KLHK: Sampah Sedotan Plastik Tidak Didaur Ulang Karena Nilainya yang Rendah

TrubusNews
Binsar Marulitua
28 Juni 2018   16:15 WIB

Komentar
KLHK: Sampah Sedotan Plastik Tidak Didaur Ulang Karena Nilainya yang Rendah

Sampah sedotan. (Foto : Twitter/ @EHIndonesia)

Trubus.id -- Permasalahan sampah di Indonesia setiap tahunnya semakin bertambah serius seiring laju pertumbuhan penduduk. Bahkan negara dengan penduduk kurang lebih 262 juta jiwa ini, tercatat sebagai penghasil sampah plastik laut terbesar nomor dua di dunia setelah China.

Berdasarkan data dari penelitian yang dilakukan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), proyeksi timbulan sampah rumah tangga dan sampah sejenis sampah rumah tangga terus meningkat setiap tahunnya. Pada 2017, jumlah sampah mencapai 65,8 juta ton. Jumlah itu diproyeksi menjadi 66,5 juta ton pada tahun ini dan meningkat menjadi 67,8 juta ton pada 2020 dan 70,8 ton pada 2025.

Baca Lainnya : Kemenperin dan UNDP, Ajak Masyarakat Ikut Perangi Sampah Plastik

"Pada 2013, sampah plastik hanya berjumlah 14 persen. Empat tahun berselang sampah plastik meningkat menjadi 17 persen atau setara 10,35 juta ton. Dalam waktu empat tahun peningkatan sampah tumbuh 3 persen," jelas Direktur Pengelolaan Sampah KLHK, Sudirman, Kamis (28/6).

Sermentara itu, Direktur Jendral Pengelolaan Sampah, Limbah dan B3, KLHK, Rosa Vivien Ratnawati mengatakan, perkembangan teknologi dan gaya hidup mengakibatkan tendensi peningkatan sampah plastik meningkat sebesar 16-20%. Karena itu saat ini, pemerintah  menyiapkan penetapan cukai untuk produksi plastik.

Sesuai dengan Peraturan Presiden Nomor 97 tahun 2017, pengurangan sampah ditargetkan sebesar 30 persen atau setara 20,9 juta ton pada 2025. 

"Sekitar 70 persen sampah plastik di Indonesia dapat dan telah didaur ulang. Namun tidak dengan sedotan karena nilainya yang rendah dan sulit didaur ulang maka tidak ada pelaku daur ulang yang bersedia mengambil," jelas Vivien.

Ia menambahkan, rata rata setiap orang menggunakan sedotan sekali pakai sebanyak 1-2 kali setiap hari. Diperkirakan pemakaian sedotan di Indonesia setiap harinya mencapai 93.244.847 batang yang berasal dari restoran, minuman kemasan dan sumber lainnya (packed straw).

Baca Lainnya : Hari Lingkungan Hidup, KLHK Ajak Kelola Sampah Plastik Lebih Serius

Ukuran sedotan bermacam-macam. Namun umumnya sedotan berbahan plastik tipe polypropylene dan didesain untuk tahan seumur hidup sehingga butuh waktu lama untuk dapat hancur dan terurai.

"Fakta ini tentu sangat mengkhawatirkan dan berbahaya karena semakin lama keberadaaan di laut akan menjadi microbeads dan mudah termakan oleh hewan laut," tambahnya. [RN]

  

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: