipikir lagi, kita sebetulnya tak terlalu membutuhkan sedotan setiap saat dan bisa meminum langsung dari wadahnya. Ada beberapa wadah dengan penutup yang memang didesain untuk menggunakan sedotan, namun beberapa brand pun telah menggunakan wadah dengan penutup yang tak butuh sedotan untuk meminum isinya. 

 

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          

KKP Hentikan Sementara SPWP Ekspor Benih Bening Lobster

Peristiwa   26 Nov 2020 - 17:29 WIB
Bagikan:          
Bagikan: