Ini Penjelasan BMKG, Mengapa Hujan Masih Berpotensi Terjadi di Musim Kemarau

TrubusNews
Astri Sofyanti
25 Juni 2018   15:45 WIB

Komentar
Ini Penjelasan BMKG, Mengapa Hujan Masih Berpotensi Terjadi di Musim Kemarau

Ilustrasi (Foto : Istimewa/ Prfm)

Trubus.id -- Sejumlah wilayah di Indonesia seharusnya saat ini mulai memasuki musim kemarau. Namun begitu, di beberapa wilayah intensitas hujan masih cukup tinggi. Lantas mengapa hal tersebut masih terjadi?

“Pada saat musim kemarau, hujan dapat dimungkinkan terjadi jika kondisi atmosfer terpenuhi antara lain suplai uap airnya, kelembapan udara yang relatif masih tinggi,” kata Kepala Bagian Hubungan Masyarakat Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Harry Tirto Jatmiko kepada Trubus.id, Senin (25/6).

Baca Lainnya : Cuaca Ekstrem, Jogja Waspada Banjir dan Tanah Longsor

Lebih lanjut ia mengatakan, kondisi cuaca ekstrem beberapa hari belakangan di sejumlah wilayah, selain dipengaruhi dinamika cuaca lokal juga dipengaruhi oleh meningkatnya aktivitas cuaca. Tak hanya itu, kondisi ini juga didukung oleh indikasi aktifnya aliran massa udara basah yang lebih dikenal dengan fenomena skala regional Madden Julian Oscilation (MJO) atau fenomena gelombang atmosfer tropis. MJO ini kemudian merambat ke arah Timur dari Samudera Hindia sebelah Barat Sumatera yang masuk ke wil Indonesia bagian Barat dan Tengah

MJO memiliki siklus perambatan 30 hingga 90 hari, dan dapat bertahan pada suatu fase (lokasi perambatan yang digambarkan dalam kuadran) sekitar 3 sampai 10 hari.

“Saat ini fase basah (konvektif) MJO terpantau berada di wilayah Indonesia bagian Barat sehingga memberikan pengaruh dalam meningkatkan suplai uap air yang berkontribusi pada pembentukan awan hujan di wilayah Indonesia bagian barat hingga Indonesia bagian tengah,” tambahnya.

Menurutnya, kondisi tersebut juga berkaitan dengan berkembangnya daerah pusaran angin di sekitar wilayah Indonesia yang memicu pemusatan massa udara, daerah belokan dan perlambatan angin serta jalur pertemuan angin (konvergensi) yang bisa memicu pertumbuhan awan yang signifikan.

Karena itu, kondisi tersebut mempengaruhi pola cuaca di wilayah Indonesia dan dampaknya terjadi peningkatan potensi hujan lebat disertai petir dan angin kencang antara 25 sampai 28 Juni 2018.

Baca Lainnya : Meski Kemarau Tetap Waspadai Cuaca Ekstrem

Beberapa wilayah yang berpotensi mengalami hal ini meliputi Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Bangka Belitung, Lampung, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan, Maluku, serta Papua.

Untuk itu, Harry mengimbau masyarakat untuk tetap waspada dan berhati-hati terhadap dampak yang dapat ditimbulkan karena kondisi cuaca ini seperti banjir, tanah longsor, banjir bandang, genangan, angin kencang, pohon tumbang hingga jalan licin. [RN]

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Tiga Cagar Biosfer Indonesia Diakui UNESCO

Peristiwa   31 Okt 2020 - 14:05 WIB
Bagikan:          
Bagikan:          

Presiden Jokowi Ajak Pemuda Tekuni Pertanian

Peristiwa   31 Okt 2020 - 11:55 WIB
Bagikan: