Kemenperin dan UNDP, Ajak Masyarakat Ikut Perangi Sampah Plastik

TrubusNews
Syahroni
25 Juni 2018   09:00 WIB

Komentar
Kemenperin dan UNDP, Ajak Masyarakat Ikut Perangi Sampah Plastik

Ilustrasi (Foto : Instagram/ @mufariz88)

Trubus.id -- Permasalah sampah plastik bukan hanya menjadi permasalahan di Indonesia. Di luar negeri, masalah ini pun menjadi perhatian serius. Kerjasama banyak pihak dibutuhkan untuk mengatasi masalah ini.

Untuk itu lah, Kementerian Perindustrian bersama Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Pembangunan (United Nations Development Programme/UNDP) mengajak kepada seluruh pihak di Indonesia agar bisa saling bersinergi melakukan tindakan dalam mengurangi polusi plastik.

Baca Lainnya : Hari Lingkungan Hidup, KLHK Ajak Kelola Sampah Plastik Lebih Serius

Dalam pernyataan resminya, UNDP memperkirakan terdapat 13 juta ton sampah plastik yang terbuang ke lautan dan berdampak mengganggu lingkungan hidup di seluruh dunia setiap tahunnya.

Senior Programme Manager UNDP Indonesia, Anton Sri Probiyantono menyampaikan, risiko yang ditimbulkan polusi plastik terhadap lingkungan hidup dan kesehatan manusia telah mendorong masyarakat internasional untuk bertindak melalui gerakan global "Beat Plastic Pollution" dalam rangka peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia pada 5 Juni.

"Kami ingin mendorong semua orang untuk mulai melakukan sesuatu yang sederhana dalam kehidupan sehari-hari untuk menyelamatkan lingkungan hidup," ujarnya.

Sementara itu, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Kemenperin, Ngakan Timur Antara dalam keterangan resminya di Jakarta, Minggu (24/6) menuliskan, penanganan sampah plastik ini merupakan tanggung jawab bersama baik pemerintah, swasta, dan masyarakat. 

Baca Lainnya : Indonesia Siap Memimpin Pengendalian Sampah dan Mikroplastik Asia Tenggara

Menurutnya, secara garis besar dapat dilakukan tiga cara dalam upaya menekan sampah plastik, yaitu meminimalisir penggunaan produk berbahan plastik sekali pakai, menggunakan material alternatif yang lebih mudah terurai, dan melakukan daur ulang sampah plastik menjadi barang bernilai ekonomi.

"Untuk mengurangi sampah kantong plastik, sebenarnya penggunaan plastik urai hayati (biodegradable plastic) bisa menjadi salah satu solusi. Namun itu belum begitu popular di kalangan non-retail, karena harganya dianggap masih relatif lebih mahal jika dibandingkan dengan plastik konvensional," ungkapnya.

Kendati demikian, lanjut Ngakan, tidak hanya teknologi biodegradable plastik saja yang menjanjikan perubahan pola konsumsi plastik di masyarakat, namun juga kemasan siap makan (edible coating) mulai berkembang digunakan.

Baca Lainnya : Demi Indonesia Bebas Sampah Plastik 2020, Sulut Realisasikan Program Unik

Ngakan meyakini bahwa akan lebih banyak teknologi di masa depan yang dapat membantu memecahkan masalah plastik, namun demikian memasukkan plastik ke dalam circular economy merupakan salah satu solusi tercepat saat ini.

"Contoh sederhana peran masyarakat dalam circular economy tersebut adalah dengan membawa kemasan sisa produk atau produk yang tidak terpakai ke dalam collecting point," jelasnya. [RN]

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan: