Ini Tanggapan Petani Terkait Program Kewirausahaan dan Digitalisasi Pertanian

TrubusNews
Ihsan Maulana
08 Juni 2018   20:45 WIB

Komentar
Ini Tanggapan Petani Terkait Program Kewirausahaan dan Digitalisasi Pertanian

Ilustrasi (Foto : Istimewa)

Trubus.id -- Presiden RI, Joko Widodo (Jokowi) menyambangi Kabupaten Indramayu, Kamis (7/6) kemarin. Dalam kunjungannya, Jokowi menyampaikan beberapa program pertanian yang mampu meningkatkan kesejahteraan para petani di wilayah itu.

Beberapa program yang diunggulkan adalah kewirausahaan petani serta digitalisasi pertanian. Menanggapi hal itu, para petani di Kabupaten Indramayu pun menyambut baik upaya pemerintah itu. Mereka senang karena dengan program yang ditawarkan, mereka bisa menjual hasil tani mereka dengan harga yang lebih tinggi.

Baca Lainnya : Presiden Jokowi: Digitalisasi Pertanian Bisa Tingkatkan Kesejahteraan Petani

"Tentu kami sangat senang dengan program yang ditawarkan pemerintah saat ini. Dimana kami akhirnya bisa menjual hasil tani dengan harga lebih tinggi," ungkap Taslan (46), seorang petani asal Kabupaten Indramayu, Jumat (8/6).

Ia menjelaskan, upaya pemerintah terjun ke masyarakat dengan memberikan program yang baik bisa meningkatkan kesejahteraan mereka. Ia sendiri mengaku, saat ini para petani masih menjual hasil tani berupa gabah dengan harga yang tidak menentu. Karena itu Taslan berharap, dengan adanya program Mitra Badan Usaha Milik Desa Bersama (MBB) Sliyeg, petani bisa lebih sejahtera. 

Dalam kesempatan yang sama, Wakil Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kabupaten Indramayu, Sutatang memberikan apresiasi terhadap langkah pemerintah, yang telah membuat perusahaan untuk para petani melalui MBB. Karena itu ia berharap MBB bisa didirikan disemua kecamatan yang ada di Indramayu.

"Jika ini tujuannya untuk mensejahterakan petani, kami sangat mengapresiasi dan berharap supaya bisa didirikan di seluruh Indramayu," imbuhnya.

Baca Lainnya : Ini Kata Menteri BUMN Soal Program Kewirausahaan Petani dan Digitalisasi Pertanian

Sutatang menambahkan, sampai saat ini petani di wilayahnya sangat tergantung pada juragan atau tengkulak, ketika menjual hasil panen. Kaum petani juga dirasa sebagai objek ketidakpastian harga, baik harga jual yang sering ditekan oleh tengkulak, atau harga produksi dalam penananam padi.

"Bayangkan saja kita itu kalau menjual hasil panen cendrung murah, tapi kalau membeli pupuk atau biaya produksi malah tinggi sekali. Itulah masalah petani," tandasnya. [RN]

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: